Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu Menkeu RRT Lan Fo’an di Beijing. Bahas penguatan strategi pembiayaan dan persiapan penerbitan Panda Bond.
Pemerintah Indonesia terus mengambil langkah proaktif dalam memperkuat strategi pembiayaan pembangunan nasional yang terukur, disiplin, dan berorientasi jangka panjang. Komitmen strategis ini ditegaskan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, saat melakukan kunjungan kerja dan pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Lan Fo’an, di Beijing pada Rabu (17/6/2026).
Pertemuan bilateral ini difokuskan untuk memperluas basis investor global, memperdalam kemitraan ekonomi, serta membuka akses pembiayaan yang lebih luas demi menjaga keberlanjutan pembangunan di tengah volatilitas ekonomi dunia. Menkeu Purbaya menegaskan bahwa langkah ini diambil dari posisi tawar Indonesia yang kuat, ditopang oleh fundamental ekonomi makro yang resilien, defisit anggaran yang aman, serta rasio utang yang terkendali.
“Kami datang ke Beijing bukan karena terdesak, tetapi karena Indonesia memiliki posisi yang kuat untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Ketika fondasi ekonomi kokoh, kita memiliki ruang untuk bertindak lebih strategis dan lebih percaya diri,” ujar Menkeu Purbaya.
Diversifikasi Pendanaan Melalui Sovereign Panda Bond dan LCT
Salah satu agenda utama dalam kunjungan kerja ke Beijing ini adalah mematangkan persiapan penerbitan instrumen utang sovereign Panda Bond (obligasi berdenominasi mata uang Renminbi yang diterbitkan oleh penerbit asing di pasar Tiongkok). Instrumen ini dinilai strategis untuk melakukan diversifikasi sumber pendanaan internasional sekaligus memperluas basis investor di pasar modal RRT.
Selain itu, penerbitan Panda Bond diarahkan untuk mengoptimalisasi skema Kerja Sama Transaksi Mata Uang Lokal atau Local Currency Transaction (LCT) antara kedua negara. Langkah ini diharapkan mampu mereduksi ketergantungan terhadap mata uang global utama (seperti Dolar AS) dalam aktivitas investasi dan perdagangan bilateral.
Selain bertemu dengan Menkeu RRT, Menkeu Purbaya dijadwalkan menghadiri serangkaian pertemuan dengan lembaga keuangan internasional dan regional terkemuka untuk memperluas jejaring kemitraan pembiayaan:
Tabel Agenda Pertemuan Strategis Menkeu Purbaya di Beijing
| No | Lembaga / Institusi Mitra | Fokus Utama Pembahasan |
| 1 | Kementerian Keuangan RRT (Menkeu Lan Fo’an) | Penguatan kerja sama bilateral, koordinasi multilateral (G20, APEC, ASEAN+3) |
| 2 | People’s Bank of China (PBOC) | Pendalaman kebijakan moneter bilateral dan optimalisasi skema LCT |
| 3 | Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) | Peluang pembiayaan baru untuk proyek infrastruktur strategis nasional |
| 4 | SCO Development Bank | Perluasan jejaring kemitraan strategis dan diversifikasi pendanaan global |
Analisis: Mengukur Manfaat Diplomasi Fiskal RI-Tiongkok
Kunjungan kerja Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ke Beijing membawa implikasi penting yang patut dipahami oleh publik dan pelaku ekonomi di tanah air:
1. Keberanian Diversifikasi Melalui Panda Bond
Selama ini, pembiayaan eksternal Indonesia cukup didominasi oleh instrumen berdenominasi Dolar AS, Euro, atau Yen (Samurai Bond). Langkah Kemenkeu menyiapkan sovereign Panda Bond merupakan strategi cerdas untuk menangkap likuiditas melimpah di pasar modal Tiongkok. Dengan fundamental ekonomi dalam negeri yang diakui kuat oleh pasar internasional, Indonesia memiliki daya tawar tinggi untuk mendapatkan kupon obligasi yang kompetitif dari para investor Tiongkok.
2. Mengurangi Ketergantungan Dolar AS (Dedolarisasi via LCT)
Keterlibatan aktif Bank Sentral Tiongkok (PBOC) dalam rangkaian agenda ini memperkuat komitmen implementasi Local Currency Transaction (LCT). Bagi Indonesia, memperbesar porsi transaksi menggunakan Rupiah dan Renminbi dalam hubungan bilateral dapat menciptakan perisai stabilitas nilai tukar. Ketika gejolak moneter global atau kenaikan suku bunga bank sentral AS (eksternalitas shock) terjadi, sektor perdagangan dan pembiayaan Indonesia-Tiongkok tidak langsung terdistorsi karena tidak lagi bergantung penuh pada konversi Dolar AS.
3. Menjaga Keberlanjutan Fiskal di Tengah Ketidakpastian
Menkeu Purbaya mengirimkan sinyal psikologis penting kepada pasar: “Indonesia memilih menyiapkan masa depan dibanding menunggu kepastian.” Pembiayaan pembangunan infrastruktur jangka panjang membutuhkan kepastian dana yang kontinu. Dengan mendekati institusi pembangunan besar seperti AIIB dan mengamankan komitmen dari mitranya di Tiongkok, pemerintah memastikan roda proyek strategis nasional (PSN) dapat tetap berputar tanpa membebani kas langsung APBN secara agresif, melainkan melalui manajemen utang yang terdiversifikasi dan terukur. Source
