Presiden Prabowo dan Presiden Korsel Lee Jae Myung sepakati kemitraan strategis komprehensif mulai dari pertahanan, ekonomi, hingga teknologi AI di Seoul.
SEOUL, PARLE.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan resmi memasuki babak baru. Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyepakati peningkatan status hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Istana Kepresidenan Blue House, Seoul, Rabu (1/4/2026).
Dikutip dari laporan ANTARA melalui Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Presiden, kesepakatan ini mencakup berbagai sektor krusial, mulai dari penguatan ekonomi, industri pertahanan, hingga integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Peningkatan hubungan bilateral kita menjadi kemitraan strategis komprehensif khusus mencerminkan visi bersama yang mendalam dan mengikat kedua negara kita,” ujar Presiden Prabowo.
Salah satu poin utama dalam pertemuan di Blue House tersebut adalah penguatan industri manufaktur militer. Kedua pemimpin sepakat untuk memperdalam kolaborasi di sektor pertahanan, termasuk pengembangan galangan kapal. Langkah ini bertujuan membangun kekuatan maritim yang lebih tangguh guna menghadapi tantangan keamanan di kawasan regional.
Presiden Lee Jae Myung menekankan bahwa perluasan kolaborasi ini didasarkan pada tingkat kepercayaan (trust) yang sangat tinggi antara Jakarta dan Seoul.
Di bidang teknologi mutakhir, Indonesia dan Korea Selatan sepakat untuk melakukan integrasi big data milik Indonesia dengan keunggulan teknologi AI milik Korea Selatan. Kolaborasi ini diarahkan untuk mempercepat transformasi digital serta mencari solusi atas berbagai tantangan kemanusiaan di kedua negara.
“Presiden Prabowo dan saya memiliki kesamaan pandangan bahwa kebahagiaan dan kemakmuran masyarakat adalah prioritas utama,” tegas Presiden Lee.
Dalam sektor ekonomi, Korea Selatan berkomitmen untuk terus mendorong perusahaan nasionalnya berpartisipasi dalam proyek-proyek strategis di Indonesia. Presiden Lee secara khusus mengapresiasi dukungan Pemerintah Indonesia dalam menjaga iklim investasi yang kondusif bagi korporasi asal Negeri Ginseng tersebut.
Presiden Prabowo menilai bahwa kesamaan sejarah dalam meraih kemerdekaan menjadi modalitas kuat bagi kedua bangsa untuk terus bersinergi dalam jangka panjang di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Analisis Redaksi Parle.co.id: Pergeseran Kebijakan
Pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Lee Jae Myung di Seoul ini menandai pergeseran arah kebijakan luar negeri Indonesia yang semakin pragmatis dan berorientasi pada teknologi masa depan. Analisis kami melihat bahwa pemilihan Korea Selatan sebagai mitra “Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus” adalah langkah cerdas untuk mengurangi ketergantungan teknologi pada blok Barat maupun Tiongkok.
Sektor pertahanan, khususnya galangan kapal, menjadi poin paling sensitif sekaligus menjanjikan. Dengan latar belakang Prabowo sebagai mantan Menteri Pertahanan, kerja sama ini kemungkinan besar akan berfokus pada transfer teknologi (ToT) yang nyata, bukan sekadar pembelian alutsista.
Selain itu, ambisi mengawinkan big data Indonesia dengan AI Korea Selatan menunjukkan bahwa pemerintah menyadari potensi aset data nasional yang besar namun belum terolah maksimal. Jika integrasi ini berhasil, Indonesia bisa melompati tahapan birokrasi digital konvensional menuju pemerintahan berbasis AI yang lebih efisien. Namun, tantangan utama tetap pada perlindungan kedaulatan data nasional saat proses integrasi tersebut dilakukan dengan pihak asing. ****

