JAKARTA, PARLE.CO.ID — Kabar mengejutkan datang dari Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono. Di tengah suasana duka upacara persemayaman tiga korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Menteri Trenggono dilaporkan jatuh pingsan akibat kelelahan fisik yang ekstrem.
Kondisi Sakti Wahyu Trenggono Kini Stabil di RSCM Usai Dampingi Lawatan Presiden Prabowo dari London hingga Davos
Insiden tersebut terjadi saat Trenggono hadir langsung untuk memberikan penghormatan terakhir kepada para korban yang ditemukan di Gunung Bulusaraung. Namun, dedikasi tinggi tersebut harus dibayar dengan kondisi kesehatan yang menurun mendadak di lokasi upacara.
Faktor Kelelahan Akibat Agenda Internasional yang Padat
Staf Khusus Menteri KKP, Dodi Ismanto, mengonfirmasi bahwa pingsannya sang Menteri disebabkan oleh akumulasi kelelahan pasca-perjalanan dinas luar negeri yang sangat padat. Trenggono diketahui baru saja kembali ke tanah air setelah mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke London (Inggris) dan Davos (Swiss).
“Beliau terus memantau perkembangan evakuasi dari Eropa. Begitu mendarat dan korban ditemukan, beliau langsung ingin mendampingi keluarga sebagai bentuk solidaritas, meski kondisi fisik sebenarnya sedang tidak bugar,” jelas Dodi kepada awak media, Minggu (25/1).
Kondisi Terkini: Sudah Sadar dan Siap Kembali Bertugas
Setelah mendapatkan penanganan darurat di lokasi, Menteri Trenggono segera dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta untuk observasi lebih lanjut. Kabar terbaru menyebutkan kondisinya telah stabil dan berangsur membaik.
-
Status Kesehatan: Sadar sepenuhnya dan stabil.
-
Rencana Kerja: Dipastikan akan kembali menjalankan rutinitas di kantor pada Senin (26/1).
-
Pesan Staf Khusus: “Kelelahan ini bersifat sementara. Bapak sangat menghargai momen duka ini, sehingga tetap memaksakan hadir demi menghormati almarhum,” tambah Dodi.
Risiko “Jet Lag” dan Kelelahan Pejabat Negara
Secara medis, perjalanan udara jarak jauh lintas benua seperti dari Davos (Swiss) ke Jakarta melibatkan perbedaan waktu yang signifikan (sekitar 6 jam) dan durasi penerbangan lebih dari 15 jam. Kondisi ini sering memicu extreme fatigue atau kelelahan hebat yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah secara mendadak (sinkop), terutama jika langsung beraktivitas berat di lapangan tanpa istirahat yang cukup. (P-01)

