JAKARTA, PARLE.CO.ID – Ketika simbol bajak laut fiktif dari anime One Piece, Jolly Roger, dikibarkan oleh sekelompok anak muda dalam sebuah aksi damai di sejumlah wilayah Indonesia, banyak yang menanggapinya sebagai sekadar aksi nyeleneh atau sekadar ekspresi budaya pop. Namun, bagi anggota DPD RI dari Sumatera Barat, Irman Gusman, aksi tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih dalam, yakni ekspresi kegelisahan sosial atas ketimpangan dan tekanan ekonomi yang kian nyata.
“Ini bukan sekadar soal bendera atau budaya Jepang. Saya melihatnya sebagai sinyal keresahan kolektif dari generasi muda—mereka yang hari ini menghadapi masa depan yang semakin tidak pasti,” kata Irman dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (6/8/2025).
Fenomena pengibaran bendera bajak laut fiksi itu terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Aksi tersebut viral di media sosial, dan dalam banyak kasus, dilakukan secara spontan sebagai bentuk ekspresi sosial. Meski tidak bersifat anarkistis, fenomena ini menimbulkan diskusi publik, dari sekadar candaan warganet hingga respons serius dari sejumlah pihak yang menganggap aksi tersebut sebagai bentuk perlawanan simbolik.
Ketika Fiksi Menjadi Cermin Realita
Irman menekankan bahwa pemerintah semestinya tidak terburu-buru melihat simbol tersebut sebagai hal negatif. “Ini adalah cara generasi muda menyampaikan keresahan mereka, ketika ruang-ruang partisipasi politik dan ekonomi dianggap tertutup atau mandek,” ujarnya.
Menurut mantan Ketua DPD RI itu, kondisi ekonomi Indonesia saat ini memang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang merata, meskipun secara makro pertumbuhan ekonomi masih diklaim berada di atas 5 persen.
“Susahnya lapangan kerja, PHK yang kian mengancam, ketimpangan yang makin tajam, serta konsumsi rumah tangga yang mulai kehilangan tenaga akibat menurunnya kepercayaan terhadap masa depan penghasilan — itu semua adalah realitas yang tidak bisa disangkal,” ujar Irman.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di kalangan usia muda masih tinggi, sementara sektor informal terus membengkak. Kelas menengah pun mulai tertekan oleh biaya hidup yang meningkat, sementara akses terhadap pekerjaan yang layak kian menyempit.
Generasi Muda dalam Persimpangan
Fenomena ini, menurut Senator dari Sumbar itu, memperlihatkan bahwa generasi muda tidak hanya menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga krisis representasi dan kepercayaan terhadap sistem. Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan hidup, anak muda menemukan cara baru untuk menyuarakan tuntutan—tidak selalu melalui parlemen jalanan, tetapi melalui simbol, budaya pop, dan ekspresi digital.
“Pemerintah harus bijak membaca tanda zaman. Ketika generasi muda memilih simbol bajak laut sebagai ekspresi, itu mencerminkan perasaan kehilangan arah, ketidakpercayaan, bahkan frustrasi terhadap sistem yang ada,” kata Irman.
Alih-alih melakukan pendekatan koersif atau mendiskreditkan ekspresi semacam itu, Irman mendorong agar negara membuka ruang dialog yang lebih inklusif, serta menata ulang prioritas kebijakan publik untuk menjawab masalah-masalah mendasar: ketimpangan, ketenagakerjaan, dan distribusi kesejahteraan.
“Ekspresi simbolik semacam ini justru menjadi peluang bagi pemerintah untuk mengevaluasi diri. Karena, saat generasi muda sudah tak percaya pada saluran formal, mereka akan mencari bahasa baru yang bisa menyuarakan isi hati mereka, dan itulah yang sedang kita saksikan hari ini,” tutup Irman Gusman. ***

