Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.386 per dolar AS akibat kebuntuan perundingan damai AS-Iran dan kenaikan harga minyak dunia. Simak analisis lengkapnya.
JAKARTA, PARLE.CO.ID– Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada perdagangan Senin pagi, (11/5/2026). Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dilaporkan menemui jalan buntu.
Dikutip dari laporan Antara, rupiah tercatat merosot tipis 4 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.386 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.382 per dolar AS. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kondisi ini searah dengan menguatnya dolar dan harga minyak mentah dunia.
Kebuntuan ini bermula saat Iran menolak proposal perdamaian dari Washington. Mengutip laporan Sputnik, Teheran menganggap tuntutan AS dalam proposal tersebut “berlebihan”.
Kantor berita Iran, ISNA, melaporkan bahwa respons Iran sebenarnya difokuskan pada penghentian konflik serta jaminan keamanan pelayaran di wilayah strategis Teluk Persia dan Selat Hormuz. Namun, Presiden AS Donald Trump menilai jawaban Iran tersebut sama sekali tidak dapat diterima.
Berdasarkan informasi dari Tasnim dan Press TV, Iran mengajukan syarat berat dalam perundingan lanjutan, di antaranya:
-
Pencabutan sanksi ekonomi secara menyeluruh.
-
Pemberian kontrol penuh kepada Iran atas Selat Hormuz.
-
Pembukaan kembali aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
-
Tuntutan kompensasi atas kerugian akibat perang kepada Teheran.
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi rilis data survei kepercayaan konsumen yang diperkirakan akan turun menjadi 122 dari angka sebelumnya 122,9.
Dengan akumulasi sentimen tersebut, rupiah diprediksi akan terus bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS sepanjang hari ini.
Analisis: Catatan Ekonomi Lukman Leong
Berdasarkan situasi terkini, terdapat beberapa poin krusial yang mempengaruhi posisi nilai tukar rupiah:
Risiko Energi Global: Penolakan Iran terhadap proposal damai meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak dunia secara otomatis menekan rupiah karena meningkatkan beban impor migas nasional.
Safe Haven Dolar AS: Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong investor menarik modal dari pasar negara berkembang (emerging markets) dan beralih ke aset aman seperti dolar AS, yang memperparah depresiasi rupiah.
Sentimen Psikologis Konsumen: Prediksi penurunan indeks kepercayaan konsumen menunjukkan adanya keraguan pelaku pasar domestik terhadap stabilitas ekonomi dalam waktu dekat, sehingga daya tarik investasi di pasar uang dalam negeri sedikit meredup. ***

