Mengapa sweater bendera Amerika buatan Ralph Lauren tetap abadi sejak 1989 hingga era TikTok? Simak sejarah, evolusi desain, dan rilis buku ‘Catwalk’ terbarunya!
Jika berbicara tentang busana musim panas yang melambangkan kemewahan tanpa usaha (effortless luxury), ada satu pakaian yang selalu berhasil mencuri perhatian di berbagai belahan dunia. Pakaian tersebut tidak lain adalah sweater bendera Amerika dari Ralph Lauren.
Sweater rajut ikonis yang sering dipakai oleh selebriti papan atas seperti Gigi Hadid dan Jessica Chastain ini baru saja mendapatkan sorotan khusus. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seri buku mode terkenal ‘Catwalk’ merilis volume yang mendedikasikan seluruh isinya untuk melacak sejarah panjang desainer asal Amerika Serikat, dan Ralph Lauren terpilih sebagai pelopornya. Buku bertajuk Ralph Lauren Catwalk yang merangkum lebih dari 1.300 foto orisinal ini resmi dirilis ke publik untuk merekam perjalanan sang desainer dari tahun 1972 hingga 2025.
Berawal dari Seni Rakyat hingga Menjadi “Penyembuh” Pasca-Tragedi 9/11
Sweater bendera Amerika ini pertama kali diperkenalkan ke publik pada koleksi Fall 1989. Sang desainer, Ralph Lauren, mengungkapkan bahwa inspirasi awal pembuatan sweater rajut katun ini datang dari kecintaannya pada kesederhanaan seni rakyat (American folk art) dan selimut perca kuno yang mencerminkan warisan budaya yang otentik.
Sepanjang perjalanannya, pakaian ini tidak hanya menjadi sekadar tren mode busana, melainkan simbol budaya yang mendalam. Salah satu momen paling emosional dan bersejarah terjadi pada September 2001. Hanya berselang 10 hari setelah tragedi runtuhnya gedung WTC (9/11), Ralph Lauren berjalan di atas runway New York Fashion Week dengan mengenakan sweater bendera ini sebagai penutup peragaan busananya. Di tengah suasana duka yang menyelimuti ibu kota mode tersebut, visi optimis Ralph Lauren melalui simbol bendera di pakaiannya hadir sebagai penyejuk dan penguat bagi komunitas mode dunia.
Tabel Evolusi Desain Sweater Bendera Ralph Lauren di Panggung Runway
Sebagai salah satu desain yang paling bertahan lama, Ralph Lauren secara konsisten mendesain ulang sweater ini dalam berbagai variasi material dan potongan:
| Tahun Koleksi / Runway | Evolusi Bentuk & Padu Padan Gaya | Karakteristik Gaya |
| Fall 1989 (Debut) | Rajutan katun buatan tangan (hand-knit), pertama kali diperagakan oleh model Isabelle Townsend. | Klasik, otentik, penuh pesona kesederhanaan kerajinan tangan. |
| Spring 2018 | Dipadukan secara berani dengan celana pendek berwarna kuning cerah dan sepatu hak tinggi (high heels). | Segar, modern, cocok untuk suasana liburan musim panas. |
| Fall 2018 | Versi warna biru dongker (navy) yang dimasukkan ke dalam celana khaki berikat pinggang, lengkap dengan sepatu bot koboi. | Nuansa gaya hidup keluarga yang hangat dan berkelas. |
| Spring 2025 | Reinterpretasi dalam bentuk kerah tinggi (turtleneck) yang dipadukan dengan celana pendek model bloomer. | Kontemporer, berjiwa muda, dan tetap memancarkan kemewahan. |
Analisis: Mengapa Estetika “Old Money” Ini Begitu Diminati Lokal?
Meskipun mengusung simbol bendera negara asing, popularitas dan relevansi desain Ralph Lauren memiliki dampak serta daya tarik yang sangat besar bagi pencinta mode di Indonesia:
1. Meroketnya Tren Estetika “Old Money” dan “Quiet Luxury” di Indonesia
Beberapa tahun terakhir, lini masa media sosial di Indonesia—khususnya TikTok dan Instagram—sedang sangat menggandrungi tren gaya busana Old Money atau Quiet Luxury. Gaya busana ini mengutamakan pakaian yang terlihat mahal bukan karena logo yang besar, melainkan karena kualitas potongan dan kesan klasik yang ditampilkan. Sweater Ralph Lauren adalah representasi utama dari estetika ini. Bagi kalangan menengah ke atas di Indonesia, mengenakan pakaian dengan potongan rajutan seperti ini memberikan status sosial tersendiri yang elegan tanpa terkesan pamer berlebihan (flexing).
2. Sifat Pakaian yang “Timeless” (Tak Lekang oleh Waktu)
Konsumen fesyen di Indonesia saat ini sudah mulai beralih dari tren baju cepat saji (fast fashion) yang cepat rusak menuju konsep sustainable fashion atau capsule wardrobe (koleksi pakaian esensial). Fakta bahwa sweater Ralph Lauren ini tetap terlihat modis sejak tahun 1989 hingga tahun 2026 membuktikan kekuatan desain yang timeless. Pembaca di Indonesia melihat pakaian rajut berkualitas tinggi sebagai bentuk investasi jangka panjang yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi tanpa takut terlihat ketinggalan zaman.
3. Adaptasi Gaya untuk Cuaca Tropis dan Ruangan Ber-AC
Meskipun Indonesia adalah negara tropis, sweater katun rajutan ringan seperti buatan Ralph Lauren ini sangat fungsional bagi masyarakat urban di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Pakaian jenis ini sangat sering digunakan sebagai pelindung tubuh yang modis saat bekerja di dalam ruangan kantor atau pusat perbelanjaan yang memiliki pendingin ruangan (AC) yang dingin. Selain itu, teknik melampirkan sweater di atas bahu (sweater-on-shoulders style) kini menjadi tren padu padan favorit remaja lokal untuk nongkrong di kafe-kafe estetik karena memberikan kesan santai namun tetap rapi. Source
