Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan komunitas otomotif kini menjadi kekuatan sosial dan perekat persatuan bangsa di tengah tantangan polarisasi.
Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, menegaskan bahwa komunitas otomotif memiliki peran yang sangat krusial dalam menjaga persatuan bangsa. Peran ini dinilai semakin penting di tengah meningkatnya tantangan polarisasi sosial, ketimpangan ekonomi, serta menguatnya sekat identitas di dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Dikutip dari Pers Rilis, pria yang akrab disapa Bamsoet ini menjelaskan bahwa komunitas otomotif telah bertransformasi menjadi ruang sosial baru. Wadah ini mempertemukan berbagai individu dari latar belakang profesi, budaya, usia, hingga daerah yang berbeda dalam satu semangat persaudaraan yang sama.
“Komunitas otomotif sekarang sudah berkembang menjadi kekuatan sosial. Di dalamnya ada semangat brotherhood, gotong royong, dan rasa kebersamaan yang bisa menjadi perekat persatuan bangsa,” ujar Bamsoet saat menghadiri perayaan HUT ke-8 Motor Besar Indonesia (MBI) di Jakarta, Jumat malam (15/5/2026).
Ketua Dewan Pembina Ikatan Motor Indonesia (IMI) tersebut menilai, di tengah situasi masyarakat yang mudah terbelah akibat politik identitas dan perang opini di media sosial, komunitas otomotif justru mampu hadir memberikan solusi melalui ruang interaksi yang jauh lebih cair.
Fenomena positif ini dibuktikan dengan maraknya kegiatan produktif sepanjang tahun 2025 lalu. Berbagai organisasi otomotif nasional aktif menggelar touring kebangsaan, bakti sosial, donor darah, hingga kolaborasi antarkomunitas lintas daerah.
Melalui aktivitas bersama di jalan raya maupun kegiatan sosial kemasyarakatan, para anggota yang datang dari bermacam suku dan agama dapat membangun hubungan sosial yang setara. Data dari Asosiasi Automotif Indonesia bahkan mencatat bahwa lebih dari 60 persen anggota komunitas otomotif aktif terlibat langsung dalam kegiatan sosial. Angka tersebut menegaskan bahwa gerakan ini telah melampaui sekadar hobi berkendara semata.
“Touring jangan lagi dimaknai sekadar konvoi. Touring harus menjadi gerakan sosial yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketika komunitas otomotif turun membantu korban bencana, donor darah, membangun solidaritas lintas daerah, di situlah semangat kebangsaan tumbuh secara nyata,” kata Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini.
Sebagai Ketua Dewan Kehormatan MBI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bamsoet mengingatkan bahwa tantangan terbesar bagi para pelaku hobi otomotif saat ini adalah menjaga keseimbangan antara identitas internal komunitas dan tanggung jawab sosialnya kepada publik.
Ia menekankan bahwa esensi dari semangat brotherhood tidak boleh eksklusif atau berhenti di dalam lingkaran internal kelompok saja, melainkan wajib diperluas menjadi solidaritas sosial yang menyentuh masyarakat luas.
Oleh karena itu, setiap program kerja dan agenda berkendara komunitas harus diarahkan pada aksi kemanusiaan serta penguatan nilai-nilai kebangsaan. Beberapa contoh nyata yang dapat terus digalakkan antara lain program donor darah, penyaluran bantuan sosial untuk masyarakat prasejahtera, hingga promosi kebudayaan lokal di setiap daerah yang menjadi destinasi touring nasional.
“Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang persaudaraan yang mampu melampaui perbedaan politik, agama, dan status sosial. Komunitas otomotif bisa mengambil peran itu. Ketika para bikers mampu menjadi teladan dalam solidaritas sosial, mereka sedang ikut menjaga persatuan Indonesia,” pungkas Bamsoet.
Analisis: Potensi Komunitas Otomotif sebagai Jangkar Modal Sosial (Social Capital) Bangsa
Pernyataan Bambang Soesatyo mengenai transformasi komunitas otomotif dari sekadar kelompok hobi (hobbyist) menjadi penggerak sosial, merefleksikan teori modal sosial (social capital) yang sangat dibutuhkan Indonesia dalam menghadapi dinamika sosiopolitis modern. Berikut beberapa poin analisisnya:
Struktur Bridging Social Capital yang Kuat: Di tengah ancaman polarisasi akibat algoritma media sosial dan politik identitas yang cenderung memecah belah (bonding social capital yang kaku), komunitas otomotif justru menjalankan fungsi bridging (jembatan). Ketika seseorang bergabung dalam sebuah klub motor atau mobil, status sosial, afiliasi politik, dan latar belakang suku/agama seringkali luntur di jalan raya. Kesetaraan ini menciptakan ruang publik yang sehat, di mana komunikasi antar-elemen masyarakat dapat berjalan tanpa batasan birokratis atau ideologis.
Validasi Data Aktivisme Sosial: Data dari Asosiasi Automotif Indonesia yang menunjukkan keterlibatan sosial anggota di atas 60 persen membuktikan adanya pergeseran budaya kepedulian. Komunitas ini memiliki keunggulan logistik berupa mobilitas yang tinggi. Kecepatan kelompok otomotif dalam melakukan penetrasi ke wilayah terpencil—misalnya saat terjadi bencana alam melalui jalur darat—menjadikan mereka mitra strategis yang sangat efektif untuk melapis kerja-kerja kemanusiaan pemerintah.
Tantangan Menghapus Stigma Negatif: Kendati potensi sosialnya besar, tantangan riil yang dihadapi oleh komunitas otomotif (terutama klub motor besar atau mobil mewah) adalah persepsi publik terkait eksklusivitas, arogansi di jalan raya, dan ketimpangan sosial ekonomi yang kasat mata. Arahan Bamsoet agar komunitas menyeimbangkan identitas kelompok dengan aksi kemanusiaan adalah langkah mitigasi yang tepat. Untuk diakui secara tulus sebagai “perekat bangsa”, komunitas otomotif harus konsisten membuktikan bahwa kehadiran mereka di jalan raya memberikan dampak ekonomi dan rasa aman, bukan justru memicu kecemburuan sosial. ****

