BREAKING INTEL
PRESIDEN: Indonesia Bangkit sebagai "Rising Giant", Prabowo resmikan pabrik perakitan kendaraan listrik VKTR di Magelang. PARLEMEN: Komisi IX DPR panggil Badan Gizi Nasional (BGN) Senin besok terkait pengadaan 21.801 motor listrik. GEOPOLITIK: Bamsoet ingatkan "Jeda Strategis" Iran-Israel, RI harus waspadai lonjakan harga minyak dunia USD 95/Barel. EKONOMI: Menperin jamin stok LPG nasional aman meski ketergantungan impor mencapai 83,97 persen. REKRUTMEN: PT KAI buka lowongan kerja masif di Job Fair Undip Semarang 15-16 April 2026. PRESIDEN: Indonesia Bangkit sebagai "Rising Giant", Prabowo resmikan pabrik perakitan kendaraan listrik VKTR di Magelang. PARLEMEN: Komisi IX DPR panggil Badan Gizi Nasional (BGN) Senin besok terkait pengadaan 21.801 motor listrik.
MARKET WATCH
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
Senin, 25 Mei 2026
More
    BREAKING INTEL
    GEOPOLITIK: US Navy kerahkan kapal perusak ke Selat Hormuz guna amankan pelayaran "Project Freedom". AKADEMIK: Prof. Arief Hidayat (Eks Ketua MK) resmi dikukuhkan sebagai Profesor Emeritus di Universitas Borobudur. BEAUTY: Agnes Aditya Rahajeng (Banten) resmi dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2026 di JICC. HUKUM: Eks Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto divonis 4,5 tahun penjara terkait korupsi LNG. ADVOCACY: Puteri Indonesia 2026 Agnes Rahajeng luncurkan inisiatif "Rahajeng Closet" untuk pendidikan anak. GEOPOLITIK: US Navy kerahkan kapal perusak ke Selat Hormuz guna amankan pelayaran "Project Freedom". AKADEMIK: Prof. Arief Hidayat (Eks Ketua MK) resmi dikukuhkan sebagai Profesor Emeritus di Universitas Borobudur.
    MARKET WATCH
    USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
    USD/IDR 17.150 (-0.45%) EUR/IDR 18.620 (-0.12%) OIL BRENT US$120.40 (+3.20%) GOLD US$4.185 (-1.15%) IHSG 7.120 (-0.85%) NASDAQ 18.420 (+0.55%) BITCOIN US$92.100 (+2.10%)
    BerandaOpiniPemimpin Sejati: Dihormati karena Amanah, Disegani karena Keadilan

    Pemimpin Sejati: Dihormati karena Amanah, Disegani karena Keadilan

    -

    Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi (Anggota Fraksi PKS DPR RI dari Dapil Kalimantan Selatan I)

    “Pemimpin sejati adalah seseorang yang dihormati, bukan karena takhtanya tetapi ditakuti karena keadilannya.”

    — Umar bin Abdul Aziz

    Pendahuluan: Krisis Kepemimpinan dan Kerinduan Akan Keadilan

    Sepanjang sejarah umat manusia, persoalan terbesar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bukan semata-mata soal kemiskinan, peperangan, ataupun lemahnya teknologi. Akar persoalan terbesar sering kali adalah krisis kepemimpinan. Ketika pemimpin kehilangan amanah, maka hukum diperjualbelikan, kekuasaan menjadi alat penindasan, rakyat kehilangan rasa percaya, dan keadilan berubah menjadi barang mewah.

    Sebaliknya, ketika lahir pemimpin yang adil, amanah, dan takut kepada Allah SWT, maka masyarakat akan merasakan keamanan, kesejahteraan, dan keberkahan hidup. Karena itulah Islam menempatkan kepemimpinan sebagai amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

    Ungkapan dari Umar bin Abdul Aziz di atas bukan sekadar kata mutiara. Kalimat tersebut merupakan gambaran mendalam tentang hakikat kekuasaan dalam Islam. Bahwa penghormatan sejati tidak lahir dari jabatan, kemewahan, pengawal, ataupun simbol kekuasaan. Penghormatan sejati lahir dari keadilan.

    Pemimpin yang adil akan dicintai rakyat dan disegani lawan-lawannya. Bukan karena kekuatan senjata, melainkan karena integritas moralnya. Sebaliknya, pemimpin zalim mungkin ditakuti karena kekuasaannya, tetapi tidak pernah benar-benar dihormati.

    Hari ini dunia modern mengalami paradoks besar. Teknologi berkembang sangat pesat, ekonomi tumbuh luar biasa, tetapi banyak bangsa mengalami kegelisahan sosial, ketimpangan ekonomi, korupsi politik, dan hilangnya keteladanan moral. Di tengah situasi itu, dunia kembali merindukan model kepemimpinan yang berkeadilan.

    Islam sesungguhnya telah memberikan fondasi lengkap tentang kepemimpinan ideal sejak lebih dari 14 abad yang lalu.

    Kepemimpinan dalam Pandangan Islam

    Dalam Islam, kepemimpinan bukan kehormatan semata, melainkan amanah yang berat.

    Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”

    (QS. An-Nisa: 58)

    Ayat ini menjadi dasar penting bahwa kepemimpinan harus dibangun di atas dua hal utama: amanah dan keadilan.

    Tanpa amanah, kekuasaan berubah menjadi alat kepentingan pribadi. Tanpa keadilan, negara berubah menjadi alat penindasan.

    Rasulullah SAW bahkan memperingatkan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang sangat besar.

    Hadits Rasulullah SAW:

    “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya berlaku bagi presiden, raja, atau pejabat tinggi. Seorang ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Guru adalah pemimpin bagi muridnya. Ulama adalah pemimpin umat. Bahkan setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

    Karena itu, kualitas sebuah bangsa sesungguhnya ditentukan oleh kualitas moral para pemimpinnya.

    Makna “Ditakuti karena Keadilannya”

    Ungkapan “ditakuti karena keadilannya” memiliki makna yang sangat dalam.

    Yang dimaksud bukanlah rakyat takut karena pemimpin kejam, melainkan takut melanggar hukum karena pemimpinnya tegas dalam menegakkan keadilan.

    Dalam sejarah Islam, banyak pemimpin yang hidup sederhana namun sangat disegani karena ketegasannya terhadap kezaliman.

    Ketika hukum ditegakkan secara adil, orang-orang zalim akan takut. Koruptor takut mencuri uang rakyat. Pengusaha nakal takut berbuat curang. Pejabat takut menyalahgunakan jabatan. Penjahat takut melanggar hukum.

    Tetapi ketika hukum bisa dibeli, maka rasa takut hilang. Yang muncul justru keberanian untuk menindas.

    Karena itulah keadilan menjadi pondasi utama negara. Allah SWT berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah…”

    (QS. An-Nisa: 135)

    Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan harus ditegakkan sekalipun terhadap diri sendiri, keluarga, ataupun kelompok sendiri.

    Keteladanan Kepemimpinan Rasulullah SAW

    Pemimpin terbesar dalam sejarah manusia adalah Muhammad. Beliau tidak hanya memimpin dengan kekuasaan, tetapi dengan keteladanan moral yang luar biasa.

    Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah dijuluki Al-Amin, artinya orang yang terpercaya.

    Ketika memimpin Madinah, Rasulullah SAW membangun masyarakat berdasarkan: keadilan, persaudaraan, toleransi, musyawarah, dan perlindungan terhadap kaum lemah.

    Beliau hidup sederhana meskipun memiliki kekuasaan besar. Dalam sebuah hadits disebutkan:

    “Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang miskin.”

    (HR. Tirmidzi)

    Rasulullah SAW tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Bahkan rumah beliau sangat sederhana.

    Ketika ada wanita bangsawan Quraisy mencuri lalu sebagian sahabat ingin meringankan hukumannya, Rasulullah SAW bersabda:

    “Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Inilah puncak keadilan. Tidak ada perlakuan istimewa karena hubungan keluarga atau status sosial.

    Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin

    1. Abu Bakar Ash-Shiddiq: Kepemimpinan Amanah

    Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal sebagai pemimpin yang sangat rendah hati. Pidato pertamanya setelah menjadi khalifah sangat terkenal:

    “Jika aku benar maka bantulah aku, jika aku salah maka luruskanlah aku.”

    Ini menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak antikritik. Hari ini banyak pemimpin alergi terhadap kritik. Padahal kritik adalah alat koreksi agar kekuasaan tidak menyimpang.

    2. Umar bin Khattab: Simbol Keadilan

    Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang sangat tegas. Beliau sering berkeliling malam untuk memastikan rakyat tidak kelaparan.

