BerandaOpiniKecanggihan AI Berdampak ke Perekonomian Kita kah?

Kecanggihan AI Berdampak ke Perekonomian Kita kah?

Published on

spot_img
(Foto: Tia Anisa Rahman. ist)

Oleh: Tia Rahman*

DENGAN kemajuan teknologi yang semakin pesat, Artificial Intelligence atau AI telah mengubah berbagai aspek kehidupan, mulai dari bisnis, hingga sektor publik maupun pekerjaan. Bahkan, Indonesia juga tak luput dari perkembangan AI yang menjadi upaya untuk meningkatkan inovasi dan daya saing.

Tren perkembangan aplikasi kecerdasan buatan ini juga membuat banyak perusahaan di Indonesia yang mengadopsinya untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan kualitas layanan. Namun terkadang perkembangan AI juga menjadi dampak dalam penurunan lapangan pekerjaan yang berpengaruh terhadap masyarakat.

Tetapi ada beberapa kekhawatiran dari perkembangan AI terhadap pekerjaan manusia. Pasalnya, hampir separuh pekerjaan manusia dapat digantikan oleh robot bernama AI ini, yang pada akhirnya mengakibatkan pengurangan pegawai dan meningkatkan pengangguran di Indonesia.

Sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Presiden Ir. Joko Widodo (Jokowi), pada saat peresmian pembukaan Kongres ISEI dan Seminar Nasional 2024 di Surakarta, Jawa Tengah. Jokowi saat itu mengatakan kalau dirinya akan lebih berfokus pada pasar kerja, dan jangan sampai situasi global terlarut dan terbawa.

Dia juga mengingatkan tentang bonus demografi yang didapat Indonesia pada tahun 2030. “Inilah tantangan paling besar yang akan melompatkan kita menjadi negara maju atau tidak, sehingga sekali lagi, bonus demografi memerlukan pembukaan kesempatan kerja yang sebesar-besarnya,” ujar Kepala Negara itu.

Presiden Jokowi menyebut untuk membuka lapangan kerja saat ini, harus melewati tantangan berat dan itu dialami semua negara. Pertama, tantangan perlambatan ekonomi.

“Pertama perlambatan ekonomi global, kita tahu 2023 dari world bank global hanya tumbuh 2,7. Kemudian 2024 diperkirakan muncul angka 2,6, tahun depan muncul angka 2,7 artinya masih jauh dari yang diharapkan oleh semua negara. Kita bisa tumbuh di 5,1 ini sebuah hal yang paut kita syukuri karena ekonomi global yang tumbuh 2,6-2,7,” ujarnya.

Kedua, peningkatan otomasi di berbagai sektor kerja, semua sekarang ini mulai masuk ke sana semua, awal kita masih otomasi mekanik, kemudian muncul AI, muncul otomasi analitik. Setiap hari muncul hal-hal baru, dan kalau kita baca 2025 pekerjaan yang akan hilang itu ada 85 juta sebuah jumlah yang tidak kecil.

“Kita dituntut untuk buka lapangan kerja tepat pada tahun 2025, 85 juta pekerjaan akan hilang karena tadi adanya peningkatan otomasi di berbagai sektor,” beber Jokowi lagi.

Kemudian tantangan ketiga yakni sistem kerja paruh waktu. Untuk yang satu ini, Presiden Jokowi mewanti-wanti ke depan perusahaan akan memperkerjakan pekerja paruh waktu yang bisa dikerjakan di mana saja, sehingga dapat mengurangi risiko pemanasan.

“Hati-hati dengan ini, ekonomi serabutan, ekonomi paruh waktu, jika tidak dikelola dengan baik ini akan menjadi tren, perusahaan akan memilih pekerja independen, perusahaan lebih milih pekerja freelancer, perusahaan lebih milih kontrak jangka pendek untuk mengurangi risiko terjadinya global yang sedang terjadi. Bisa bekerja di sini, bisa di negara lain, sehingga sekali lagi kesempatan kerja semakin sempit dan semakin berkurang,” ucap Presiden Jokowi (Sumber https://news.detik.com/berita/d-7548065/jokowi-otomasi-hingga-ai-bikin-85-juta-pekerjaan-hilang-di-2025/amp).

Dari sini, penulis meyakini bahwasanya dampak dan pengaruh Artificial Intellegence (AI), memiliki dampak positif serta negatif dalam perekonomian masyarakat, serta berpengaruh juga terhadap lapangan pekerjaan yang terancam tergantikan.

Memang, sekarang ini masuk dalam era globalisasi, tetapi kita juga harus mengantisipasi dampak dari perkembangannya, utamanya bagi kesejahteraan rakyat.

Dan, pemerintah boleh mengikuti perkembangan era globalisasi, namun jangan lupa tujuan dibentuknya pemerintah salah satunya adalah mensejahterahkan rakyat yang dipimpinnya. Penulis berharap perkembagan teknokogi seperti AI ini, dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM)-nya, bukan sebaliknya! ***

* Penulis adalah Mahasiswi Manajemen, S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.

Media kami tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Jika Anda merasa analisis kebijakan di artikel ini bermanfaat, bantu kami tetap independen dengan berdonasi mulai dari Rp10.000.

Latest articles

AI dalam Dunia Hukum Semakin Tak Terhindarkan

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi (Anggota Panja Artificial Intelligence (AI) BKSAP DPR RI dari...

566 Penerima MBG Diduga Keracunan di Sidoarjo, Abidin Fikri Desak BGN Evaluasi Total

Insiden dugaan keracunan yang menimpa ratusan penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok...

Restorasi Desa Adat Sade Dimulai, Fahri Hamzah: Bentuk Asli Rumah Adat Jadi Prioritas Pemerintah

Pemerintah memastikan rencana restorasi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak...

Fahri Hamzah Desak BPS Benahi Data Backlog Rumah, Soroti Lesunya Daya Serap Pasar

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah mendesak Badan Pusat Statistik (BPS)...

More like this

AI dalam Dunia Hukum Semakin Tak Terhindarkan

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi (Anggota Panja Artificial Intelligence (AI) BKSAP DPR RI dari...

566 Penerima MBG Diduga Keracunan di Sidoarjo, Abidin Fikri Desak BGN Evaluasi Total

Insiden dugaan keracunan yang menimpa ratusan penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok...

Restorasi Desa Adat Sade Dimulai, Fahri Hamzah: Bentuk Asli Rumah Adat Jadi Prioritas Pemerintah

Pemerintah memastikan rencana restorasi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak...