Sabtu, 6 Desember, 2025
spot_img
More

    Berita Terkini

    Kisah Rukiyah di Nanga-Nanga Diabadikan Magdalena Sitorus dalam Buku Baru

    JAKARTA, PARLE.CO.ID — Suara-suara perempuan penyintas 1965 kembali mendapat ruang lewat peluncuran buku terbaru Magdalena Sitorus berjudul Otina dan Nanga-Nanga. Acara ini berlangsung dalam forum literasi Titik Temu #4 yang digelar Perkumpulan Alinea pada Minggu (14/9/2025) di Jakarta Selatan.

    Buku tersebut merekam kisah Rukiyah, seorang tahanan politik asal Sulawesi yang dibuang ke Nanga-Nanga pada masa Orde Baru. Magdalena, mantan komisioner Komnas Perempuan dan penulis buku, menegaskan karyanya diterbitkan secara independen, tanpa sokongan hibah atau penerbit besar.

    “Saya hanya ingin menjaga ingatan agar nama-nama kecil yang terhapus dari sejarah tetap terdengar,” ujar Magdalena.

    Inspirasi penulisan lahir dari perjumpaan dengan kelompok paduan suara Dialita, yang anggotanya merupakan perempuan-perempuan penyintas 1965. Namun, proses penulisan sempat terkendala karena keluarga Rukiyah menolak kisah itu dipublikasikan. Dukungan baru muncul setelah cucu Rukiyah mendorong agar pengalaman keluarganya tidak hilang ditelan waktu.

    Magdalena menekankan pentingnya buku ini sebagai pengingat generasi muda bahwa perempuan bukan sekadar korban, melainkan saksi sejarah. Riset dilakukan melalui literatur, wawancara daring, hingga perjalanan langsung ke Kendari. Di sana, ia menemukan bahwa Nanga-Nanga kini telah berubah menjadi permukiman padat, tetapi jejak luka sejarah masih terasa melalui konflik agraria dan ingatan warga.

    Forum literasi Alinea menghadirkan tiga penulis inti—Stebby Julionatan, Debra H. Yatim, dan Danny I. Yatim—bersama empat anggota komunitas Alinea. Mereka mendalami isi buku yang menjadi bagian keenam dari seri Perempuan Penyintas 65.

    Magdalena sebelumnya menulis Onak dan Tari di Bukit Duri serta Jiwa-jiwa yang Bermartabat. Dengan karya terbaru ini, ia kembali meneguhkan komitmen untuk menyuarakan pengalaman perempuan yang sering dipinggirkan.

    Pertemuan ditutup dengan pengumuman agenda Alinea berikutnya: peluncuran buku Danny I. Yatim yang akan digelar di sebuah kafe Jakarta Selatan. Menurut Stebby Julionatan, pemilihan ruang alternatif ini bertujuan merawat ingatan kolektif sekaligus mendorong lahirnya kreativitas baru.

    “Harapan saya, Otina dan Nanga-Nanga tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Saya ingin buku ini dibaca anak-anak SMA agar mereka lebih peka terhadap masa lalu bangsa,” kata Stebby.

    Bagi Alinea, Titik Temu bukan sekadar forum literasi, tetapi ruang perjumpaan lintas generasi yang menyalakan percakapan antara sejarah, sastra, dan pengalaman hidup para penyintas. ***

    Berita Terkini

    spot_imgspot_img

    Jangan Terlewatkan

    Tetap Terhubung

    Untuk mendapatkan informasi terkini tentang berita, penawaran, dan pengumuman khusus