BerandaUncategorizedEkonom Nilai, Purbaya Jawab Mitos dan Bawa Harapan Baru untuk Perekonomian Indonesia

Ekonom Nilai, Purbaya Jawab Mitos dan Bawa Harapan Baru untuk Perekonomian Indonesia

Published on

spot_img

JAKARTA, PARLE.CO.ID— Pengamat ekonomi dari Prasasti Center, Piter Abdullah, menilai kehadiran Menteri Keuangan (Mekeu) Purbaya Yudhi Sadewa membuka harapan baru bagi perekonomian Indonesia yang tengah menghadapi tantangan likuiditas kering dan lemahnya penyaluran kredit. Ia mengatakan Purbaya berhasil menjawab keraguan pasar yang biasanya muncul setiap kali terjadi pergantian menteri keuangan.

“Biasanya gejolak pasar selalu ada, tapi kali ini dalam waktu singkat pasar kembali normal. Itu menunjukkan kepemimpinan Pak Purbaya bisa meredakan ketidakpastian,” ujar Piter dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk “Menteri Keuangan Baru, Harapan Baru Menata Ekonomi Indonesia”, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (18/9/2025).

Piter menilai langkah Purbaya menepis mitos bahwa posisi Menteri Keuangan tak tergantikan, khususnya setelah Sri Mulyani Indrawati menjabat lebih dari satu dekade. Menurutnya, meski disiplin fiskal menjadi pencapaian utama Sri Mulyani, tidak ada terobosan signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Selama sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi kita tidak pernah mencapai target meski ruang fiskal terbuka. Itu sebabnya saya mengkritisi kebijakan Sri Mulyani. Kita butuh menteri keuangan yang berani mengambil langkah ekspansif,” kata Piter.

Keringnya Likuiditas Perekonomian

Ia juga menyoroti kondisi ‘keringnya’ likuiditas perekonomian nasional. Berdasarkan data, rasio M2 terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hanya sekitar 40 persen, jauh tertinggal dibanding Malaysia dan Thailand yang mencapai 125 persen, atau Tiongkok dan Jepang di atas 200 persen.

“Perbankan kita likuid, tapi enggan menyalurkan kredit. Inilah yang menyebabkan perekonomian kita seperti halaman kering dengan kolam penuh air di tengahnya,” ungkap Piter.

Kebijakan Purbaya memindahkan dana pemerintah dari Bank Indonesia (BI) ke perbankan dinilai sebagai langkah awal yang positif. Namun, Piter menekankan efektivitasnya bergantung pada keberanian bank menyalurkan kredit serta dukungan kebijakan moneter dan sektoral.

“Dengan suku bunga acuan BI turun ke 4,75 persen, ditambah deregulasi di sektor riil, potensi permintaan kredit baru bisa meningkat. Meski tantangan besar masih menanti, saya optimis kehadiran Pak Purbaya memunculkan harapan baru. Yang dibutuhkan kini adalah sinkronisasi kebijakan moneter, fiskal, dan sektoral agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi,” tutupnya. ***

Media kami tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Jika Anda merasa analisis kebijakan di artikel ini bermanfaat, bantu kami tetap independen dengan berdonasi mulai dari Rp10.000.

Latest articles

AI dalam Dunia Hukum Semakin Tak Terhindarkan

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi (Anggota Panja Artificial Intelligence (AI) BKSAP DPR RI dari...

566 Penerima MBG Diduga Keracunan di Sidoarjo, Abidin Fikri Desak BGN Evaluasi Total

Insiden dugaan keracunan yang menimpa ratusan penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok...

Restorasi Desa Adat Sade Dimulai, Fahri Hamzah: Bentuk Asli Rumah Adat Jadi Prioritas Pemerintah

Pemerintah memastikan rencana restorasi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak...

Fahri Hamzah Desak BPS Benahi Data Backlog Rumah, Soroti Lesunya Daya Serap Pasar

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah mendesak Badan Pusat Statistik (BPS)...

More like this

AI dalam Dunia Hukum Semakin Tak Terhindarkan

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi (Anggota Panja Artificial Intelligence (AI) BKSAP DPR RI dari...

566 Penerima MBG Diduga Keracunan di Sidoarjo, Abidin Fikri Desak BGN Evaluasi Total

Insiden dugaan keracunan yang menimpa ratusan penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok...

Restorasi Desa Adat Sade Dimulai, Fahri Hamzah: Bentuk Asli Rumah Adat Jadi Prioritas Pemerintah

Pemerintah memastikan rencana restorasi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak...