Jepang mencabut peringatan tsunami setelah gempa magnitudo 7,4 mengguncang lepas pantai Miyako. Simak perkembangan terkini dan dampak layanan Shinkansen.
TOKYO, PARLE.CO.ID – Otoritas Jepang resmi mencabut peringatan tsunami pada Senin malam waktu setempat, setelah gempa bumi kuat bermagnitudo 7,4 mengguncang wilayah utara dan timur laut negara itu. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dengan kekuatan serupa dalam sepekan ke depan.
Dikutip dari laporan Anadolu Agency, Selasa (21/4/2026), Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat aktivitas seismik terjadi sekitar pukul 07.52 GMT. Survei Geologi AS (USGS) melaporkan pusat gempa berada sekitar 71 mil di lepas pantai kota Miyako, Provinsi Iwate. Sementara itu, pemerintah Jepang mencatat kekuatan gempa mencapai magnitudo 7,7.
Sesaat setelah gempa, pemerintah sempat mengeluarkan peringatan tsunami di sepanjang pesisir Pasifik, meliputi wilayah Aomori, Hokkaido, dan Iwate.
“Bagi mereka yang berada di pesisir atau area sungai, segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi dan area yang lebih aman,” bunyi pemberitahuan resmi dari pemerintah Jepang.
Laporan dari Kyodo News mengonfirmasi bahwa gelombang tsunami sempat teramati di lepas pantai Provinsi Iwate dan Aomori. Awalnya, otoritas memperingatkan gelombang bisa mencapai ketinggian hingga tiga meter (10 kaki), namun status tersebut kemudian diturunkan menjadi saran (advisory) sebelum akhirnya dicabut sepenuhnya.
Terkait keamanan fasilitas vital, otoritas melaporkan bahwa tidak ada kelainan yang ditemukan pada pembangkit listrik tenaga nuklir di Provinsi Aomori dan Miyagi.
Meski demikian, guncangan hebat ini berdampak pada sektor transportasi. Operasional kereta peluru (bullet train) atau Shinkansen rute Tokyo menuju Provinsi Aomori sempat dihentikan sementara demi alasan keamanan.
Perdana Menteri Sanae Takaichi mendesak warga di daerah terdampak untuk tetap mengutamakan keselamatan dan mencari tempat tinggi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan besar atau korban jiwa.

Analisis Redaksi Parle.co.id: Peringatan Dini
Peristiwa gempa bumi di pesisir Miyako ini menunjukkan efektivitas sistem peringatan dini Jepang yang sangat responsif. Redaksi mencatat tiga poin penting dari kejadian ini:
Akurasi Mitigasi: Keputusan pemerintah untuk segera mengeluarkan perintah evakuasi dan menghentikan layanan Shinkansen menunjukkan prosedur keselamatan “tanpa kompromi”. Langkah ini meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa di wilayah yang secara historis rentan terhadap tsunami besar.
Ketahanan Infrastruktur Strategis: Laporan nihilnya kelainan pada pembangkit nuklir di Aomori dan Miyagi memberikan sentimen positif pada pasar. Jepang tampaknya telah memperkuat standar keamanan fasilitas nuklirnya secara signifikan pasca-peristiwa 2011, sehingga mampu bertahan menghadapi guncangan di atas magnitudo 7,0.
Kepemimpinan PM Takaichi: Kecepatan PM Sanae Takaichi dalam memberikan instruksi langsung menunjukkan stabilitas manajemen krisis di bawah kepemimpinannya. Namun, tantangan ke depan adalah kesiagaan menghadapi gempa susulan yang diperingatkan oleh JMA akan memiliki kekuatan yang hampir sama besar dalam waktu dekat. *****

