JAKARTA, PARLE.CO.ID — Ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat dan melibatkan kekuatan regional serta global, anggota DPR RI Aboe Bakar Al-Habsyi memperingatkan bahwa dunia tengah bergerak menuju fase ketidakpastian yang berisiko luas. Ia menyerukan penghentian segera kekerasan, dengan menempatkan krisis kemanusiaan di Gaza sebagai titik paling mendesak untuk ditangani.
Dalam pernyataannya, Aboe Bakar menggambarkan konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat sebagai eskalasi yang tidak hanya berbahaya secara militer, tetapi juga berpotensi memperluas dampak geopolitik dan ekonomi ke berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara.
Ia menilai kelanjutan operasi militer Israel di Gaza telah memperdalam krisis kemanusiaan, sementara keterlibatan Iran dan Amerika Serikat justru meningkatkan risiko konflik yang lebih luas. Dalam konteks itu, ia mengkritik pendekatan Presiden AS Donald Trump yang dianggapnya memperuncing ketegangan.
“Dunia berada di ambang ketidakpastian besar. Eskalasi ini harus dihentikan,” ujar Aboe Bakar, menegaskan posisi politiknya yang mendorong penghentian agresi dari semua pihak.
Ia juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai penerapan standar ganda dalam hukum internasional, yang dinilai melemahkan upaya penyelesaian konflik secara adil. Menurutnya, gencatan senjata permanen di Gaza merupakan langkah awal yang krusial untuk meredakan ketegangan antara Israel dan Iran.
Dalam kerangka respons Indonesia, Aboe Bakar menyatakan dukungan terhadap pembentukan kaukus parlemen yang berfokus pada perdamaian Timur Tengah. Inisiatif tersebut, menurutnya, mencerminkan upaya memperluas peran diplomasi parlemen Indonesia di tengah keterbatasan jalur diplomasi formal.
“Parlemen tidak boleh hanya menjadi penonton. Ada tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan perdamaian,” katanya.
Meski mengakui bahwa dampak langsung dari inisiatif parlemen sulit diukur, ia menilai tekanan politik dan moral tetap memiliki nilai strategis dalam membentuk opini global.
Di luar aspek geopolitik, Aboe Bakar juga menggarisbawahi konsekuensi ekonomi yang mulai terasa. Ia memperingatkan potensi kenaikan harga energi global serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah sebagai dampak lanjutan dari instabilitas kawasan.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah memperkuat perlindungan sosial dan mempercepat langkah diversifikasi energi guna mengurangi ketergantungan pada pasar global yang bergejolak.
Di saat yang sama, ia memberikan apresiasi terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya tetap aktif merespons dinamika global. Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan upaya Indonesia menjaga keseimbangan antara kepentingan domestik dan komitmen terhadap stabilitas internasional. ***

