BerandaOpiniAnalisis: Ketahanan Fiskal di Tengah Badai Geopolitik, Mampukah RI Bertahan?

Analisis: Ketahanan Fiskal di Tengah Badai Geopolitik, Mampukah RI Bertahan?

Published on

spot_img

Analisis Tim Litbang Parle.co.id mengenai ketahanan APBN Indonesia di tengah kenaikan harga minyak dunia dan konflik geopolitik global 2026.

Oleh: Tim Litbang  Parle.co.id

JAKARTA, PARLE.CO.ID — Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai ketahanan anggaran hingga level harga minyak $92 per barel membawa angin segar di tengah mendidihnya tensi Amerika Serikat dan Iran. Namun, Tim Litbang Redaksi Parle.co.id melihat ada beberapa variabel krusial yang perlu diperhatikan di balik optimisme tersebut.

1. Ambang Batas Psikologis $92 Per Barel

Angka 92 dolar AS yang disebutkan Menkeu merupakan “benteng pertahanan” fiskal yang cukup berani. Jika harga minyak mentah melampaui angka tersebut dalam jangka waktu lama, pemerintah akan dihadapkan pada dua pilihan sulit:

  • Menambah subsidi energi (yang akan memperlebar defisit).
  • Melakukan penyesuaian harga BBM domestik (yang berisiko memicu inflasi).

2. Strategi “Zero Leakage” pada Pajak dan Bea Cukai

Langkah Menkeu yang menekankan pada pengumpulan pajak dan bea cukai tanpa bocor adalah strategi internal bracing. Di saat faktor eksternal (harga minyak dan distribusi) sulit dikendalikan, memperkuat “kantong kanan” (penerimaan) adalah cara paling logis untuk menutup potensi lubang di “kantong kiri” (pengeluaran impor energi). Efektivitas digitalisasi perpajakan akan diuji sepenuhnya di tahun 2026 ini.

3. Domestic Demand: Perisai Utama Ekonomi RI

Litbang Parle.co.id sepakat bahwa ketergantungan ekonomi Indonesia yang rendah terhadap ekspor (hanya sekitar 10-15% dari PDB) adalah berkah di masa krisis global. Selama konsumsi rumah tangga tetap terjaga, mesin ekonomi nasional akan tetap berputar. Namun, kuncinya adalah menjaga daya beli masyarakat agar tidak tergerus oleh potensi kenaikan biaya logistik akibat gangguan jalur laut internasional.

Kesimpulan Tim Litbang

Optimisme pemerintah cukup beralasan, namun bersifat conditional (bersyarat). Indonesia memiliki bantalan fiskal yang cukup, tetapi manajemen stok energi nasional dan efisiensi birokrasi dalam pemungutan pendapatan negara akan menjadi penentu apakah kita sekadar survive atau tetap bisa advance di tahun 2026. ****

 

 

Media kami tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Jika Anda merasa analisis kebijakan di artikel ini bermanfaat, bantu kami tetap independen dengan berdonasi mulai dari Rp10.000.

Latest articles

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo Terjaring OTT KPK, Uang Rp 1 Miliar Disita

Jakarta, parle — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalam...

FWK KRITIK PENANGANAN KARHUTLA KURANG SERIUS, KALSEL MERASA JADI ANAK TIRI, MASYARAKAT MULAI FRUSTASI

Jakarta, Perle ---Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) menilai pemerintah kurang serius dan sistematis dalam menanggani...

Membaca Arah Operasi Senyap Prabowo

Oleh: Wartawan Senior Suherman Saleh* parle.co.id - Operasi politik tidak selalu berlangsung di panggung terbuka....

Ketua SMSI Babel Bardian Turun Langsung Bantu Korban Kebakaran 600 Rumah di Bangka Selatan

Ketua SMSI Babel Bardian (Foto : Ist) Bangka Selatan, Asatu Online – Ketua Serikat Media...

More like this

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo Terjaring OTT KPK, Uang Rp 1 Miliar Disita

Jakarta, parle — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalam...

FWK KRITIK PENANGANAN KARHUTLA KURANG SERIUS, KALSEL MERASA JADI ANAK TIRI, MASYARAKAT MULAI FRUSTASI

Jakarta, Perle ---Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) menilai pemerintah kurang serius dan sistematis dalam menanggani...

Membaca Arah Operasi Senyap Prabowo

Oleh: Wartawan Senior Suherman Saleh* parle.co.id - Operasi politik tidak selalu berlangsung di panggung terbuka....