Opini Bambang Soesatyo mengenai urgensi hilirisasi fase II senilai Rp 116 triliun sebagai motor penggerak pembangunan nasional di tengah ketidakpastian global.
Oleh: Bambang Soesatyo (Anggota DPR RI / Ketua MPR RI ke-15)
JAKARTA, PARLE.CO.ID — Di tengah tatanan global yang didera ketidakpastian dan eskalasi ketegangan geopolitik, Indonesia patut bersyukur. Saat arah perekonomian dunia terlihat tak menentu, urat nadi pembangunan nasional kita terbukti masih dan terus berdetak kencang. Realisasi belasan proyek hilirisasi Fase II pada April 2026 menjadi bukti otentik bahwa pembangunan nasional tidak mengalami stagnasi.
Kita tidak boleh menutup mata terhadap tantangan nyata di depan telinga: defisit anggaran, menurunnya penerimaan negara, hingga gelembung utang luar negeri dan angka pengangguran. Belum lagi tekanan eksternal seperti fluktuasi nilai tukar valuta dan harga energi yang menggoyang biaya produksi serta distribusi. Dampaknya jelas, daya beli konsumen melemah. Namun, di titik inilah konsistensi pembangunan diuji.
Peresmian 13 proyek hilirisasi nasional Fase II senilai Rp 116 triliun oleh Presiden Prabowo Subianto pada 29 April 2026 di Cilacap, Jawa Tengah, bukan sekadar seremonial. Ini adalah refleksi harapan dan pertanda modernisasi ekonomi negara. Proyek-proyek ini mencakup sektor energi, mineral, hingga pertanian yang akan memperkuat ekosistem industri dalam negeri secara masif.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari Fase I yang telah meluncur awal tahun 2026 dengan enam proyek strategis senilai Rp 118 triliun. Fokusnya jelas: transformasi ekonomi dan memutus rantai ketergantungan pada impor. Pemerintah sendiri menargetkan total 30 proyek hilirisasi dengan total investasi mencapai Rp 239 triliun yang tersebar dari Sumatera hingga Papua.
Tentu muncul pertanyaan kritis: kapan masyarakat bisa menikmati nilai tambah dari ratusan triliun investasi ini? Kuncinya ada pada daya serap tenaga kerja. Realisasi proyek hilirisasi harus segera ditindaklanjuti dengan transparansi kebutuhan pekerja dan kualifikasi yang dibutuhkan.
Orang muda usia kerja harus berani proaktif bertanya, dan pemerintah wajib membuka ruang dialog. Pengumuman lowongan kerja di belasan proyek yang tersebar di berbagai daerah ini akan menjadi pesan kuat bahwa pemerintah fokus pada kegiatan produktif. Ini adalah undangan terbuka bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam merawat konsistensi pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Target 30 proyek hilirisasi ini juga merupakan peluang emas bagi Pemerintah Daerah (Pemda). Sudah saatnya daerah tidak hanya menunggu, tetapi kreatif mengenali potensi kekayaan alamnya untuk ditawarkan masuk dalam skema hilirisasi pusat. Kreativitas Pemda dalam memaksimalkan potensi lokal adalah kunci bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
Menjaga momentum pembangunan di tengah polarisasi sosial yang tajam adalah tantangan, namun fokus pada keberlanjutan ekonomi adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Hilirisasi adalah bukti bahwa Indonesia tidak sedang jalan di tempat.
Analisis: Catatan Politik Bamsoet
Melalui opini ini, Bambang Soesatyo (Bamsoet) memberikan penekanan strategis pada beberapa poin penting dalam lanskap politik-ekonomi Indonesia saat ini:
Hilirisasi sebagai “Penyelamat” Stabilitas: Bamsoet menegaskan bahwa di tengah bayang-bayang PHK dan melemahnya daya beli, proyek strategis nasional (PSN) seperti hilirisasi adalah instrumen utama untuk mencegah stagnasi ekonomi. Secara politik, ini adalah dukungan kuat terhadap keberlanjutan kebijakan ekonomi dari era sebelumnya ke pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menjembatani Kesenjangan Komunikasi: Ada sorotan tajam pada perlunya dialog antara pemerintah dan angkatan kerja muda. Bamsoet melihat adanya potensi “mis komunikasi” jika nilai investasi triliunan rupiah tidak segera diterjemahkan ke dalam angka ketersediaan lapangan kerja yang konkret di daerah.
Sentralisasi Ide, Desentralisasi Eksekusi: Bamsoet mendorong Pemda untuk “menjemput bola”. Analisisnya menunjukkan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan pusat (top-down), tetapi memerlukan proaktifitas daerah (bottom-up) agar manfaat ekonomi tidak hanya terkumpul di satu titik, melainkan merata dari Jawa hingga Papua.
Pesan Persatuan di Tengah Polarisasi: Narasi “merawat konsistensi pembangunan” digunakan Bamsoet sebagai alat pemersatu di tengah keterbelahan masyarakat. Ia memposisikan pembangunan ekonomi sebagai common ground (titik temu) yang harus didukung oleh semua komunitas, terlepas dari perbedaan pandangan politik. ****

