Serangan udara Israel di Lebanon tewas sedikitnya 28 orang, termasuk 13 personel keamanan negara di Nabatieh. Simak detail eskalasi terbaru di sini.
BEIRUT, PARLE.CO.ID – Situasi di Lebanon semakin mencekam setelah rentetan serangan udara Israel menghantam berbagai wilayah pada Jumat (10/4/2026). Laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon dan kantor berita resmi NNA menyebutkan sedikitnya 28 orang tewas, termasuk delapan personel keamanan dalam tragedi tersebut.
Dikutip dari Anadolu Agency, salah satu serangan paling mematikan terjadi di Nabatieh. Serangan yang menyasar area dekat kompleks pemerintah dan kantor Keamanan Negara (State Security) itu menyebabkan kehancuran luas dan menewaskan 13 personel keamanan negara.
Sebagai informasi, Keamanan Negara Lebanon merupakan lembaga intelijen nasional yang bertugas menangani ancaman spionase, terorisme, serta perlindungan pejabat tinggi negara.
Selain di Nabatieh, serangan udara dan drone Israel juga tersebar di beberapa titik lainnya:
-
Deir Qanoun Ras al-Ain: Dua orang tewas dalam serangan drone yang menargetkan area Sammaaiyeh.
-
Qana & Hanouiyeh: Masing-masing wilayah melaporkan satu korban jiwa dan satu korban luka akibat serangan udara.
-
Kfar Tebnint: Ali Abdul Latif Ghaith, anggota pemerintah kota Arnoun, tewas dalam serangan drone yang menghantam bangunan tempatnya menginap. Putranya dilaporkan terluka dalam insiden tersebut.
-
Sohmor & Al-Sharqiyah: Dua orang tewas di Sohmor, sementara seorang warga sipil tewas terkena serangan drone saat mengendarai sepeda motor di dekat sekolah di Al-Sharqiyah.
-
Jbaa & Ansar: Enam orang tewas dalam serangan di Jbaa (Lebanon Selatan), dan satu orang tewas dalam serangan terpisah di kota Ansar, wilayah Lembah Bekaa.
Serangan ini juga menyasar fasilitas medis. Di distrik Nabatieh, beberapa paramedis dilaporkan terluka setelah serangan udara Israel menghantam titik medis dan unit ambulans di Frida, kota Adshit.
Eskalasi berdarah ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran pada Selasa lalu. Trump menyebut Teheran telah menyodorkan 10 poin proposal yang dianggap “layak” untuk dinegosiasikan.
Meskipun ada upaya diplomasi dengan Iran, Israel tetap memperluas operasinya di Lebanon Selatan sejak serangan lintas batas oleh Hezbollah pada 2 Maret 2026. Langkah ini terus berlanjut meski kesepakatan gencatan senjata sebelumnya sempat diberlakukan pada November 2024.
Analisis Redaksi Parle.co.id: Ketimpangan Diplomasi
Serangan besar-besaran Israel pada Jumat ini menandakan adanya ketimpangan antara retorika diplomasi di tingkat global dengan realitas militer di lapangan. Analisis kami melihat bahwa Israel sedang melakukan strategi “Maximizing Gains before Talks”. Dengan menyerang fasilitas intelijen dan keamanan negara di Nabatieh, Israel secara sistematis berusaha melumpuhkan struktur koordinasi keamanan Lebanon sebelum perundingan lebih lanjut benar-benar mengikat.
Poin krusial dalam peristiwa ini adalah target serangan yang mulai bergeser. Tidak hanya menyasar posisi militer Hezbollah, serangan yang menewaskan personel State Security dan paramedis menunjukkan bahwa zona perang telah meluas ke aset-aset kedaulatan negara Lebanon.
Keberlanjutan serangan ini juga menjadi ujian berat bagi klaim keberhasilan “Gencatan Senjata” Donald Trump. Jika Israel tetap melakukan ofensif besar-besaran di Lebanon sementara AS mencoba berdamai dengan Iran, maka kesepakatan 10 poin yang diajukan Teheran bisa goyah. Iran kemungkinan besar akan melihat serangan di Lebanon sebagai bentuk ketidaksungguhan blok Barat dalam mengendalikan sekutu utamanya, yang pada akhirnya dapat memicu kegagalan total proses perdamaian di kawasan Timur Tengah. ****

