BerandaPeristiwaKasus Suap Proyek, KPK dalami Dugaan Keterlibatan Istri Bupati Labuhanbatu

Kasus Suap Proyek, KPK dalami Dugaan Keterlibatan Istri Bupati Labuhanbatu

Published on

spot_img

JAKARTA, PARLE.CO.ID – Komisi Pemberantadan Korupsi (KPK), saat ini sedang mendalami dugaan keterlibatan Maya Hasmita terkait rekening yang disita penyidik dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Bupati Labuhanbatu Erik Adtrada Ritonga. Erik terjaring OTT KPK bersama Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan, mantan Anggota DPRD Labuhanbatu serta pihak swasta pada 11 Januari 2024 lalu.

Dalam pengembangan kasus tersebut, tim penyidik lembaga antirasuah kemudian melakukan penyitaan uang tunai dan uang yang tersimpan dalam rekening bank dengan jumlah mencapai Rp48,5 Miliar. Dari penyitaan barang bukti inilah KPK mendalami pihak-pihak terkait, salah satunya pemilik rekening gendut yang berhasil diamankan.

Juru bicara KPK Tessa Mahardhika saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (2/7/2024) mengenai penggunaan Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam OTT Bupati Labuhanbatu, menyatakan bahwa penggunaan pasal tersebut tidak menutup kemungkinan diambil penyidik.

“(Penggunaan TPPU) itu nanti akan dipelajari dulu sama penyidiknya,” kata Tessa sembari menambahkan, selain Pasal TPPU, tim penyidik juga mendalami orang kepercayaan yang diduga pemilik rekening dimaksud yang sebelumnya diungkapkan Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri.

Terkait hal tersebut, Tessa mengatakan bahwa tim penyidik tengah mendalaminya, dan kalau ada update segera disampaikan ke media untuk dipublish.

“Sementara didalami, nanti kalau ada update akan kita sampaikan,” terang Tessa mengenai rekening orang kepercayaan dimaksud.

Diketahui, OTT terhadap Bupati Labuhanbatu nonaktif Erik Adtrada Ritonga merupakan tangkap tangan perdana di tahun 2024. KPK juga telah menanggil dan memeriksa sejumlah saksi, salah satunya istri Bupati Labuhanbatu yaitu Maya Hasmita SpOG. Dalam kasus ini KPK menetapkan 4 tersangka dari 10 orang yang diamankan.

Keempat tersangka terdiri dari Bupati Labuhanbatu nonaktif Erik Adtrada Ritonga dan Anggota DPRD Rudi Syahputra Ritonga (RSR) selaku penerima suap. Kemudian Effendy Saputra (ES) alias Asiong dan Fazar Syahputra (FS) selaku pihak swasta sebagai tersangka pemberi suap.

*Sidang Lanjutan 11 Juli
Di sisi lain, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan pada 20 Juni 2024 lalu menolak nota keberatan (eksepsi) yang diajukan Bupati Labuhanbatu nonaktif Erik Adtrada Ritonga dan Rudi Syahputra selaku mantan anggota DPRD Labuhanbatu dalam kasus kasus suap pengamanan proyek sebesar Rp4,9 Miiliar.

“Menyatakan keberatan dari Penasihat Hukum (PH) para terdakwa tersebut tidak dapat diterima,” kata Ketua Majelis Hakim As’ad Rahim saat membacakan putusan sela di Ruang Sidang Cakra II, PN Medan, Kamis (20/6/2024) lalu.

Usai menolak eksepsi kedua terdakwa tersebut, Hakim memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk melanjutkan persidangan dengan agenda pembuktian hingga putusan akhir. Menurut Hakim, eksepsi yang diajukan para terdakwa telah memasuki pokok perkara.

Selain itu, Hakim juga menyatakan surat dakwaan JPU telah memenuhi syarat formil dan materiel sebagaimana Pasal 143 ayat (2) huruf a dan b dan ayat (3) KUHAP.

Usai mendengarkan pembacaan putusan sela tersebut, kemudian persidangan ditunda hingga Kamis (11/7/2024) dengan agenda pemeriksaan saksi.

Dalam dakwaannya, JPU menjerat Erik dan Rudi dengan dakwaan primer, yakni Pasal 12 huruf b Jo. Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo. Pasal 56 ayat (1) KUHP.

JPU juga menjerat kedua terdakwa tersebut dengan dakwaan subsider, yaitu Pasal 12 huruf b Jo. Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo. Pasal 56 ayat (1) KUHP. ***

Media kami tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Jika Anda merasa analisis kebijakan di artikel ini bermanfaat, bantu kami tetap independen dengan berdonasi mulai dari Rp10.000.

Latest articles

Insiden JPO Tendean Jadi Alarm Keselamatan, DPRD DKI Minta Audit Infrastruktur Publik

Insiden alat berat yang tersangkut di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) kawasan Tendean menunjukkan bahwa...

Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, Charles Honoris: Penentuan Penerima Harus Tepat Sasaran

Pemerintah didorong melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar manfaatnya...

Sari Yuliati: Reformasi Hukum Nasional Bergantung pada Implementasi KUHAP

Reformasi hukum nasional tidak akan memberikan dampak nyata hanya dengan lahirnya peraturan baru. Yang...

Peluncuran Buku Anotasi KUHAP 2025, Komisi III DPR Dorong Keseragaman Penafsiran dan Penguatan Kepastian Hukum

Implementasi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) 2025 memasuki fase krusial setelah regulasi baru...

More like this

Insiden JPO Tendean Jadi Alarm Keselamatan, DPRD DKI Minta Audit Infrastruktur Publik

Insiden alat berat yang tersangkut di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) kawasan Tendean menunjukkan bahwa...

Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, Charles Honoris: Penentuan Penerima Harus Tepat Sasaran

Pemerintah didorong melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar manfaatnya...

Sari Yuliati: Reformasi Hukum Nasional Bergantung pada Implementasi KUHAP

Reformasi hukum nasional tidak akan memberikan dampak nyata hanya dengan lahirnya peraturan baru. Yang...