JAKARTA, PARLE.CO.ID – Industri tekstil Indonesia berada di ambang krisis besar, seiring dengan rencana lebih dari selusin produsen besar untuk merelokasi operasinya dari Vietnam. Hal ini memicu kekhawatiran akan penutupan pabrik dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, demikian peringatan dari para pemimpin industri pada Rabu.
“Jika relokasi ini terjadi dalam skala besar, dampaknya bisa menghancurkan pabrik-pabrik lokal… PHK massal di seluruh industri ini tak bisa dihindari,” kata Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Indonesia (Ginsi), Subandi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (5/3/2025).
Sritex Mengalami Gagal Bayar Utang pada 2021
Peringatan ini muncul di tengah gejolak finansial PT Sri Rejeki Isman (Sritex), yang dulunya merupakan perusahaan tekstil terbesar di Indonesia. Sritex mengalami gagal bayar utang pada 2021, menyebabkan perusahaan yang berbasis di Sukoharjo, Jawa Tengah, itu harus mengurangi produksi dan menutup beberapa fasilitasnya.
Melanjutkan pernyataannya, menurut Subandi, kelompok industri khawatir bahwa kedatangan para pesaing asing justru akan semakin memperburuk kondisi produsen lokal yang sudah berjuang bertahan.
PHK Massal Akan Tak Terhindarkan
“Kami tidak tahu berapa banyak pekerja yang akan dibawa perusahaan-perusahaan ini dari negara asal mereka. Jika terlalu banyak pekerja asing yang direkrut, lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal akan semakin sedikit, dan PHK massal akan tak terhindarkan,” tambahnya lagi.
Untuk itu, Ginsi mendesak pemerintah untuk turun tangan dan memperkuat industri domestik, bukan justru menjadikan Indonesia sebagai pusat relokasi bagi perusahaan asing.
“Jika pabrik-pabrik kita kekurangan modal untuk melakukan modernisasi, pemerintah harus turun tangan dan memberikan dukungan,” tegas Subandi memperingatkan bahwa tanpa intervensi, sektor tekstil Indonesia bisa mengalami kemunduran berkepanjangan.
Pindahkan Operasinya
Terpisah, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengonfirmasi pekan lalu bahwa 10 hingga 15 perusahaan tekstil besar berencana memindahkan operasinya ke Indonesia, dengan rencana pembangunan fasilitas di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. *

