Bogor dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai kota berdaya saing global, selain dikenal sebagai kota wisata dan pusat pendidikan. Bahkan, Bogor memiliki modal strategis di bidang riset, pariwisata, ekonomi halal, hingga diplomasi internasional yang dapat dimanfaatkan untuk menarik investasi dan memperluas kerja sama dengan berbagai negara.
Dalam kunjungan kerja ke Pemerintah Kota Bogor pada Senin (13/7/2026), Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, mengatakan BKSAP siap mendukung promosi potensi unggulan Kota Bogor melalui jalur diplomasi parlemen agar mampu menembus jejaring internasional.
“Kehadiran kami di Kota Bogor bukan sekadar menikmati keindahan Kota Hujan atau mencicipi talas Bogor. Kami datang membawa misi besar, yakni bagaimana melentingkan potensi lokal Bogor agar mampu go international dan berkibar di kancah global,” ujar Habib Aboe.
Menurut dia, diplomasi parlemen dapat menjadi instrumen untuk membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara, termasuk dalam bidang investasi, pendidikan, penelitian, hingga pengembangan ekonomi daerah.
“Tugas kami di BKSAP adalah membuka pintu gerbang ke dunia internasional melalui diplomasi parlemen. Kami ingin potensi-potensi hebat yang dimiliki Bogor dapat dikenal dan bekerja sama dengan berbagai mitra dunia,” katanya.
Habib Aboe menilai sektor agri-teknologi dan wisata hijau menjadi salah satu kekuatan utama Kota Bogor. Keberadaan Kebun Raya Bogor sebagai pusat konservasi dan riset botani serta IPB University sebagai pusat riset pertanian dinilai menjadi modal penting untuk membangun kemitraan internasional.
Ia mengusulkan agar Bogor menjalin kerja sama sister city dengan kota-kota yang memiliki kekuatan di bidang riset, seperti Wageningen di Belanda maupun Tsukuba di Jepang.
“Bogor memiliki Kebun Raya Bogor sebagai pusat riset botani dunia dan IPB University sebagai episentrum riset agrikultur. Ini adalah modal besar untuk membangun kerja sama sister city dengan kota-kota riset dunia,” ujarnya.
Selain menjadi destinasi wisata, Habib Aboe mendorong agar Kebun Raya Bogor dikembangkan sebagai pusat kolaborasi internasional dalam isu perubahan iklim. Menurutnya, penguatan citra tersebut berpotensi menarik pendanaan hijau dan memperluas kerja sama global.
“Kebun Raya jangan hanya dipandang sebagai tempat rekreasi. Kita harus membangun branding sebagai Global Hub untuk isu perubahan iklim sehingga mampu menarik pendanaan hijau internasional. BKSAP siap membantu membuka jalannya melalui jejaring parlemen dunia,” katanya.
Di sektor ekonomi kreatif, Habib Aboe juga melihat peluang besar bagi Bogor untuk menjadi pusat diplomasi kuliner halal dan wisata berbasis warisan budaya. Menurut dia, kekayaan sejarah serta berkembangnya industri halal dapat menjadi daya tarik bagi pasar internasional.
Ia mengusulkan penyelenggaraan Bogor International Halal Food & Heritage Festival secara rutin dengan melibatkan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan ASEAN sebagai upaya memperluas akses ekspor bagi pelaku UMKM kuliner.
“Bogor memiliki potensi luar biasa sebagai pelopor Halal Gastronomy Diplomacy. Saya mendorong Pemerintah Kota Bogor menyelenggarakan secara rutin Bogor International Halal Food & Heritage Festival sehingga UMKM kuliner Bogor dapat langsung menembus pasar ekspor,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Habib Aboe menegaskan bahwa penguatan diplomasi ekonomi daerah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, DPR RI, dan pemerintah daerah. Menurut dia, keberhasilan promosi potensi daerah juga harus diimbangi dengan kemudahan perizinan, penguatan infrastruktur digital, serta iklim investasi yang kondusif.
“BKSAP akan terus membuka akses jejaring internasional. Sementara itu, Pemerintah Kota Bogor perlu menyiapkan ekosistem yang mendukung. Jika seluruh potensi ini disinergikan, saya optimistis ekonomi masyarakat Bogor akan semakin maju dan berdaya saing global,” pungkasnya.


