spot_img
Senin, 9 Februari 2026
More
    spot_img
    BerandaPeristiwaPeringatan Bahaya Kanker Paru di Nusantara: Pakar Mendesak Program Deteksi Dini Jadi...

    Peringatan Bahaya Kanker Paru di Nusantara: Pakar Mendesak Program Deteksi Dini Jadi Agenda Pemerintah

    -

    BANDUNG, PARLE.CO.ID – Kanker paru tetap memegang predikat sebagai “pembunuh sunyi” nomor wahid di antara jenis kanker bagi penduduk Indonesia. Tingginya rasio kematian ini menjadi fokus utama saat penyelenggaraan Forum Kanker Paru ke-2 (POTI 2026) yang diadakan di Hotel Aryaduta, Bandung, dari tanggal 16 hingga 18 Januari 2026.

    POTI 2026 Kongres Kanker Paru: Menghubungkan Kemajuan Klinis dan Strategi Pengendalian Asap Rokok Demi Mengurangi Angka Kematian

    Kongres kedokteran terkemuka ini menekankan bahwa kunci untuk menekan laju kematian tidak semata terletak pada pengobatan, melainkan pada pengintegrasian program penyaringan (skrining) berskala nasional.

    Tahapan Akhir: Hambatan Utama Kelangsungan Hidup Pasien

    Ketua dari Perkumpulan Onkologi Toraks Indonesia (POTI), dr. Andika Chandra Putra, Ph.D, Sp.P(K)-Onk, menyuarakan kegelisahannya mengenai pola “penemuan di fase terlambat” yang dialami mayoritas penderita. Pasien yang teridentifikasi ketika penyakit sudah masuk stadium lanjut memiliki opsi penanganan yang amat terbatas, yang otomatis memperkecil prosentase harapan hidup mereka.

    “Angka kematian akibat kanker paru di Indonesia belum menunjukkan penurunan berarti lantaran sebagian besar penderita baru terdeteksi ketika stadiumnya sudah parah. Kita membutuhkan kebijakan pemerintah pusat yang mewajibkan pemeriksaan dini pada kelompok yang rentan risikonya,” ujar dr. Andika di sela-sela kongres yang mengusung tema “Seni dan Ilmu Onkologi Toraks” tersebut.

    Pemeriksaan CT Scan dan Komunitas Berisiko Tinggi

    Di dalam kongres, para pakar menganjurkan pemeriksaan Pindai Tomografi Komputasi Dosis Rendah (LDCT Scan) secara berkala bagi individu yang mempunyai riwayat mengonsumsi rokok selama kurun waktu 20 tahun terakhir. Deteksi awal semacam ini terbukti mampu menemukan benjolan dalam ukuran sangat kecil yang belum menunjukkan gejala klinis, sehingga intervensi medis dapat dilakukan dengan tujuan penyembuhan total.

    Penyesuaian Regulasi: Penghentian Rokok dan Pengawasan Produk Tembakau

    Di samping aspek medis, Kongres POTI 2026 juga menyoroti pentingnya aspek hulu, yakni mengenai penekanan penggunaan tembakau. Mengisap rokok, baik secara langsung maupun terpapar asapnya (pasif), tetap merupakan faktor risiko utama. Ketua Penyelenggara, dr. Yun Amril, Sp.P(K) Onk.T, menyatakan bahwa temuan ilmiah di laboratorium harus mampu diterapkan secara nyata dalam pelayanan kesehatan harian baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit.

    “Kongres ini berfungsi sebagai wahana penghubung. Kami menginginkan tata laksana terkini dan program dukungan berhenti merokok yang berkelanjutan menjadi standar pelayanan kesehatan rutin di seluruh wilayah Indonesia,” jelas dr. Yun Amril.

    Kerja Sama Berbagai Segmen

    Diperlukan adanya kesatuan gerak antara pihak pemerintah, himpunan profesi, serta paguyuban masyarakat guna membangun sistem kesehatan yang proaktif. Harapannya, otoritas pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan kuratif yang mahal biayanya, melainkan melakukan investasi pada tatanan skrining terpadu yang terbukti jauh lebih efektif dalam menyelamatkan jiwa warga Indonesia dari ancaman kanker pada paru-paru.

    Poin Krusial Strategi Penanggulangan Kanker Paru Tahun 2026

    Akses Deteksi Dini: Pembakuan standar LDCT Scan untuk kategori perokok aktif maupun mantan perokok.

    Aturan Asap Rokok: Implementasi ketat zona larangan merokok dan penyediaan dukungan medis bagi masyarakat yang bermaksud menghentikan kebiasaan merokok.

    Sosialisasi Massa: Menghilangkan anggapan bahwa kanker paru hanya menyerang para perokok, mengingat individu yang tidak merokok namun terpapar asap juga memiliki risiko tinggi.

    Siapa Saja yang Wajib Melakukan Skrining Kanker Paru?

    Banyak orang mengira kanker paru hanya dideteksi saat batuk berdarah muncul. Padahal, skrining harus dilakukan sebelum gejala ada jika Anda termasuk dalam kategori berikut:

    1. Perokok Aktif & Mantan Perokok

      • Berusia antara 45 hingga 70 tahun.

      • Memiliki riwayat merokok 20 tahun atau lebih (misal: 1 bungkus sehari selama 20 tahun).

    2. Perokok Pasif Kronis

      • Sering terpapar asap rokok di lingkungan rumah atau tempat kerja dalam jangka waktu lama.

    3. Paparan Zat Kimia & Industri

      • Pekerja yang sering bersentuhan dengan asbes, radon, arsenik, atau polusi udara ekstrem.

    4. Riwayat Keluarga

      • Memiliki anggota keluarga inti (orang tua atau saudara kandung) yang pernah menderita kanker paru.

    5. Penyintas Penyakit Paru Lain

      • Pernah mengidap PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) atau TB (Tuberkulosis) yang meninggalkan jaringan parut di paru.

    Metode Skrining Terbaik 2026: Low-Dose CT (LDCT) Scan. Prosedur ini cepat, tidak sakit, dan memiliki radiasi jauh lebih rendah dibandingkan CT Scan konvensional, namun mampu melihat benjolan sekecil biji kacang.

    (P-01)

     

    TERKAIT

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Stay Connected

    0FansSuka
    0PengikutMengikuti
    0PengikutMengikuti
    22,800PelangganBerlangganan
    spot_img

    TERKINI