BerandaPeristiwaWacana Rumah Subsidi 18 m² Dikritik, Ferry Salanto:: Tak Layak untuk Hidup...

Wacana Rumah Subsidi 18 m² Dikritik, Ferry Salanto:: Tak Layak untuk Hidup Sehat dan Bermartabat!

Published on

spot_img

JAKARTA, PARLE.CO.ID — Pemerintah tengah menggodok wacana penyusutan standar minimum rumah subsidi menjadi hanya 18 meter persegi. Namun, rencana ini memicu kekhawatiran dari berbagai kalangan, termasuk praktisi properti yang menilai kebijakan tersebut tidak manusiawi dan berpotensi mengorbankan kesehatan fisik serta mental penghuni.

Ferry Salanto, Senior Associate Director di Colliers Indonesia, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (9/7/2025) menegaskan bahwa hunian seluas 18 meter persegi jauh dari kata layak.

“Hunian hanya 18 meter, kebayang nggak sih dari sisi kesehatan dan kesehatan mental juga? Menurut kami, ini bukan solusi tepat untuk masyarakat yang ingin memiliki rumah,” ujarnya.

Ia menyarankan agar pemerintah tetap mengacu pada regulasi yang sudah ada. Berdasarkan Keputusan Menteri PUPR Nomor 689/KPTS/M/2023, ukuran minimum rumah subsidi yang ideal adalah 21 meter persegi dengan luas tanah minimal 60 meter persegi.

Alih-alih memangkas luasan bangunan, Ferry menekankan pentingnya pembenahan skema pembiayaan rumah subsidi. “Pemerintah sebaiknya fokus memperbaiki aspek pembiayaan dan memberikan insentif kepada pengembang agar tidak terbebani oleh biaya-biaya yang tidak perlu,” kata Ferry.

Mengenai harga ideal rumah subsidi, Ferry tak memberikan angka pasti. Namun, ia mengingatkan bahwa acuan yang relevan bisa diambil dari prinsip perbankan, yakni alokasi maksimal 30 persen dari pendapatan bulanan untuk angsuran rumah. “Sisanya untuk kebutuhan hidup dan tabungan. Ini sudah menjadi konsensus di sektor keuangan,” jelasnya.

Wacana penyusutan ukuran rumah subsidi ini menambah deretan polemik terkait akses hunian layak di tengah keterbatasan lahan dan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah diminta cermat agar tidak melahirkan kebijakan yang justru menciptakan ketimpangan sosial baru. ***

Media kami tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Jika Anda merasa analisis kebijakan di artikel ini bermanfaat, bantu kami tetap independen dengan berdonasi mulai dari Rp10.000.

Latest articles

Fahri Hamzah: Parliamentary Threshold 5 Persen, Kompromi Politik demi Kekuasaan

Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, menantang partai-partai besar yang...

Soliditas KWP Jadi Pesan Utama Ariawan untuk Kepengurusan 2026-2028

Menjaga soliditas internal dan memperkuat hubungan profesional dengan lembaga MPR, DPR dan DPD RI,...

Habib Aboe Minta Kapolri Suyudi Perkuat Polri Humanis dan Dekat dengan Masyarakat

Penguatan pendekatan humanis dan pelayanan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, menjadi salah satu harapan...

Komisi III DPR Soroti Arogansi Oknum Polisi Saat Temui Kapolri Suyudi

Komisi III DPR RI meminta Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto membenahi perilaku oknum...

More like this

Fahri Hamzah: Parliamentary Threshold 5 Persen, Kompromi Politik demi Kekuasaan

Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, menantang partai-partai besar yang...

Soliditas KWP Jadi Pesan Utama Ariawan untuk Kepengurusan 2026-2028

Menjaga soliditas internal dan memperkuat hubungan profesional dengan lembaga MPR, DPR dan DPD RI,...

Habib Aboe Minta Kapolri Suyudi Perkuat Polri Humanis dan Dekat dengan Masyarakat

Penguatan pendekatan humanis dan pelayanan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, menjadi salah satu harapan...