SINGAPURA, PARLE.CO.ID – Singapura berharap Malaysia dapat memajukan agenda keberlanjutan kawasan selama memegang Keketuaan ASEAN tahun ini, ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Singapura, Dr. Vivian Balakrishnan. Ia mengatakan hal ini dapat dicapai dengan membangun infrastruktur yang diperlukan, kerangka peraturan, dan dukungan keuangan untuk transisi energi terbarukan.
“Keberlanjutan adalah prioritas utama ASEAN, karena Asia Tenggara sangat rentan terhadap perubahan iklim, seperti yang terlihat pada bencana Topan Yagi pada tahun 2024. Kami akan bekerja bersama menuju pembentukan ASEAN Power Grid, yang menjadi pilar untuk masa depan yang berkelanjutan,” kata Balakrishnan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/1/2025), menjelang Pertemuan Retret Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM).
Balakrishnan menyatakan keyakinan penuh dan komitmen Singapura terhadap kepemimpinan Malaysia sebagai Ketua ASEAN. Singapura juga menantikan penyelesaian substansial dari Perjanjian Kerangka Ekonomi Digital (DEFA).
Ia menjelaskan bahwa perjanjian ini akan mempercepat transformasi digital di ASEAN dan menciptakan ekonomi digital yang lebih terintegrasi di kawasan tersebut.
“DEFA juga akan memberdayakan bisnis dan menarik investasi global, dengan potensi menggandakan nilai ekonomi digital ASEAN hingga US$2 Triliun pada tahun 2030,” tambahnya.
Menlu Singapura itu menyatakan bahwa prioritas utama negaranya tahun ini adalah bekerja sama dengan Malaysia untuk mewujudkan KTT Asia Timur (EAS) ke-20 yang substantif, termasuk pelaksanaan proyek-proyek di bawah Kerangka Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik (AOIP).
ASEAN Tingkatkan Keterlibatan
Dalam konteks global yang semakin kompetitif, ASEAN harus meningkatkan keterlibatan dengan kekuatan eksternal utama, terutama melalui EAS, yang pertama kali diadakan di Kuala Lumpur pada 2005.
“Dua dekade kemudian, dunia telah banyak berubah. Kami mendukung upaya Malaysia untuk memastikan bahwa EAS tetap menjadi alat efektif untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan,” ujarnya.
Dia mencatat bahwa ASEAN pada 2025 menghadapi tiga tantangan utama, yaitu ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, krisis iklim, serta peluang dan tantangan teknologi baru termasuk kecerdasan buatan, bioteknologi, dan energi terbarukan. Dalam Retret AMM yang akan datang akhir pekan ini, ia menegaskan bahwa Singapura akan memprioritaskan pengembangan ekonomi hijau dan digital ASEAN.
“Kami juga akan meningkatkan upaya untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antar negara anggota agar semua negara di ASEAN dapat berkontribusi dan memperoleh manfaat dari pertumbuhan dan kemakmuran kawasan,” tambahnya. Ia menyebutkan bahwa Visi Komunitas ASEAN (ACV) 2045 memberikan peta jalan untuk mencapai tujuan tersebut.
Balakrishnan menyatakan bahwa selama hampir enam dekade, ASEAN telah menjaga stabilitas kawasan dan membangun komunitas yang bersatu untuk menciptakan pertumbuhan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Ia menambahkan bahwa komitmen terhadap inklusivitas adalah elemen utama yang membuat integrasi ASEAN dapat terwujud, meskipun terdapat keragaman budaya, bahasa, dan sistem politik di kawasan tersebut.
Retret AMM akan diadakan pada 18-19 Januari di Langkawi, sebuah pulau yang terkenal dengan lanskap alam dan pantainya di negara bagian utara Kedah, Malaysia. Pertemuan ini menandai pertemuan pertama para Menteri Luar Negeri ASEAN di bawah Keketuaan Malaysia untuk tahun 2025. (Red)

