Oleh: Fahri Hamzah (Penulis Buku Trilogi Kesejahteraan)
Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis kabar yang patut disambut dengan optimisme. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada triwulan pertama 2026 — angka tertinggi sejak kuartal tiga (Q3) 2022, atau dengan kata lain, sejak Q1-2013, pertumbuhan ekonomi Q1-2026 adalah yang tertinggi di antara Q1 dalam 13 tahun terakhir dan jauh melampaui capaian periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,87 persen.
Di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja, ini adalah pencapaian yang tidak boleh dianggap remeh. Apapun, kerja kabinet, khususnya tim ekonomi harus dihargai.
Dunia Sedang Sulit, Indonesia Tetap Melaju
Sebelum kita berbicara angka, penting untuk meletakkan konteks globalnya. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 3,1 persen untuk 2026. Negara-negara maju tumbuh jauh di bawah proyeksi global — rata-rata 1,8 persen. Amerika Serikat hanya tumbuh 2,7 persen. Singapura 4,6 persen. Tiongkok 5,0 persen.
Sementara itu, Indonesia tumbuh 5,61 persen, mengalahkan hampir semua mitra dagang utamanya. Ini bukan keberuntungan. Ini adalah hasil dari kebijakan yang menjaga stabilitas di dalam negeri ketika gejolak datang dari luar. Kepemimpinan Pak Prabowo dengan seluruh timnya layak mendapatkan dukungan. Pengawasan tetap harus dilakukan agar momentum tetap kita jaga bersama.
Rakyat Bergerak
Berita menggembirakan dari data BPS kali ini adalah bahwa pertumbuhan ekonomi dirasakan langsung oleh rakyat. Inilah tujuan sebenarnya dari kebijakan Presiden Prabowo sejak awal, mengajak semua orang terlibat. Kegiatan ekonomi tidak selayaknya membatasi aktornya. Semua harus terlibat.
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi — menyumbang 2,94 poin persentase dari total 5,61 persen. Artinya, lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari daya beli dan aktivitas konsumsi masyarakat sendiri. Ini membanggakan, rakyat bergeliat.
Ini bukan pertumbuhan yang hanya terasa di lantai bursa saham atau laporan korporasi besar. Ini pertumbuhan yang terasa di warung makan, di terminal bus, di bandara, di toko-toko kecil sepanjang mudik Lebaran. Koperasi, kampung nelayan, renovasi rumah adalah mesin ekonomi rakyat.
Jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 13,14 persen. Penumpang angkutan darat melonjak 20,20 persen. Sektor akomodasi dan makan minum — yang menyentuh langsung UMKM dan pekerja kecil — tumbuh impresif 13,14 persen. Ekonomi bergerak. Rakyat bergerak, masa depan cerah.
MBG: Bukan Sekadar Janji Kampanye
Salah satu yang paling menonjol dalam data BPS kali ini adalah konfirmasi dampak nyata program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program unggulan Presiden Prabowo ini tidak hanya menyentuh gizi anak-anak Indonesia — ia juga menggerakkan roda ekonomi. BPS secara eksplisit menyebut perluasan cakupan MBG sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan sektor akomodasi dan makan minum.
Konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen — sebagian besar karena pemerintah benar-benar hadir: membayar THR tepat waktu, menjalankan MBG, dan memberikan insentif transportasi selama Ramadan dan Idulfitri. Kritik terhadap MBG selama ini banyak. Tapi data berbicara: program ini nyata, berjalan, dan dampaknya terukur. Ke depan, perbaikan sistem penyelenggaraan MBG tetap terus harus dilakukan, ini harapan kita semua.
Investasi Solid, Konstruksi Mengakselerasi
Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan membutuhkan investasi. Dan di sinilah data Q1-2026 memberikan sinyal yang sangat positif. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) — ukuran investasi dalam perekonomian — tumbuh 5,96 persen. Realisasi investasi BKPM naik 7,22 persen. Impor barang modal meningkat 14,27 persen — artinya dunia usaha sedang mempersiapkan kapasitas produksi untuk masa depan.
Yang lebih mengesankan adalah akselerasi sektor konstruksi, tumbuh 5,49 persen, naik signifikan dari hanya 3,89 persen di kuartal sebelumnya. Ini sinyal bahwa pembangunan fisik — infrastruktur, perumahan, fasilitas publik — sedang berjalan dengan momentum yang semakin kuat.
Industri manufaktur juga menunjukkan kepercayaan diri. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada di zona ekspansi — artinya para pengusaha optimistis terhadap kondisi bisnis ke depan.
Pemerataan yang Nyata: Semua Wilayah Tumbuh
Ini mungkin yang paling jarang disorot, padahal sangat bermakna: seluruh wilayah Indonesia tumbuh positif pada triwulan pertama 2026. Kampung saya, Bali dan Nusa Tenggara memimpin dengan 7,93 persen. Sulawesi menyusul dengan 6,95 persen. Jawa tumbuh 5,79 persen. Bahkan Maluku dan Papua — kawasan yang selama ini sering tertinggal — tumbuh 4,46 persen, jauh lebih baik dari tahun sebelumnya yang hanya 1,70 persen.
Pertumbuhan yang merata bukan hanya soal angka. Ini soal keadilan ekonomi — bahwa kemakmuran tidak hanya dirasakan di Jakarta dan kota-kota besar Jawa, tetapi juga menyentuh saudara-saudara kita di ujung timur Indonesia.
Pengangguran Turun, Kualitas Kerja Membaik
BPS juga merilis data ketenagakerjaan yang menggembirakan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,68 persen pada Februari 2026 — lebih rendah dari 4,76 persen setahun sebelumnya. Jumlah penduduk bekerja bertambah 1,896 juta orang dalam setahun.
Yang lebih penting: proporsi pekerja penuh waktu meningkat dari 66,19 persen menjadi 66,77 persen. Ini bukan hanya soal lebih banyak orang yang bekerja — tapi lebih banyak orang yang bekerja dengan lebih baik, lebih produktif, dengan jam kerja yang lebih memadai.
Perspektif yang Jujur
Tentu saja, satu data satu kuartal bukan akhir dari perjalanan. Masih ada pekerjaan rumah yang besar: memperkuat ekspor yang baru tumbuh 0,90 persen, mengatasi kontraksi di sektor pertambangan (meski kita tahu karena pemerintah sedang memperbaiki tata kelola dan kedisiplinan sektor tambang dan perkebunan), mempercepat realisasi program perumahan, dan terus mendorong formalisasi pekerja informal.
Namun dalam konteks satu setengah tahun pertama kepemimpinan Presiden Prabowo, data BPS hari ini adalah laporan kemajuan yang menggembirakan. Stabilitas terjaga, momentum tumbuh, dan fondasi sedang dibangun.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia membuktikan bahwa kita bisa tetap melaju. Tidak dengan klaim kosong — tapi dengan angka yang bisa diverifikasi, yang dirilis oleh lembaga statistik resmi negara. 5,61 persen bukan hanya angka. Ini adalah bukti bahwa arah yang diambil sudah benar. Selanjutnya kita perlu maju dan bergerak bersama menyongsong masa depan. ***
— Data bersumber dari Berita Resmi Statistik BPS dirilis 5 Mei 2026.

