Lestari Moerdijat dorong peran aktif perguruan tinggi dan masyarakat dalam menciptakan kebijakan yang berpihak pada perempuan
Perempuan Dominan sebagai Pemilih, Tapi Masih Terpinggirkan dalam Kebijakan
PADANG, PARLE.CO.ID — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, mengungkapkan keprihatinannya atas minimnya keberpihakan terhadap perempuan dalam kebijakan publik, meski jumlah pemilih perempuan mencapai lebih dari separuh populasi. Hal ini disampaikannya dalam Seminar Kebangsaan bertajuk Kepemimpinan Perempuan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Bangsa yang digelar di Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (22/5).
“Berdasarkan data KPU, sekitar 51% dari populasi pemilih adalah perempuan. Namun, keberpihakan suara tidak berpihak pada sesama perempuan,” ujar Lestari yang akrab disapa Rerie. Ia menilai, hal ini mencerminkan masih rendahnya pemahaman perempuan sendiri akan pentingnya kebijakan yang berpihak pada mereka.
Kebijakan Pro Perempuan Masih Jauh dari Target
Dalam pidatonya, Lestari menyinggung tentang rendahnya representasi perempuan di parlemen, yang saat ini baru mencapai 21,9% dari target 30% keterwakilan. Padahal, keberadaan perempuan di legislatif sangat penting untuk mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih inklusif dan adil gender.
Ia menambahkan, sistem politik yang ada saat ini sering kali masih menempatkan perempuan sebagai pihak yang dilemahkan dan hanya sebagai pelengkap. Bahkan dalam budaya Nusantara, perempuan kerap ditempatkan dalam ranah domestik semata.
Peran Perguruan Tinggi dan Tokoh Masyarakat Kunci Perubahan
Rerie menekankan pentingnya peran aktif dari perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lainnya dalam membangun kesadaran publik terhadap urgensi kebijakan yang pro-perempuan. Ia menyebutkan, kampus harus menjadi garda depan dalam menyuarakan pentingnya kepemimpinan perempuan dan kesetaraan gender.
“Upaya ini harus dilakukan secara masif dan melibatkan semua sektor,” ujar politisi Partai NasDem tersebut. Menurutnya, edukasi publik adalah langkah awal untuk mengubah paradigma bahwa perempuan layak dan mampu memimpin serta membuat keputusan penting dalam pembangunan bangsa.
Sumatera Barat dan Filosofi Bundo Kanduang Jadi Inspirasi
Lestari turut mengapresiasi nilai budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi peran perempuan dalam masyarakat melalui filosofi Bundo Kanduang. Baginya, filosofi ini bisa menjadi inspirasi nasional dalam meningkatkan keterlibatan perempuan dalam ranah publik dan politik.
“Bundo Kanduang adalah contoh nyata bagaimana perempuan bisa menjadi pemimpin dan pengambil keputusan. Saya harap perempuan-perempuan di Sumatera Barat mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional,” seru anggota Komisi X DPR RI itu.
Dukungan Perempuan untuk Perempuan: Wujudkan Keseimbangan dalam Kebijakan
Dengan semakin kuatnya dukungan terhadap keterwakilan perempuan, Lestari Moerdijat berharap akan muncul kebijakan-kebijakan yang lebih adil dan merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali. Ia menegaskan, perjuangan perempuan tidak hanya soal representasi, tetapi juga soal keadilan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik bangsa.
“Kita butuh lebih banyak pemimpin perempuan, bukan hanya karena mereka perempuan, tetapi karena mereka mampu dan layak menjadi penentu arah bangsa,” tutupnya. (P-01)

