Siapa pemenang dari kesepakatan dagang Prabowo-Trump? Simak analisis sektor yang untung besar dari tarif 0% dan komitmen impor energi senilai miliaran dolar.
Oleh: Redaksi Parle.co.id
JAKARTA, PARLE.CO.ID — Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Dagang Resiprokal antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump pada 19 Februari 2026 menandai babak baru hubungan ekonomi kedua negara. Di tengah gejolak putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif global, posisi Indonesia dalam perjanjian ini menjadi sangat krusial.
Berikut adalah analisis sektor-sektor utama yang terdampak:
Dalam perjanjian ini, Indonesia berhasil mengamankan Tarif 0% untuk 53 kelompok komoditas pertanian unggulan. Ini adalah kemenangan diplomatik besar mengingat AS adalah pasar premium.
-
Penerima Manfaat: Eksportir kopi, kakao, rempah-rempah, dan minyak kelapa sawit (CPO).
-
Dampak: Harga produk Indonesia menjadi jauh lebih kompetitif dibandingkan produk serupa dari negara pesaing yang terkena tarif global 10%.
Industri tekstil dan pakaian jadi (apparel) mendapatkan skema khusus berupa Tariff Rate Quota (TRQ). Selama volume ekspor berada dalam kuota yang disepakati, produk tekstil Indonesia bisa masuk ke AS dengan tarif 0%. Hal ini diprediksi akan menyelamatkan jutaan tenaga kerja di sektor manufaktur dalam negeri.
Sektor ini mendapatkan relaksasi tarif umum menjadi 19% (turun dari rencana semula 32%). Selain itu, komponen elektronik, semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang mendapatkan fasilitas bebas bea masuk. Hal ini sejalan dengan ambisi Indonesia untuk masuk ke dalam rantai pasok global teknologi tinggi.
Kesepakatan ini tidak gratis. Sebagai timbal balik, Indonesia berkomitmen untuk:
-
Membuka akses pasar 99% produk AS dengan tarif 0%.
-
Melakukan pembelian produk energi (LNG, LPG, minyak mentah) senilai USD 15 miliar.
-
Pengadaan pesawat komersial (Boeing) senilai USD 13,5 miliar.
-
Relaksasi aturan non-tarif seperti penghapusan syarat TKDN untuk produk AS tertentu dan penyederhanaan sertifikasi halal bagi produk non-hewani asal Amerika.
Meskipun pengamat ekonomi memberikan catatan kritis mengenai ketimpangan nilai pembelian, langkah Presiden Prabowo dinilai sangat pragmatis. Dengan tarif global 10% yang membayangi negara lain, kepastian tarif 0% untuk komoditas unggulan Indonesia adalah “benteng” pelindung bagi neraca perdagangan nasional di tahun 2026. (P-01)

