JAKARTA, PARLE.CO.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil mempertahankan tren positif pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/26). Meski bursa kawasan Asia mayoritas memerah akibat ketegangan geopolitik, IHSG ditutup menguat tipis 0,83 poin atau 0,01 persen ke posisi 9.134,70.
Dinamika Pasar: January Effect dan Menanti RDG BI
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan bahwa penguatan IHSG didorong oleh momentum January Effect. Di sisi lain, pelaku pasar domestik saat ini sedang dalam posisi wait and see menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 20-21 Januari 2026.
Potensi January Effect dan Dinamika Global Jelang RDG Bank Indonesia Menjadi Motor Penggerak Bursa
“Pelaku pasar mulai memposisikan diri menjelang keputusan suku bunga acuan BI yang krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global,” tulis tim riset tersebut.
Sentimen Global: Ancaman Tarif Donald Trump
Berbeda dengan pasar domestik, bursa saham Asia justru terbebani oleh sentimen negatif dari Barat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan memberlakukan tarif baru mulai 1 Februari 2026 terhadap negara-negara Eropa yang menentang proposal pembelian Greenland.
Uni Eropa bersiap melakukan perlawanan dengan rencana pengenaan tarif balasan terhadap AS senilai 108 miliar dolar AS. Ketegangan ini memicu kewaspadaan tinggi di pasar modal global.
Selain itu, ketidakpastian politik di Jepang setelah PM Sanae Takaichi berencana membubarkan parlemen, serta keputusan Bank Sentral China (PBoC) yang mempertahankan suku bunga Loan Prime Rate (LPR) di level 3,0 persen, turut mewarnai pergerakan indeks regional.
Analisis Sektoral dan Statistik Perdagangan
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor berhasil parkir di zona hijau. Sektor barang baku memimpin penguatan sebesar 2,49 persen, disusul sektor barang konsumen non-primer (2,08 persen) dan sektor industri (1,86 persen).
Sebaliknya, sektor transportasi & logistik mengalami koreksi terdalam sebesar 0,42 persen. Saham-saham seperti TOSK, BAIK, dan AWAN masuk dalam jajaran top gainers, sementara POLU dan INOV memimpin jajaran top losers.
Frekuensi perdagangan tercatat sangat tinggi mencapai 3,94 juta kali transaksi dengan nilai transaksi menembus Rp29,78 triliun. Tercatat 336 saham menguat, 323 saham menurun, dan 143 saham stagnan.
Kinerja Bursa Asia Sore Ini:
-
Nikkei (Jepang): Melemah 1,03% ke 53.029,00
-
Hang Seng (Hong Kong): Melemah 0,29% ke 26.487,51
-
Shanghai (China): Melemah 0,01% ke 4.113,65
-
Strait Times (Singapura): Melemah 0,14% ke 4.828,00
Analisis: Mengukur Resiko Perang Dagang AS-Eropa Terhadap Stabilitas Rupiah
Ancaman tarif baru Presiden AS Donald Trump terhadap Uni Eropa sebesar 10%—yang dijadwalkan berlaku 1 Februari 2026—bukan sekadar urusan Barat. Sebagai ekonomi yang sedang berakselerasi, Indonesia berada dalam jangkauan “gelombang kejut” yang dapat menggoyang stabilitas Rupiah.
Berikut adalah tiga dampak krusial yang perlu diwaspadai:
1. Fenomena “Safe Haven” dan Keperkasaan Dollar
Ketegangan perdagangan global cenderung membuat investor menghindari aset berisiko di pasar berkembang (emerging markets). Jika Uni Eropa merealisasikan tarif balasan senilai 108 miliar dolar AS, pasar finansial global akan mengalami guncangan volatilitas. Investor kemungkinan besar akan menarik dana dari pasar saham dan obligasi Indonesia untuk dipindahkan ke aset safe haven seperti Dollar AS dan emas. Hal ini berpotensi memicu tekanan depresiasi pada nilai tukar Rupiah.
2. Tekanan pada Ekspor dan Harga Komoditas
Meskipun konflik ini terjadi antara AS dan Eropa, perlambatan ekonomi di dua blok raksasa tersebut akan menurunkan permintaan global secara keseluruhan. Jika manufaktur Eropa melambat akibat tarif Trump, permintaan terhadap bahan baku dari Indonesia (seperti nikel, karet, dan produk sawit) bisa ikut terkoreksi. Penurunan kinerja ekspor akan memperlebar defisit transaksi berjalan, yang merupakan fondasi utama kekuatan Rupiah.
3. Dilema Kebijakan Moneter Bank Indonesia
RDG Bank Indonesia pada 21 Januari 2026 berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, momentum January Effect membutuhkan suku bunga yang akomodatif untuk mendukung pertumbuhan. Namun, di sisi lain, ancaman perang dagang memaksa BI untuk tetap hawkish atau mempertahankan suku bunga tinggi guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik agar modal asing tidak keluar (capital outflow).
Kesimpulan: Stabilitas Rupiah di kuartal pertama 2026 akan sangat bergantung pada seberapa agresif kebijakan proteksionisme Trump dan ketahanan cadangan devisa kita dalam meredam volatilitas pasar. Indonesia harus memperkuat diversifikasi pasar ekspor ke wilayah non-tradisional agar tidak terjebak dalam pusaran konflik transatlantik ini. (P-01)

