JAKARTA, PARLE.CO.ID — Pemerintah menghadapi tantangan berat dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 di tengah dinamika global yang terus berubah. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, APBN harus tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong kesejahteraan masyarakat, tanpa mengorbankan kredibilitas fiskal.
“APBN 2025 sangat menantang. Karena itu, kami terus mengoptimalkan peran APBN untuk mendukung pembangunan nasional, sekaligus tetap menjaganya agar sehat dan kredibel,” ujar Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Senayan, Selasa (1/7/2025).
Dalam laporan realisasi semester I dan prognosis semester II APBN 2025, Sri Mulyani menekankan bahwa APBN berperan sebagai peredam kejut (shock absorber) terhadap tekanan global. Selain menjaga stabilitas ekonomi, APBN juga diarahkan untuk mempertahankan daya beli masyarakat dan memperkuat program pembangunan prioritas nasional.
“APBN secara konsisten mendukung program prioritas seperti MBG, revitalisasi sekolah, layanan kesehatan gratis, sekolah rakyat, hingga koperasi desa Merah Putih,” jelasnya.
Pemerintah, kata Menkeu, tetap menjaga disiplin fiskal dengan menetapkan defisit sebesar 2,78 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kebijakan ini bersifat countercyclical untuk memberi ruang fiskal dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Sri Mulyani juga menyoroti pentingnya sinergi belanja antara pemerintah pusat dan daerah. Ia menyebut, pengelolaan anggaran yang harmonis dan akuntabel menjadi kunci efektivitas belanja publik.
“Dengan tata kelola fiskal yang baik dan sinergis, APBN akan terus menjadi fondasi utama dalam mendorong kesejahteraan rakyat,” tegasnya. ***

