Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi rencana Wikinara Indonesia untuk melantai di bursa (Go Public) sebagai langkah memperkuat transparansi bisnis.
JAKARTA, PARLE.CO.ID – Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), memberikan apresiasi tinggi terhadap rencana strategis Wikinara Indonesia untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau Go Public. Langkah ini dinilai sebagai bukti keseriusan perusahaan dalam memperkuat tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas bisnis di industri penjualan langsung.
Pernyataan tersebut disampaikan Bamsoet saat menghadiri acara buka puasa bersama Wikinara Indonesia di Jakarta, Sabtu malam (7/3/2026). Acara ini turut dihadiri para pendiri Wikinara seperti Dewi Bamsoet, Ina Rachman, dr. Oky Pratama, Putra Siregar, serta para pimpinan (leader) dari seluruh Indonesia.
“Rencana Wikinara untuk melangkah ke pasar modal patut diapresiasi karena menunjukkan keseriusan perusahaan dalam memperkuat tata kelola dan akuntabilitas bisnis. Go public merupakan langkah besar yang menuntut kesiapan manajemen serta sistem keuangan yang sehat,” ujar Bamsoet.
Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan bahwa rencana Wikinara melantai di bursa mencerminkan kematangan industri penjualan langsung (direct selling) di Indonesia. Menurutnya, selama ini sektor tersebut sering mendapatkan persepsi keliru akibat praktik skema piramida yang merusak reputasi industri.
Bamsoet menegaskan bahwa perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI), termasuk Wikinara, memiliki standar operasional dan kode etik ketat yang menjunjung tinggi perlindungan konsumen.
“Langkah Wikinara menuju pasar modal dapat menjadi contoh bahwa industri penjualan langsung mampu berkembang secara profesional dan memenuhi standar tata kelola perusahaan modern,” tegas Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.
Lebih lanjut, Bamsoet menilai jika rencana go public terealisasi, Wikinara berpotensi menjadi salah satu perusahaan penjualan langsung nasional yang memperkuat posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Dengan jaringan pemasaran yang kuat dan adaptasi teknologi digital, industri ini diyakini mampu berkontribusi nyata terhadap ekonomi nasional.
Namun, ia juga mengingatkan agar langkah menuju pasar modal tersebut dibarengi dengan penguatan literasi bisnis bagi para mitra usaha.
“Langkah menuju pasar modal harus dibarengi dengan penguatan literasi bisnis bagi para mitra usaha, peningkatan kualitas produk, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital agar dapat tumbuh lebih sehat dan berdaya saing,” pungkas Bamsoet. ****

