Presiden Prabowo ajak pengusaha AS kerja sama modernisasi & hilirisasi industri melalui Danantara. Indonesia siap teken perjanjian dagang besar di Washington.
WASHINGTON D.C, PARLE.CO.ID – Presiden RI Prabowo Subianto mengajak para pengusaha di Amerika Serikat (AS) untuk menjadi mitra strategis dalam upaya modernisasi dan industrialisasi di Indonesia. Ajakan ini disampaikan Presiden dalam Forum Bisnis bersama US Chamber of Commerce di Washington D.C, Rabu waktu setempat.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Kepala Negara menyatakan komitmennya untuk memperkuat kerja sama ekonomi melalui penandatanganan perjanjian perdagangan besar yang dinilai sangat signifikan bagi pelaku usaha kedua negara.
“Saya berada di sini untuk menyelesaikan sebuah perjanjian perdagangan besar antara kedua negara kita. Saya pikir ini adalah perjanjian yang sangat signifikan bagi pelaku usaha dan investor dari kedua negara, serta bagi kawasan Pasifik yang lebih luas,” ujar Presiden Prabowo, Kamis (19/2/2026).
Danantara Jadi Mesin Kunci Hilirisasi
Presiden Prabowo menyoroti peran strategis sovereign wealth fund baru Indonesia, yakni Danantara, sebagai motor penggerak berbagai proyek hilirisasi. Menurutnya, Danantara akan menjadi mitra utama bagi investor asing yang ingin masuk ke sektor industri.
“Kami terus maju dengan pengolahan industri hilir. Dan saya pikir Danantara akan menjadi mesin kunci untuk langkah ini. Misalnya, kami baru saja memulai 18 proyek baru pengolahan hilir pada tahun ini,” jelas Kepala Negara.
Ia berharap perusahaan-perusahaan Amerika Serikat tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar konsumsi yang besar, tetapi juga menjadikannya sebagai basis produksi strategis untuk menjangkau kawasan regional yang lebih luas.
Fundamental Ekonomi Kuat dan Inflasi Terkendali
Di hadapan para investor, Presiden meyakinkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat stabil di atas 5 persen dengan tingkat inflasi yang terkendali.
Pemerintah juga terus menjaga disiplin fiskal dan stabilitas politik nasional guna menciptakan iklim investasi yang aman dan menarik bagi modal asing.
“Foreign Direct Investment (FDI) sangat baik. Tahun lalu mencapai USD 53 miliar. Ini mencerminkan kepercayaan terhadap ekonomi kita, ukuran pasar kita, potensi pertumbuhan, stabilitas politik, dan arah kebijakan kita,” tegas Prabowo.
Kerja sama yang dijalin kali ini diharapkan menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia dan Amerika Serikat berkomitmen untuk terus memperdalam akses pasar dan menciptakan kepastian hukum bagi dunia usaha global. (P-01)