    Suatu malam beliau menemukan seorang ibu memasak batu agar anaknya berhenti menangis karena lapar. Mendengar itu, Umar menangis lalu memikul sendiri gandum untuk diberikan kepada keluarga tersebut.

    Ketika ajudannya ingin membantu memikul gandum, Umar berkata:

    “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?”

    Inilah pemimpin yang takut kepada Allah.

    3. Utsman bin Affan: Pemimpin Dermawan

    Utsman bin Affan terkenal karena kedermawanannya. Beliau membeli sumur untuk kepentingan umat dan membiayai banyak perjuangan Islam dengan hartanya sendiri.

    Kepemimpinan bukan hanya soal mengatur, tetapi juga memberi teladan pengorbanan.

    4. Ali bin Abi Thalib: Pemimpin Ilmu dan Kebijaksanaan

    Ali bin Abi Thalib dikenal sangat cerdas dan bijaksana.

    Beliau berkata:

    “Kekuasaan dapat bertahan bersama kekafiran, tetapi tidak akan bertahan bersama kezaliman.”

    Kalimat ini sangat relevan hingga hari ini. Lihat saja kondisi hari ini.

    Banyak negara maju modern tidak sepenuhnya menerapkan syariat Islam, tetapi mereka menjunjung keadilan, disiplin, dan integritas sehingga negaranya kuat.

    Sebaliknya, negara yang mayoritas Muslim sekalipun akan hancur jika dipenuhi korupsi dan ketidakadilan.

    Umar bin Abdul Aziz: Khalifah yang Mengubah Peradaban

    Nama Umar bin Abdul Aziz selalu dikenang sebagai simbol kepemimpinan adil. Beliau hanya memimpin sekitar dua tahun lebih, tetapi berhasil melakukan reformasi besar.

    Ketika menjadi khalifah, beliau mematikan lampu istana yang menggunakan uang negara saat berbicara urusan pribadi. Beliau mengembalikan harta yang diperoleh tidak sah ke baitul mal.

    Beliau menolak hidup mewah. Bahkan dalam masa pemerintahannya, konon sangat sulit menemukan orang miskin yang berhak menerima zakat karena kesejahteraan meningkat.

    Mengapa bisa demikian? Karena keadilan menciptakan kepercayaan sosial dan distribusi ekonomi yang sehat.

    Hari ini banyak negara kaya sumber daya alam tetapi rakyatnya miskin. Penyebab utamanya adalah korupsi dan ketidakadilan distribusi kekayaan.

    Pemimpin dan Rasa Takut kepada Allah

    Dalam Islam, fondasi utama kepemimpinan adalah takwa. Pemimpin yang takut kepada Allah tidak akan mudah berbuat zalim.

    Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

    (QS. Al-Hujurat: 13)

    Takwa membuat seorang pemimpin sadar bahwa jabatan hanyalah titipan sementara.

    Hari ini banyak orang mengejar kekuasaan seolah jabatan adalah tujuan hidup. Padahal jabatan hanyalah amanah yang suatu hari akan dipertanggungjawabkan.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Tidaklah seorang pemimpin yang menipu rakyatnya kecuali Allah haramkan baginya surga.”

    (HR. Muslim)

    Hadits ini sangat keras. Pemimpin yang mengkhianati rakyat bukan hanya merusak negara, tetapi juga mempertaruhkan akhiratnya.

    Kepemimpinan Zaman Dulu dan Sekarang

    Kepemimpinan Zaman Dulu

    Pemimpin zaman dahulu umumnya dekat dengan rakyat. Mereka memahami penderitaan masyarakat karena hidup sederhana.

    Banyak pemimpin besar lahir dari perjuangan panjang, bukan pencitraan media. Mereka dihormati karena karakter, keberanian, dan pengorbanan.

    Kepemimpinan masa lalu memiliki beberapa ciri:

    • Keteladanan moral
    • Kedekatan dengan rakyat
    • Kesederhanaan
    • Ketegasan hukum

    Kepemimpinan Zaman Sekarang

    Era modern menghadirkan tantangan berbeda. Hari ini kepemimpinan dipengaruhi oleh: media sosial, kekuatan modal, pencitraan politik, perang informasi, dan kepentingan global.

    Akibatnya, banyak pemimpin lebih sibuk menjaga popularitas dibanding memperjuangkan keadilan.

