BerandaLegislatifProgram MBG Bukan Sekadar Makan Gratis, Cellica Tekankan Pentingnya Literasi Gizi

Program MBG Bukan Sekadar Makan Gratis, Cellica Tekankan Pentingnya Literasi Gizi

Published on

spot_img

Upaya pemerintah menekan angka stunting melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak akan optimal tanpa diiringi peningkatan literasi gizi di tingkat keluarga. Selain memastikan anak memperoleh asupan makanan bergizi, pemahaman orang tua—terutama ibu—mengenai pola makan sehat dan pola asuh yang tepat menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program tersebut.

Anggota Komisi IX DPR RI Cellica Nurrachadiana mengatakan, Program MBG dapat menjadi salah satu instrumen efektif untuk menjangkau wilayah dengan angka stunting tinggi, terutama daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pemenuhan gizi. Namun, menurutnya, intervensi tersebut harus berjalan beriringan dengan edukasi gizi kepada masyarakat.

“MBG menjadi salah satu solusi untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau dengan jumlah anak stunting yang banyak untuk memberikan pendampingan, baik berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) maupun asupan gizi tambahan MBG. Itu menjadi salah satu solusi, di samping literasi gizi juga perlu dilakukan. Menurut saya, seorang ibu perlu memahami literasi gizi dan pola asuh yang baik,” ujar Cellica dalam keterangan tertulis, Selasa (21/7/2026).

Cellica menegaskan, Program MBG tidak semata-mata dipahami sebagai pemberian makanan gratis, melainkan bagian dari strategi membangun kebiasaan konsumsi pangan bergizi sejak dini. Karena itu, masyarakat perlu memahami konsep Isi Piringku sebagai pedoman gizi seimbang yang dianjurkan Kementerian Kesehatan.

Menurut dia, pemahaman mengenai komposisi makanan bergizi harus dimiliki seluruh keluarga, terutama para ibu, agar asupan yang dikonsumsi anak benar-benar mampu mendukung pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.

“Isi Piringku perlu dipahami semua pihak, khususnya ibu-ibu, bahwa makanan yang memang dikonsumsi oleh anak-anak mereka ini benar-benar bergizi buat tumbuh kembang anak-anak mereka,” kata politikus dari Partai Demokrat itu.

Selain faktor pengetahuan, Cellica menilai kondisi ekonomi masyarakat masih menjadi tantangan utama dalam upaya menekan prevalensi stunting. Keterbatasan kemampuan ekonomi kerap berdampak pada rendahnya akses keluarga terhadap makanan bergizi.

Ia menambahkan, kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pengelola Program MBG diharapkan dapat memberikanmengurangi ketimpangan akses terhadap pemenuhan gizi sekaligus memperkuat intervensi pemerintah dalam pencegahan stunting secara lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, Cellica menekankan pentingnya peran kader posyandu, terutama di wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T) maupun kawasan Indonesia timur yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses menuju layanan pemenuhan gizi.

“Belum lagi tentunya akses infrastruktur di daerah-daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T) dan timur, apalagi jauh dari SPPG, bagaimana PMT oleh kader posyandu itu bisa mendekatkan akses,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan keberhasilan pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada program di sekolah, tetapi juga ditentukan oleh peran keluarga. Kolaborasi antara orang tua dan kader posyandu dinilai penting untuk memastikan pemantauan tumbuh kembang anak dilakukan secara rutin, khususnya selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang menjadi fase paling menentukan bagi kualitas kesehatan anak.

“Stunting kan banyak faktornya, ekonomi, pola asuh, literasi gizi, akses pemenuhan gizi mereka terbatas. Tugas seorang ibu bisa melihat apakah tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya, kita di posyandu kan ditimbang setiap sebulan sekali. Untuk orang tua, khususnya kaum ibu yang memiliki perhatian, bahwa anak-anak mereka harus tumbuh dan sehat, maka harus aware itu,” tutur Cellica.

Ia optimistis peningkatan literasi gizi dan pola asuh di tingkat keluarga akan memperkuat efektivitas Program MBG dalam menurunkan angka stunting. Menurutnya, kepedulian orang tua, khususnya ibu, terhadap pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak merupakan fondasi utama untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.

Media kami tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Jika Anda merasa analisis kebijakan di artikel ini bermanfaat, bantu kami tetap independen dengan berdonasi mulai dari Rp10.000.

Latest articles

DPR Setujui RUU SDI Jadi Usul Inisiatif, Targetkan Tata Kelola Data Nasional yang Terintegrasi

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, resmi menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang Satu Data Indonesia (RUU...

Mensesneg Prasetyo Minta Polemik Kasus Febrie Adriansyah Tak Seret Nama Prabowo

Pemerintah menegaskan bahwa penanganan perkara hukum yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana...

Pemprov DKI Diminta Perluas Waste Station, DPRD Tekankan Pentingnya Keteladanan

Sebuah waste station yang mulai beroperasi di Balai Kota Jakarta, dipandang sebagai langkah awal...

Hotman Paris Minta Maaf kepada Insan Pers, Jelaskan Kronologi Ucapan “Punya Otak Gak Sih?”

Pengacara Hotman Paris Hutapea akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada insan pers, seperti...

More like this

DPR Setujui RUU SDI Jadi Usul Inisiatif, Targetkan Tata Kelola Data Nasional yang Terintegrasi

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, resmi menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang Satu Data Indonesia (RUU...

Mensesneg Prasetyo Minta Polemik Kasus Febrie Adriansyah Tak Seret Nama Prabowo

Pemerintah menegaskan bahwa penanganan perkara hukum yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana...

Pemprov DKI Diminta Perluas Waste Station, DPRD Tekankan Pentingnya Keteladanan

Sebuah waste station yang mulai beroperasi di Balai Kota Jakarta, dipandang sebagai langkah awal...