China mengutuk ancaman sanksi sekunder AS terhadap dua bank China terkait transaksi minyak Iran. Beijing menyebut tindakan AS ilegal dan sepihak.
BEIJING, PARLE.CO.ID – Pemerintah China mengecam keras ancaman Amerika Serikat (AS) yang berencana menjatuhkan sanksi sekunder terhadap dua bank besar asal Negeri Tirai Bambu tersebut. Beijing menyebut langkah Washington sebagai tindakan “ilegal” dan sepihak karena tidak memiliki dasar otorisasi dari Dewan Keamanan PBB.
Dikutip dari laporan Anadolu Agency, Kamis (16/4/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan posisi negaranya dalam konferensi pers rutin di Beijing. Ia menyatakan bahwa China menentang segala bentuk sanksi yang melangkahi aturan internasional.
“China menentang sanksi sepihak yang ilegal tanpa mandat dari Dewan Keamanan PBB,” tegas Guo merespons ancaman terbaru dari Washington.
Ketegangan ini bermula setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan pada Rabu (15/4) bahwa pihaknya telah mengirimkan surat peringatan kepada dua bank China. AS mengklaim memiliki kesiapan untuk menjatuhkan sanksi sekunder jika terbukti terdapat aliran dana dari Iran yang melalui akun-akun bank tersebut.
Bessent mengungkapkan bahwa China sebelumnya mengimpor lebih dari 90% minyak Iran, yang mencakup sekitar 8% dari total kebutuhan energi domestik China. Washington meyakini bahwa blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz akan memaksa China untuk menghentikan pembelian minyak dari Teheran.
AS diketahui telah menerapkan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran menyusul kegagalan pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran di Pakistan akhir pekan lalu. Pertemuan tersebut semula ditujukan untuk mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari 2024, namun berakhir tanpa kesepakatan.
Di sisi lain, laporan dari South China Morning Post pada hari Kamis menunjukkan bahwa Beijing mulai mengambil langkah antisipasi ekonomi. China dilaporkan terus melakukan diversifikasi cadangan devisa dan mulai memangkas kepemilikan surat utang pemerintah AS (US Treasury) sepanjang bulan Februari.
Analisis Redaksi Parle.co.id: Babak Baru
Eskalasi ancaman sanksi terhadap sektor perbankan China ini merupakan babak baru “perang dingin” ekonomi antara Washington dan Beijing. Redaksi melihat tiga poin krusial:
Penggunaan sanksi sekunder terhadap bank adalah upaya AS untuk memutus akses China dari sistem kliring dolar global. Jika ini terjadi, dampaknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga pada stabilitas perdagangan global.
Bagi China, 8% kebutuhan energi dari Iran adalah angka yang signifikan. Blokade di Selat Hormuz oleh militer AS memaksa Beijing untuk mencari sumber alternatif dalam waktu cepat atau mengambil risiko konfrontasi maritim untuk melindungi jalur pasokan energinya.
Langkah China memangkas US Treasury dan mendiversifikasi devisa menunjukkan bahwa Beijing sudah mengantisipasi serangan finansial dari AS. Ini adalah sinyal bahwa China bersiap menghadapi skenario di mana dolar tidak lagi menjadi instrumen aman dalam cadangan nasional mereka. *****