    Kadang citra lebih penting daripada kerja nyata. Namun dunia modern juga melahirkan sistem pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel jika dijalankan dengan benar.

    Negara yang sukses hari ini umumnya memiliki: birokrasi bersih, hukum kuat, pendidikan maju, dan budaya disiplin.

    Pelajaran dari Negara-Negara Maju

    Beberapa negara maju hari ini dihormati dunia bukan karena luas wilayahnya, tetapi karena kualitas tata kelola negaranya.

    Mengapa negara maju bisa maju? Karena mereka serius dalam:

    • Penegakan Hukum
    • Hukum berlaku bagi semua. Pejabat yang korup dihukum.
    • Disiplin
    • Budaya kerja dan ketepatan waktu dijunjung tinggi.
    • Transparansi
    • Pengelolaan anggaran terbuka.
    • Meritokrasi
    • Jabatan diberikan berdasarkan kemampuan, bukan kedekatan.
    Pendidikan Berkualitas

    Mereka membangun manusia, bukan hanya infrastruktur.

    Ironisnya, banyak nilai tersebut justru sangat dekat dengan ajaran Islam.

    Karena itu sebagian ulama mengatakan:

    “Saya melihat Islam di Barat, tetapi tidak melihat Muslim. Dan saya melihat Muslim di Timur, tetapi tidak melihat Islam.”

    Artinya nilai kejujuran, disiplin, dan keadilan kadang lebih tampak dalam praktik negara maju dibanding sebagian negara Muslim sendiri.

    Bahaya Pemimpin yang Haus Kekuasaan

    Salah satu penyakit terbesar dalam politik adalah cinta kekuasaan.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya kalian akan sangat berambisi terhadap kekuasaan, padahal kelak ia menjadi penyesalan pada hari kiamat.”

    (HR. Bukhari)

    Ketika kekuasaan dijadikan alat memperkaya diri, maka lahirlah: korupsi, nepotisme, manipulasi hukum, dan penindasan rakyat.

    Pemimpin seperti ini mungkin tampak kuat di dunia, tetapi sejarah biasanya mencatat mereka dengan buruk.

    Sebaliknya, pemimpin adil tetap dikenang meski sudah wafat ratusan tahun.

    Kepemimpinan dalam Keluarga

    Kepemimpinan tidak hanya milik pejabat negara. Ayah adalah pemimpin keluarga. Ibu adalah pemimpin rumah tangga. Guru pemimpin pendidikan. Ulama pemimpin umat.

    Karena itu membangun bangsa harus dimulai dari kepemimpinan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

    Anak-anak belajar kepemimpinan dari orang tuanya. Jika rumah tangga dipenuhi kejujuran dan tanggung jawab, maka akan lahir generasi berkualitas.

    Keadilan Sosial dan Kemakmuran Bangsa

    Tidak ada bangsa besar tanpa keadilan. Ketimpangan ekonomi yang terlalu tajam akan memicu konflik sosial.

    Islam mengajarkan distribusi kekayaan melalui: zakat, infak, sedekah, wakaf, dan larangan riba.

    Tujuannya agar kekayaan tidak berputar di kalangan elit saja.

    Allah SWT berfirman:

    “Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

    (QS. Al-Hasyr: 7)

    Keadilan ekonomi adalah fondasi stabilitas negara.

    Pemimpin dan Integritas

    Integritas berarti kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Hari ini masyarakat sangat mudah kehilangan kepercayaan karena banyak pemimpin gemar berjanji tetapi minim realisasi.

    Rakyat tidak hanya membutuhkan pidato. Rakyat membutuhkan keteladanan.

    Pemimpin yang jujur mungkin tidak sempurna, tetapi rakyat tetap menghormatinya.

    Sebaliknya pemimpin penuh pencitraan akan kehilangan legitimasi ketika kebohongannya terbongkar.

    Peran Ulama dalam Mengawal Kepemimpinan

    Dalam sejarah Islam, ulama memiliki peran penting mengingatkan penguasa. Mereka bukan sekadar pendukung kekuasaan, tetapi penjaga moral bangsa.

    Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Nawawi, hingga banyak ulama besar lainnya berani menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa.

    Rasulullah SAW bersabda:

    ‘Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim.”

    (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

    Karena itu kritik yang jujur bukan ancaman bagi negara. Kritik adalah bentuk cinta terhadap bangsa.

