Ketua Umum PERIKHSA Bambang Soesatyo (Bamsoet) meluncurkan jaket anti-begal bersertifikasi internasional NIJ Level IIIA untuk meredam risiko fatalitas kejahatan jalanan.
Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Umum Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Beladiri Indonesia (PERIKHSA), Bambang Soesatyo (Bamsoet), menuturkan bahwa meningkatnya aksi kejahatan jalanan (street crime) di berbagai daerah telah menimbulkan keresahan yang serius di tengah masyarakat. Fenomena pembegalan, perampasan kendaraan bermotor dengan senjata api, penjambretan disertai kekerasan, hingga aksi penusukan di jalan raya membuktikan bahwa ancaman keamanan dapat mengintai kapan saja dan menimpa siapa saja.
Merespons situasi tersebut, PERIKHSA menelurkan sebuah inovasi perlindungan diri dengan menggandeng produsen lokal, Anubis Bodyarmor. Kolaborasi ini melahirkan produk jaket anti-begal (anti-peluru dan anti-senjata tajam) sebagai proteksi tambahan bagi masyarakat yang aktif berkendara di jalan raya.
“Keamanan masyarakat merupakan kebutuhan dasar yang harus mendapat perhatian serius. Karena itu, PERIKHSA berkolaborasi dengan Anubis Bodyarmor membuat jaket anti begal sebagai salah satu solusi perlindungan diri bagi masyarakat yang beraktivitas di jalan. Produk dalam negeri karya anak bangsa ini dirancang untuk memberikan alternatif keamanan tambahan ketika menghadapi ancaman kejahatan jalanan yang semakin mengkhawatirkan,” ujar Bamsoet di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Tren Kriminalitas Jalanan Masih Tinggi
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, visualisasi data Korps Bhayangkara (Polri) sepanjang tahun 2025 hingga semester pertama 2026 menunjukkan tindak kriminal jalanan masih menjadi salah satu bentuk kejahatan yang paling banyak dikeluhkan oleh masyarakat luas.
Di sejumlah wilayah metropolitan utama seperti Jabodetabek, Medan, Makassar, Surabaya, hingga Bandung, aparat kepolisian berulang kali membongkar jaringan pelaku begal yang beroperasi secara berkelompok. Modus operandi mereka semakin berani dengan mempersenjatai diri menggunakan senjata tajam seperti celurit, golok, pisau, bahkan hingga senjata api rakitan. Dampaknya, banyak korban yang harus mengalami luka berat, trauma psikologis yang mendalam, hingga kehilangan nyawa akibat aksi brutal tersebut.
“Perkembangan modus kejahatan jalanan menunjukkan bahwa pelaku semakin nekat. Mereka tidak segan melukai korban dengan senjata tajam ataupun menggunakan senjata api. Kondisi ini menuntut hadirnya berbagai upaya preventif yang dapat membantu masyarakat meningkatkan perlindungan diri saat berada di ruang publik,” kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.
Spesifikasi Militer Standar Internasional NIJ Level IIIA
Dari sisi teknis, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini memaparkan bahwa jaket anti-begal hasil kolaborasi PERIKHSA dan Anubis Bodyarmor diproduksi menggunakan teknologi perlindungan balistik modern. Pakaian pelindung ini mengantongi spesifikasi National Institute of Justice (NIJ) Level IIIA, yang merupakan standar sertifikasi perlindungan balistik internasional yang diakui dalam menghadapi ancaman senjata api genggam maupun serangan senjata tajam.
Komponen utama jaket ini memanfaatkan panel Soft Body Armor berkualitas tinggi dengan adopsi teknologi Amerika Serikat yang seluruh proses produksinya dikerjakan di dalam negeri. Berkat spesifikasi tangguh tersebut, jaket ini mampu menahan tusukan senjata tajam secara akurat serta meredam hantaman tembakan senjata api proyektil tajam hingga kaliber besar seperti peluru .44 Magnum.
