WASHINGTON, D.C., PARLE.CO.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tiba-tiba membatalkan rencana pelonggaran sanksi terhadap Iran, hanya beberapa hari setelah kedua negara menyatakan dukungan terhadap gencatan senjata antara Iran dan Israel. Keputusan itu diambil menyusul pernyataan pedas dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang mengklaim negaranya menang dalam konflik 12 hari dengan Israel.
Dalam pernyataan di platform Truth Social, yang dikutip Sabtu (28/6/2025), Trump mengaku awalnya tengah mempertimbangkan pencabutan sejumlah sanksi untuk memberikan “peluang pemulihan penuh” bagi Iran. Namun niat tersebut dibatalkan setelah Khamenei melontarkan komentar yang disebut Trump sebagai “penuh kemarahan, kebencian, dan jijik”.
“Iran harus kembali ke aliran tatanan dunia, atau keadaan akan semakin buruk bagi mereka. Saya berharap kepemimpinan Iran menyadari bahwa seringkali Anda mendapatkan lebih banyak dengan madu daripada dengan cuka,” kata Trump.
Sikap keras Trump ini mempertegas bahwa konflik diplomatik antara Washington dan Teheran belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meski perang langsung antara Iran dan Israel telah dihentikan melalui gencatan senjata awal pekan ini.
Trump sebelumnya sempat menyatakan bahwa Tiongkok diperbolehkan membeli minyak dari Iran, yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai sinyal pelonggaran sanksi. Namun, pejabat Gedung Putih kemudian membantah bahwa pernyataan tersebut berarti ada perubahan dalam kebijakan resmi Amerika terhadap Republik Islam Iran.
Batasi Kewenangan Militer Trump
Sementara itu, upaya fraksi Demokrat di Senat untuk membatasi kewenangan militer Trump terkait Iran gagal dalam pemungutan suara Jumat malam. Resolusi yang diajukan oleh Senator Tim Kaine ditolak dengan suara 53-47. Senator Rand Paul dari Partai Republik menjadi satu-satunya dari kubunya yang mendukung, sementara Senator John Fetterman dari Partai Demokrat justru memilih menolak.
Trump sebelumnya juga mengklaim bahwa perundingan nuklir antara AS dan Iran akan dilanjutkan pekan depan dan “mungkin” berujung pada kesepakatan baru. Namun, klaim tersebut dibantah langsung oleh otoritas di Teheran.
Khamenei, dalam video pidato perdananya setelah gencatan senjata berlaku, menyebut Iran telah “keluar sebagai pemenang dan memberikan pukulan telak ke wajah Amerika.” Narasi ini dinilai sebagai bentuk propaganda domestik, namun juga berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut di tingkat diplomatik.
Meski gencatan senjata tetap bertahan, beberapa pelanggaran sempat terjadi di hari-hari awal. Ketegangan yang belum reda ini memperbesar kekhawatiran bahwa konflik bisa kembali memanas kapan saja, terutama jika komunikasi diplomatik antara Teheran dan Washington kembali buntu. ***