    Generasi Muda dan Masa Depan Kepemimpinan

    Masa depan bangsa berada di tangan generasi muda. Namun generasi muda hari ini menghadapi tantangan besar: budaya instan, hedonisme, individualisme, dan krisis keteladanan.

    Karena itu pendidikan karakter menjadi sangat penting. Anak muda harus belajar bahwa kepemimpinan bukan soal popularitas, tetapi tanggung jawab.

    Bangsa akan kuat jika melahirkan pemimpin: cerdas, jujur, berani, disiplin, dan takut kepada Allah.

    Kepemimpinan Digital di Era Modern

    Hari ini dunia memasuki era digital. Informasi bergerak sangat cepat. Kesalahan kecil pemimpin bisa langsung diketahui publik.

    Karena itu pemimpin modern harus:

    – Transparan:

    Tidak boleh menutup-nutupi kebijakan.

    – Adaptif:

    Mampu memahami perubahan zaman.

    – Berintegritas Digital:

    Tidak menyebarkan kebohongan atau propaganda.

    – Mendengar Aspirasi:

    Teknologi harus dipakai untuk mendengar rakyat, bukan membungkam kritik.

    Pemimpin Besar Selalu Hidup untuk Rakyat

    Pemimpin sejati tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia menjadikan kekuasaan sebagai sarana pelayanan.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”

    (HR. Abu Nu’aim)

    Inilah konsep kepemimpinan Islam yang sangat mulia. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar kewajibannya melayani masyarakat. Bukan justru meminta dilayani.

    Mengapa Banyak Pemimpin Gagal?

    Banyak pemimpin gagal karena:

    • Tidak amanah
    • Tidak mau mendengar kritik
    • Dikelilingi penjilat
    • Cinta dunia berlebihan
    • Lemah dalam penegakan hukum
    • Mengutamakan kelompok sendiri
    • Tidak takut kepada Allah

    Ketika pemimpin kehilangan moral, maka kekuasaan menjadi alat kerusakan.

    Kepemimpinan dan Akhirat

    Dalam Islam, jabatan bukan sekadar urusan dunia. Ada hisab di akhirat.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, salah satunya adalah pemimpin yang adil.”

    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini menunjukkan betapa mulianya pemimpin adil di sisi Allah. Namun sebaliknya, pemimpin zalim mendapat ancaman berat.

    Karena dampak kezaliman pemimpin tidak hanya menimpa satu orang, tetapi jutaan manusia.

    Penutup: Dunia Tidak Kekurangan Orang Pintar, tetapi Kekurangan Pemimpin Adil

    Hari ini dunia memiliki banyak orang cerdas. Teknologi maju. Ekonomi berkembang.

    Tetapi manusia tetap gelisah karena krisis keadilan. Kita membutuhkan pemimpin yang: takut kepada Allah, mencintai rakyat, hidup sederhana, berani menegakkan hukum, dan menjadikan jabatan sebagai amanah.

    Ungkapan Umar bin Abdul Aziz mengajarkan bahwa kehormatan sejati tidak berasal dari singgasana.

    “Takhta bisa hilang. Jabatan bisa berakhir. Kekuasaan bisa runtuh. Tetapi keadilan akan dikenang sepanjang sejarah.”

    Pemimpin yang adil mungkin hidup sederhana, tetapi namanya hidup abadi dalam hati rakyat.

    Sebaliknya, pemimpin zalim mungkin hidup mewah, tetapi sejarah akan mencatatnya sebagai pelajaran buruk bagi generasi berikutnya.

    Semoga Allah SWT menghadirkan pemimpin-pemimpin yang amanah bagi umat manusia.

    Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan…”

    (QS. An-Nahl: 90)

    Dan Rasulullah SAW bersabda:

    “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian…”

    (HR. Muslim)

    Semoga bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia, dipimpin oleh orang-orang yang menjadikan keadilan sebagai napas kepemimpinan, bukan sekadar slogan politik.

    Karena bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang kaya, tetapi bangsa yang dipimpin oleh manusia-manusia yang takut berbuat zalim. ***

    Endang Suherman
    Endang Suhermanhttps://parle.co.id
    Pengamat isu terkini dan kurator berita digital. Fokus pada akurasi data dan kecepatan informasi demi menjaga kualitas literasi pembaca Parle.co.id.

    TERKAIT

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    spot_img

    TERKINI