“Fungsi utamanya adalah memberikan lapisan perlindungan yang akurat di tempat sasaran yang mematikan sehingga peluang korban untuk selamat dan terhindar dari luka fatal menjadi lebih besar,” urai Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela FKPPI tersebut.
Kendati mengenalkan proteksi fisik portabel, Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menegaskan bahwa penekanan angka kejahatan jalanan harus tetap diselesaikan lewat hulu ke hilir secara komprehensif. Langkah pengetatan patroli kepolisian, penambahan kamera pengawas (CCTV) di titik rawan, penerangan jalan umum yang memadai, peningkatan kesejahteraan, hingga edukasi keamanan lingkungan harus terus berjalan beriringan.
“PERIKHSA mendukung penuh berbagai langkah aparat keamanan bertindak tegas terukur dalam memberantas kejahatan jalanan. Pada saat yang sama, kami juga ingin menghadirkan inovasi yang dapat membantu masyarakat merasa lebih aman ketika bekerja, berkendara, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari,” pungkas Bamsoet.
Analisis Jeli untuk Pembaca di Indonesia: Swadaya Keamanan di Tengah Ketakutan Publik dan Prospek Industri Defensif Lokal
Langkah PERIKHSA meluncurkan jaket anti-begal berspesifikasi balistik militer menarik perhatian publik sekaligus melahirkan analisis mendalam terkait realitas sosial dan industri pertahanan di Indonesia:
1. Refleksi Ketakutan Sosial dan Fenomena “Self-Defense Swadaya”
Munculnya produk jaket anti-begal komersial bersertifikasi internasional (NIJ Level IIIA) ke ruang publik merupakan indikator tidak langsung bahwa kecemasan masyarakat terhadap keamanan ruang terbuka (public space) berada pada level yang mengkhawatirkan. Ketika masyarakat mulai melirik perlengkapan taktis anti-peluru dan anti-tusuk untuk sekadar berkendara harian, hal ini menandakan adanya pergeseran persepsi. Perlindungan diri kini tidak lagi dianggap sebagai wilayah monopoli aparat penegak hukum, melainkan mulai bertransisi menjadi kebutuhan swadaya individu demi meminimalisasi risiko fatalitas akibat keterlambatan respons pengamanan di titik-titik rawan urban.
2. Standar NIJ Level IIIA: Over-Spesifikasi yang Rasional?
Spesifikasi NIJ Level IIIA yang mampu menahan peluru sekaliber .44 Magnum terhitung sangat tinggi untuk ukuran pakaian pengendara motor harian. Di atas kertas, spesifikasi ini lazimnya digunakan oleh personel kepolisian atau unit pengamanan khusus. Namun, jika dikorelasikan dengan data Polri (2025–2026) mengenai maraknya peredaran senjata api rakitan (senpi rakitan) dan penggunaan senjata tajam berukuran besar (seperti celurit panjang) oleh komplotan begal, over-spesifikasi ini menjadi pilihan proteksi yang rasional. Target utama jaket ini adalah melindungi organ vital di area dada dan punggung dari serangan dadakan yang mematikan.
3. Kebangkitan Industri Perlengkapan Defensif dan Taktis Dalam Negeri
Keterlibatan Anubis Bodyarmor membuktikan bahwa industri manufaktur perlengkapan taktis lokal atau body armor dalam negeri memiliki kapabilitas teknologi yang mumpuni dan kompetitif dengan pasar global. Kolaborasi ini dapat memicu pertumbuhan industri kreatif di bidang tactical apparel domestik. Jika produk ini mampu dipasarkan dengan harga yang relatif terjangkau serta memiliki bobot yang ergonomis (nyaman digunakan dalam cuaca tropis Indonesia), jaket anti-begal ini tidak hanya diminati oleh anggota perkumpulan senjata api, melainkan berpotensi diserap oleh pekerja lapangan berisiko tinggi seperti pengemudi ojek online malam hari, kurir logistik, hingga petugas keamanan swasta. Pers Rilis
