Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas usai serangan militer AS dan Israel. Simak sejarah kepemimpinan Khamenei dan dampak geopolitiknya.
TEHERAN, PARLE.CO.ID — Sejarah besar Republik Islam Iran bergejolak. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas menyusul rangkaian serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Kematian ulama berusia 86 tahun tersebut mengakhiri masa kepemimpinan panjangnya yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade sejak 1989.
Wafatnya Khamenei menutup lembaran kepemimpinan paling berpengaruh sejak Revolusi 1979. Selama memerintah, ia memegang otoritas tertinggi atas seluruh cabang kekuasaan, kendali penuh militer, serta kebijakan strategis negara sebagai pemimpin spiritual dan politik.
Kematian Khamenei terjadi di tengah eskalasi konflik regional yang memuncak sejak serangan 7 Oktober 2023. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya telah bersumpah untuk melumpuhkan kekuatan Iran, yang berpuncak pada serangan langsung Israel ke wilayah Iran pada Juni 2025.
Operasi militer tersebut akhirnya menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik. Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan total dalam operasi gabungan tersebut. Serangan ini menghantam jantung pertahanan Iran yang selama 30 tahun terakhir relatif terhindar dari invasi langsung berkat strategi “Axis of Resistance”.
Lahir di Mashhad pada 1939, Khamenei adalah sosok yang dididik dalam tradisi religius ketat dan telah memenuhi syarat sebagai ulama pada usia 11 tahun. Ia merupakan tokoh kunci dalam perlawanan terhadap rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi dan sempat beberapa kali dipenjara sebelum Revolusi Islam 1979 meletus.
Khamenei naik takhta sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989. Meski sempat lumpuh lengan kanannya akibat upaya pembunuhan pada 1981, ia dikenal sebagai politisi ulung yang piawai mengonsolidasikan kekuatan melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan pasukan paramiliter Basij.
Di bawah kendalinya, Iran mengembangkan program nuklir yang menjadi titik nadir hubungan Teheran dengan Barat. Meski Khamenei berulang kali menegaskan program tersebut untuk tujuan sipil—sebuah klaim yang didukung oleh intelijen AS dan PBB yang tidak menemukan bukti senjata atom—Israel dan pemerintahan Trump tetap mendorong narasi sebaliknya.
Bagi pendukungnya, Khamenei dipandang sebagai pemimpin teguh yang berani melawan “musuh nomor satu”, Amerika Serikat. Namun, bagi para pengkritik, ia dianggap sebagai penguasa otoriter yang menindas oposisi domestik dan membawa Iran ke dalam isolasi ekonomi melalui sanksi berat dari Barat.
Hingga berita ini diturunkan, dunia internasional tengah memantau ketat siapa yang akan mengisi kekosongan kekuasaan di Iran dan bagaimana dampak kematian ini terhadap peta geopolitik Timur Tengah ke depan. *****

