Gencatan senjata AS-Iran terancam pecah jelang perundingan di Pakistan. Washington tuduh Teheran langgar janji Selat Hormuz, sementara Israel serang Lebanon.
JERUSALEM, PARLE.CO.ID – Kesepakatan gencatan senjata dua minggu yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan tanda-tanda keretakan serius pada Jumat (10/4/2026). Ketegangan ini memuncak hanya sehari sebelum kedua belah pihak dijadwalkan bertemu di Pakistan untuk merundingkan penyelesaian konflik.
Dikutip dari laporan Reuters, Washington menuduh Teheran melanggar janji terkait pembukaan blokade di Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran mengklaim serangan udara Israel ke Lebanon telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang baru saja diumumkan Presiden Donald Trump pada Selasa lalu.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda Iran akan mencabut blokade total di Selat Hormuz—jalur vital yang membawa seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan ini telah memicu krisis energi global terburuk sepanjang sejarah. Teheran bersikeras bahwa serangan berkelanjutan Israel terhadap Lebanon menjadi penghambat utama kemajuan kesepakatan.
Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di media sosialnya menyatakan kekecewaannya. Ia menyebut Iran melakukan pekerjaan yang “sangat buruk” dalam mengizinkan aliran minyak melewati selat tersebut.
“Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!” tulis Trump. Ia juga menegaskan bahwa minyak akan segera mengalir kembali, tanpa merinci langkah apa yang akan diambil AS jika blokade terus berlanjut.
Data menunjukkan bahwa dalam 24 jam pertama gencatan senjata, hanya satu kapal tanker produk minyak dan lima kapal curah kering yang melintasi Selat Hormuz. Padahal, sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu, rata-rata 140 kapal melintasi jalur tersebut setiap harinya.
Militer Israel mengonfirmasi telah menyerang 10 peluncur roket di Lebanon pada Jumat pagi sebagai balasan atas serangan kelompok Hezbollah. Israel dan AS berpendapat bahwa gencatan senjata saat ini tidak mencakup wilayah Lebanon, di mana Israel sedang berupaya menumpas kekuatan Hezbollah.
Namun, Iran dan Pakistan selaku mediator menegaskan bahwa Lebanon adalah bagian eksplisit dari kesepakatan tersebut. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa Lebanon dan sekutu regional Iran lainnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gencatan senjata mana pun.
Ayatollah Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, bahkan mengeluarkan pernyataan menantang bahwa Iran akan menuntut kompensasi atas setiap kerusakan yang diderita selama perang dan tidak akan membiarkan “agresor kriminal” lolos tanpa hukuman.
Terlepas dari ketegangan yang meningkat, otoritas Pakistan tetap mempersiapkan putaran pertama pembicaraan antara AS dan Iran pada hari Sabtu esok. Delegasi AS diperkirakan akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran mengirimkan delegasi tingkat tinggi.
Perundingan ini akan fokus pada proposal 10 poin Iran yang mencakup kontrol Selat Hormuz, pengakuan hak pengayaan nuklir, pencabutan sanksi, dan penghentian perang termasuk terhadap Hezbollah di Lebanon. Di saat yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah memberikan instruksi untuk memulai pembicaraan damai guna melucuti senjata Hezbollah dan membangun hubungan damai dengan Lebanon.
Analisis Redaksi Parle.co.id: Benturan Interpretasi
Situasi di ambang perundingan Pakistan ini menunjukkan betapa “abu-abunya” definisi gencatan senjata dalam konflik modern. Analisis kami melihat ada benturan interpretasi yang sangat berbahaya antara Washington dan Teheran: AS memandang gencatan senjata sebagai instrumen ekonomi (pembukaan Selat Hormuz), sementara Iran memandangnya sebagai instrumen geopolitik (perlindungan terhadap proksinya, Hezbollah).
Jika blokade Selat Hormuz tidak segera dibuka, tekanan ekonomi global akan memaksa Donald Trump untuk mengambil tindakan militer yang lebih drastis sesuai dengan ancaman sebelumnya terhadap infrastruktur sipil Iran. Namun, tuntutan Iran agar Israel menghentikan serangan di Lebanon menjadi “buah simalakama” bagi AS, mengingat Israel adalah sekutu utama yang memiliki agenda keamanannya sendiri.
Kegagalan perundingan pada hari Sabtu besok di Pakistan dapat memicu eskalasi yang jauh lebih besar, yang tidak hanya melumpuhkan ekonomi dunia melalui harga minyak, tetapi juga berisiko menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam perang total yang tidak terkendali. *****

