Iran tangkap sedikitnya 500 orang atas tuduhan spionase sejak serangan gabungan AS-Israel. Diduga bocorkan intelijen ke media luar negeri dan kelompok bersenjata.
TEHERAN, PARLE.CO.ID – Pemerintah Iran melalui otoritas kepolisian mengumumkan telah menangkap sedikitnya 500 orang atas tuduhan spionase dan kerja sama dengan pihak asing. Penangkapan besar-besaran ini dilakukan sejak dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut pada akhir Februari lalu.
Kepala Kepolisian Iran, Brigadir Jenderal Ahmadreza Radan, menyatakan bahwa para tersangka ditahan karena diduga melakukan kegiatan mata-mata untuk “musuh” serta berkolaborasi dengan media yang dianggap bermusuhan oleh Teheran.
“Para tersangka ditahan dengan tuduhan melakukan kegiatan mata-mata serta bekerja sama dengan media yang dianggap bermusuhan,” ujar Radan sebagaimana dilaporkan kantor berita Tasnim pada Minggu (15/3/2026).
Berdasarkan keterangan Radan, sekitar 250 orang dari total tersangka diduga memberikan informasi intelijen sensitif kepada Iran International TV, sebuah stasiun televisi yang berbasis di London. Informasi tersebut mencakup data mengenai lokasi-lokasi strategis yang menjadi target serangan militer.
Sebagai informasi, pemerintah Iran telah menetapkan Iran International TV sebagai “organisasi teroris” sejak tahun 2022. Stasiun televisi tersebut dituduh menyebarkan informasi menyesatkan dan mendorong kekerasan selama aksi protes anti-pemerintah berlangsung di negara tersebut.
Selain spionase media, para tersangka juga dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok bersenjata dan berupaya mengganggu ketertiban umum di tengah situasi perang yang tidak menentu.
Gelombang penangkapan ini terjadi di tengah konflik terbuka yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran sejak 28 Februari 2026. Serangan udara tersebut dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran telah memberikan respons dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah negara di kawasan Teluk, Yordania, dan Irak. Teheran menegaskan bahwa serangan balasan mereka menyasar aset militer Amerika Serikat, meskipun dampak serangan tersebut juga mengenai infrastruktur sipil serta mengguncang pasar global dan sektor penerbangan internasional.
Situasi keamanan di Iran saat ini dilaporkan masih dalam status siaga tinggi, seiring dengan tindakan tegas otoritas setempat terhadap pihak-pihak yang dianggap membocorkan rahasia negara kepada pihak musuh.
Sumber: Anadolu Agency
KRONOLOGI: Menelusuri Akar Eskalasi Besar Iran, Amerika Serikat, dan Israel 2026
Dunia saat ini sedang menaruh perhatian penuh pada wilayah Timur Tengah. Eskalasi yang terjadi sejak akhir Februari 2026 bukan sekadar ketegangan biasa, melainkan salah satu konflik militer terbesar dalam dekade ini.
Untuk membantu Anda memahami situasi secara utuh, berikut adalah urutan peristiwa penting yang memicu krisis global saat ini:
1. Titik Picu: 28 Februari 2026
Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara gabungan berskala besar ke wilayah Iran. Serangan ini menyasar pusat-pusat komando dan infrastruktur militer strategis.
-
Dampak Utama: Otoritas Iran melaporkan sekitar 1.300 orang tewas, termasuk tokoh sentral Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini mengguncang peta politik Teheran secara instan.
2. Awal Maret 2026: Balasan Rudal dan Drone
Sebagai aksi retribusi atas kematian pemimpin mereka, Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal balistik.
-
Target: Serangan tidak hanya menyasar wilayah Israel, tetapi juga pangkalan militer AS di Irak, Yordania, dan negara-negara Teluk.
-
Dampak Global: Sektor penerbangan internasional mulai terganggu akibat penutupan wilayah udara ( airspace ) secara mendadak di beberapa negara.
3. Pertengahan Maret 2026: Krisis Selat Hormuz & Rupiah
Ketegangan bergeser ke jalur maritim vital, yakni Selat Hormuz. Kehadiran pasukan marinir AS di kawasan tersebut memicu kekhawatiran akan adanya serangan darat.
-
Ekonomi: Harga minyak mentah dunia melonjak, yang secara langsung memukul mata uang negara berkembang. Di Indonesia, Rupiah sempat menembus level Rp17.000 per dolar AS akibat ketidakpastian ini.
4. 15-16 Maret 2026: Perang Intelijen & Penangkapan Massal
Di dalam negeri Iran, otoritas mulai melakukan pembersihan internal. Sedikitnya 500 orang ditangkap atas tuduhan spionase (mata-mata), karena diduga membocorkan titik koordinat target serangan kepada media internasional dan pihak musuh.
Mengapa Konflik Ini Berbeda?
Berbeda dengan ketegangan tahun-tahun sebelumnya, konflik 2026 ini melibatkan konfrontasi langsung terhadap simbol kekuasaan tertinggi di Iran dan penggunaan teknologi militer terbaru yang berdampak sangat cepat terhadap pasar finansial global.

