BerandaLegislatifPanduan Praktis: 5 Langkah Implementasi Disiplin Positif di Sekolah Tanpa Kekerasan

Panduan Praktis: 5 Langkah Implementasi Disiplin Positif di Sekolah Tanpa Kekerasan

Published on

spot_img

JAKARTA, PARLE.CO.ID — Menanggapi keprihatinan Komisi X DPR RI atas maraknya kasus kekerasan, sekolah dituntut untuk beralih dari model pendisiplinan kuno yang bersifat menghukum (punishment) ke model Disiplin Positif. Berikut adalah langkah-langkah implementasinya:

1. Ganti Hukuman dengan Konsekuensi Logis

Hukuman seringkali tidak ada hubungannya dengan kesalahan (misalnya: telat masuk sekolah disuruh push-up). Disiplin positif menggunakan konsekuensi logis.

Membangun Karakter Siswa Melalui Pendekatan Humanis di Lingkungan Pendidikan

  • Contoh: Jika siswa mencorat-coret meja, konsekuensinya bukan berdiri di depan kelas, melainkan membersihkan meja tersebut hingga bersih kembali. Ini mengajarkan tanggung jawab atas tindakan.

2. Libatkan Siswa dalam Membuat “Keyakinan Kelas”

Daripada membuat daftar “Peraturan Sekolah” yang bersifat satu arah, ajaklah siswa berdiskusi untuk menciptakan Keyakinan Kelas.

  • Tujuan: Siswa merasa memiliki aturan tersebut karena mereka ikut merumuskannya. Misalnya, keyakinan untuk “Saling Menghargai” lebih kuat maknanya daripada larangan “Dilarang Mengejek”.

3. Gunakan Metode Segitiga Restitusi

Jika terjadi konflik antara guru dan siswa (seperti kasus di Jambi), gunakan tahapan restitusi:

  • Menstabilkan Identitas: “Wajar jika kamu marah, setiap orang bisa berbuat salah.”

  • Validasi Tindakan yang Salah: “Kamu pasti punya alasan melakukan itu, kan?”

  • Menanyakan Keyakinan: “Nilai apa yang kita sepakati? Bagaimana kamu bisa memperbaiki ini?”

4. Guru Sebagai “Manajer”, Bukan “Penghukum”

Guru harus memposisikan diri sebagai manajer yang membimbing siswa untuk mencari solusi atas masalah mereka sendiri, bukan sebagai penghukum yang memberikan rasa malu atau sakit fisik. Sesuai pesan Lalu Hadrian Irfani, guru harus menjadi figur idola yang memberikan rasa aman.

5. Lingkungan Sekolah yang Responsif (TPPK)

Segera aktifkan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah. Pastikan ada kanal pelaporan yang anonim dan aman bagi siswa maupun guru untuk melaporkan potensi konflik sebelum meledak menjadi kekerasan fisik. (P-01)

Catatan Redaksi: Implementasi disiplin positif terbukti mampu menurunkan angka perundungan (bullying) hingga 40% dan meningkatkan prestasi akademik karena siswa merasa dihargai dan aman secara emosional.

Media kami tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Jika Anda merasa analisis kebijakan di artikel ini bermanfaat, bantu kami tetap independen dengan berdonasi mulai dari Rp10.000.

Latest articles

Membaca Arah Operasi Senyap Prabowo

Oleh: Wartawan Senior Suherman Saleh* parle.co.id - Operasi politik tidak selalu berlangsung di panggung terbuka....

Ketua SMSI Babel Bardian Turun Langsung Bantu Korban Kebakaran 600 Rumah di Bangka Selatan

Ketua SMSI Babel Bardian (Foto : Ist) Bangka Selatan, Asatu Online – Ketua Serikat Media...

DPR Dorong Kampus Jadi Mitra Diplomasi Indonesia, dari Etika AI hingga OECD

Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI mendorong perguruan tinggi terlibat lebih aktif dalam...

Fahri Hamzah: Parliamentary Threshold 5 Persen, Kompromi Politik demi Kekuasaan

Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, menantang partai-partai besar yang...

More like this

Membaca Arah Operasi Senyap Prabowo

Oleh: Wartawan Senior Suherman Saleh* parle.co.id - Operasi politik tidak selalu berlangsung di panggung terbuka....

Ketua SMSI Babel Bardian Turun Langsung Bantu Korban Kebakaran 600 Rumah di Bangka Selatan

Ketua SMSI Babel Bardian (Foto : Ist) Bangka Selatan, Asatu Online – Ketua Serikat Media...

DPR Dorong Kampus Jadi Mitra Diplomasi Indonesia, dari Etika AI hingga OECD

Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI mendorong perguruan tinggi terlibat lebih aktif dalam...