Eropa dilanda krisis energi hebat akibat lumpuhnya Selat Hormuz dan perang di Timur Tengah. Harga minyak Brent tembus US$119, Jerman hingga Spanyol ambil langkah darurat.
BRUSSELS, PARLE.CO.ID – Ketegangan militer di Timur Tengah yang melibatkan serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, serta aksi balasan dari Teheran, telah memicu krisis energi terdalam di daratan Eropa. Penutupan efektif Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia menyebabkan aliran pasokan terhenti total dan mengguncang stabilitas ekonomi global.
Sejak serangan udara dimulai pada 28 Februari lalu, harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan melonjak hingga menyentuh angka US$119 per barel. Kondisi ini diperparah dengan serangan balasan Teheran terhadap fasilitas energi di Qatar, salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.
Kekurangan pasokan energi telah mendorong harga bahan bakar di pompa bensin melampaui ambang batas €2 (sekitar US$2,32) per liter di sejumlah negara Eropa. Di Jerman, kenaikan harga yang drastis ini mulai memicu keresahan sosial, sementara sektor industri yang padat energi terseok-seok untuk tetap beroperasi.
Menanggapi situasi darurat ini, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mendesak negara-negara anggota untuk mengambil tindakan nyata. Ia menegaskan bahwa intervensi harga harus bersifat sementara, tepat sasaran, dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara.
Berbagai pemerintah di Eropa mulai menerapkan kebijakan drastis untuk melindungi konsumen dan amankan pasokan:
-
Jerman: Berlin memperketat pengawasan pasar dan hanya mengizinkan pom bensin mengubah harga satu kali sehari pada tengah malam untuk memudahkan pelacakan harga oleh warga.
-
Italia: Perdana Menteri Giorgia Meloni memberikan potongan pajak sebesar €0,25 per liter dan meluncurkan mekanisme pemantauan spekulasi harga.
-
Prancis: Fokus pada bantuan langsung case-by-case untuk sektor kritis seperti transportasi dan perikanan, mengingat utang publik negara tersebut sudah mencapai 117% dari PDB.
-
Spanyol: Pemerintahan Pedro Sanchez menyetujui paket bantuan masif senilai US$5,8 miliar, termasuk penurunan PPN energi dari 21% ke 10% serta subsidi langsung bagi petani dan nelayan.
-
Inggris: Regulator energi Ofgem diperkirakan akan menaikkan batas atas harga tahunan menjadi US$2.882 pada Juli mendatang akibat tekanan pasar.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut situasi ini sebagai salah satu krisis energi terdalam yang pernah ada. IEA menyerukan langkah-langkah penghematan radikal kepada publik, seperti bekerja dari rumah (WFH) atau mengurangi kecepatan berkendara demi menekan konsumsi minyak.
Di Eropa Timur, negara-negara seperti Hongaria, Kroasia, dan Albania memilih untuk melakukan kebijakan price cap (batas atas harga) secara langsung guna meredam laju inflasi yang tak terkendali.
Sumber: Anadolu Agency

