Perubahan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) dinilai menuntut Indonesia memperkuat kualitas sumber daya manusia agar mampu menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja sekaligus menjaga kedaulatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam Dialog Kebangsaan untuk Negeri yang digelar Swarna Dwipa Institute (SDI) di Gould Coffee & Eatery, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Sabtu (22/8/2026). Dialog tersebut mengangkat tema “Kedaulatan Indonesia dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat” dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pendiri SDI Frans Immanuel Saragih mengatakan, dialog yang melibatkan berbagai komponen bangsa, termasuk aktivis lintas generasi, penting untuk memperkaya perspektif dalam merumuskan gagasan bagi masa depan Indonesia.
Menurut Frans, SDI dibentuk sebagai wadah bagi para aktivis dari berbagai generasi untuk bertukar pemikiran mengenai persoalan kebangsaan.
“Kami berharap SDI menjadi rumah besar bagi aktivis lintas generasi dan mengajak berdialog soal kebangsaan untuk menghasilkan pandangan baru dan hal-hal baik bagi Indonesia yang lebih maju,” kata Frans.
Tantangan Dunia Kerja di Era AI
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor yang menyampaikan keynote speech mengatakan, dialog kebangsaan dibutuhkan untuk ikut mengawal perjalanan Indonesia yang kini memasuki usia 81 tahun kemerdekaan.
Dia berharap SDI dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pembangunan Indonesia. Menurut dia, status SDI sebagai lembaga yang menggunakan nama institute juga menuntut adanya kajian yang berbasis ilmiah.
“Sebab bagaimana pun SDI di belakangnya ada embel-embel ‘Institute’ sehingga tidak bisa dipisahkan dengan kajian-kajian ilmiah,” ujar Afriansyah.
Dalam kesempatan tersebut, Afriansyah menyoroti dampak transformasi digital dan perkembangan AI terhadap berbagai sektor, termasuk ketenagakerjaan.
Menurut dia, ijazah perguruan tinggi kini tidak lagi menjadi satu-satunya modal untuk memasuki dunia kerja. Industri semakin membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi nyata, adaptif, dan siap menghadapi kebutuhan pekerjaan.
“Industri kini lebih memprioritaskan tenaga kerja yang memiliki kompetensi nyata, adaptif, dan siap kerja,” ujarnya.
Afriansyah mengatakan, kondisi tersebut membuat sertifikasi kompetensi menjadi nilai tambah bagi pekerja. Sertifikasi, kata dia, dapat menjadi bukti kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan industri yang berlangsung cepat.
“Tanpa keterampilan yang teruji, tenaga kerja lokal akan sulit menghadapi persaingan global yang kian ketat,” katanya.
Pemerintah Dorong Pemagangan Nasional
Afriansyah mengatakan pemerintah telah melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi perubahan yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi digital dan AI.
Salah satunya melalui program MagangHub atau Pemagangan Nasional yang kembali digulirkan pemerintah. Program tersebut diarahkan untuk membantu mengurangi kesenjangan keterampilan (skill gap) serta ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia usaha.
“Kementerian Ketenagakerjaan berkomitmen terus mencetak SDM unggul yang siap langsung diterjunkan ke berbagai sektor industri modern,” ujar Afriansyah.
Menurut dia, penguatan kompetensi menjadi semakin penting ketika dunia kerja menghadapi perubahan teknologi yang cepat. Pendidikan formal perlu berjalan beriringan dengan pengalaman praktis dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
SDI Berikan Penghargaan kepada Sejumlah Tokoh
Selain dialog, kegiatan tersebut diisi dengan pemberian penghargaan SDI kepada sejumlah tokoh yang dinilai berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia.
Penghargaan tersebut diberikan kepada Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor sebagai Tokoh Muda Peduli Buruh.
Kemudian, Dr. Ariawan sebagai Tokoh Muda Jurnalistik Kreatif; Dr. Hendrajit sebagai Tokoh Outstanding Geopolitical Thinker & Strategic Nation-Building Contributor; Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Tokoh Pergerakan Indonesia: Pelopor Kedaulatan Ekologis & Kesejahteraan Rakyat; serta Menteri Koperasi Ferry Juliantono sebagai Tokoh Transformasi Koperasi Modern Indonesia.
Pemberian penghargaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dialog Kebangsaan untuk Negeri yang digelar SDI sebagai ruang pertemuan dan pertukaran gagasan mengenai tantangan Indonesia, mulai dari kedaulatan, kesejahteraan rakyat, hingga perubahan dunia kerja akibat perkembangan teknologi.


