Di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap transparansi lembaga legislatif, peran jurnalisme parlemen kembali mendapat sorotan. Bukan hanya sebagai penyampai informasi harian, wartawan parlemen dinilai memegang fungsi yang lebih mendasar: menjadi saksi sejarah sekaligus penjaga ingatan kolektif bangsa atas setiap proses demokrasi yang berlangsung di Gedung DPR RI.
Pandangan itu disampaikan Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, saat membuka Pameran Foto Jurnalistik “Warna-warni Parlemen #16” dan meluncurkan rangkaian Anugerah Jurnalistik Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (3/8/2026). Di hadapan wartawan, pimpinan sekretariat DPR, dan pengurus KWP, Rieke tidak hanya berbicara mengenai karya fotografi, tetapi juga tentang bagaimana sejarah demokrasi dibangun melalui lensa kamera.
Bagi Rieke, perjalanan seorang anggota parlemen tidak pernah berlangsung sendirian. Di balik setiap pembahasan undang-undang, rapat yang berlangsung hingga larut malam, perdebatan politik, maupun keputusan yang memengaruhi jutaan warga negara, selalu ada wartawan yang merekam, mencatat, dan menyampaikan seluruh proses itu kepada publik.
Ia mengenang saat pertama kali dilantik menjadi anggota DPR lebih dari tiga dekade silam. Momen yang menurutnya menjadi titik awal pengabdiannya sebagai wakil rakyat itu, kata Rieke, tidak akan menjadi bagian dari memori publik tanpa kehadiran jurnalis parlemen yang mengabadikannya.
“Selama mengemban amanah rakyat di gedung ini saya tidak pernah melangkah sendirian. Selalu ada teman-teman wartawan parlemen yang mengawal setiap proses demokrasi sehingga suara rakyat tetap terdengar di ruang-ruang pengambilan keputusan,” ujarnya.
Narasi tersebut menjadi penegasan bahwa hubungan parlemen dan media, dalam pandangan Rieke, bukan semata relasi antara narasumber dan peliput. Ia melihatnya sebagai kemitraan demokratis yang memastikan akuntabilitas lembaga negara tetap terjaga di hadapan masyarakat.
Di ruang pameran yang menampilkan 100 karya foto jurnalistik, Rieke mengajak para tamu melihat lebih jauh daripada sekadar komposisi gambar atau kualitas artistik. Menurutnya, setiap foto merekam jejak sejarah yang suatu hari akan menjadi referensi bagi generasi mendatang untuk memahami bagaimana demokrasi Indonesia bekerja.
Sebagai sosok yang juga memiliki keterkaitan dengan dunia kearsipan nasional, Rieke mengatakan foto jurnalistik memiliki nilai dokumentasi yang tidak tergantikan. Di dalamnya tersimpan rekaman mengenai kerja keras, dinamika politik, perdebatan, bahkan emosi yang mewarnai proses pengambilan keputusan di parlemen.
“Foto-foto itu bukan hanya gambar. Mereka sedang merajut memori kolektif perjuangan bangsa. Setiap jepretan menyimpan cerita tentang perjalanan demokrasi Indonesia,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah berkembangnya era digital ketika arus informasi bergerak sangat cepat, sementara dokumentasi visual sering kali hanya dipandang sebagai pelengkap pemberitaan. Bagi Rieke, justru di tengah derasnya informasi itulah karya jurnalistik yang akurat dan terdokumentasi dengan baik menjadi semakin penting sebagai penanda sejarah.
Ia menilai perjalanan menuju visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan pengawasan publik yang konsisten. Dalam konteks itu, media memiliki fungsi yang tidak dapat digantikan sebagai penghubung antara proses politik di parlemen dengan masyarakat luas.
Momentum pembukaan pameran foto juga dirangkai dengan peluncuran Anugerah Jurnalistik KWP 2026 yang mengangkat tema “DPR di Panggung Dunia”. Tema tersebut, menurut Rieke, mencerminkan harapan agar aktivitas legislasi, pengawasan, hingga diplomasi parlemen Indonesia dapat dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.
Ia mengatakan, melalui laporan investigatif, analisis mendalam, serta foto-foto jurnalistik yang kuat, masyarakat dunia dapat melihat bagaimana demokrasi Indonesia terus berkembang di tengah berbagai tantangan politik dan sosial.
Lebih jauh, Rieke mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya ditulis melalui dokumen resmi negara, melainkan juga melalui karya jurnalistik yang lahir dari lapangan. Karena itu, ia mengajak wartawan parlemen terus menjaga independensi, integritas, dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya.
“Dengan memohon rahmat dan ridho Tuhan Yang Maha Esa, Pameran Foto Jurnalistik Warna-warni Parlemen #16 sekaligus rangkaian Anugerah Jurnalistik KWP 2026 secara resmi saya nyatakan dibuka,” katanya.
Menutup sambutannya, Rieke menyampaikan pesan yang menjadi refleksi atas peran jurnalisme dalam perjalanan bangsa.
“Perjuangan selembar foto mungkin akan memudar dimakan usia. Namun memori perjuangan yang kita bangun bersama akan tetap hidup mengawal langkah bangsa menuju Indonesia Emas. Teruslah membidik dengan hati, karena melalui lensa wartawan parlemen, denyut demokrasi Indonesia akan terus dikenang,” tuturnya.
Jurnalisme sebagai Penjaga Memori Demokrasi
Di banyak negara demokrasi, dokumentasi jurnalistik menjadi salah satu sumber utama dalam merekonstruksi sejarah politik. Indonesia tidak terkecuali. Arsip foto, laporan lapangan, hingga liputan mendalam sering kali menjadi rujukan akademisi, peneliti, maupun masyarakat untuk memahami bagaimana sebuah kebijakan lahir dan bagaimana dinamika politik berlangsung.
Pesan Rieke Diah Pitaloka memperlihatkan bahwa keberadaan wartawan parlemen bukan hanya penting bagi kebutuhan informasi sehari-hari, tetapi juga bagi pembentukan memori kolektif bangsa. Dalam konteks itu, setiap foto yang dihasilkan bukan sekadar gambar, melainkan bukti sejarah yang akan tetap berbicara ketika para pelaku politik telah berganti generasi.


