Eddy Soeparno Ajak Unair Berperan Aktif dalam Kebijakan Berbasis Ilmiah dan Inovasi Lingkungan
SURABAYA, PARLE.CO.ID — Pimpinan MPR Fraksi PAN Eddy Soeparno kembali melanjutkan agenda MPR Goes to Campus dengan mengunjungi Universitas Airlangga (Unair). Kedatangan Eddy disambut hangat oleh Rektor Unair, Mohammad Nasih, beserta jajaran pimpinan universitas. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya MPR untuk melibatkan kampus dalam perumusan kebijakan publik, khususnya terkait transisi energi dan penanganan dampak perubahan iklim.
Tema Relevan dengan Kondisi Global
Nasih menyampaikan apresiasi terhadap tema yang diangkat dalam acara ini, yaitu urgensi transisi energi dan pencegahan dampak perubahan iklim. Menurutnya, tema ini sangat relevan dengan kondisi global saat ini, di mana perubahan iklim semakin nyata dengan adanya banjir ekstrim dan cuaca panas berkepanjangan.
“Saya kira background Pak Eddy juga tepat dengan pengalaman dan pemahamannya tentang urgensi transisi energi. Isunya relevan di tengah kondisi iklim yang semakin memburuk,” ujar Prof. Nasih.
Rektor Unair juga mendukung komitmen Eddy Soeparno untuk melibatkan kampus dalam perumusan kebijakan berbasis ilmiah. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan akademisi sangat penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Kampus sebagai Basis Kebijakan Berbasis Riset
Dalam sambutannya, Eddy Soeparno menjelaskan bahwa tujuan MPR Goes to Campus adalah untuk mendapatkan masukan dari para Guru Besar, dosen, peneliti, dan civitas academica dalam merumuskan kebijakan, terutama terkait transisi menuju energi terbarukan.
“Sebelum ke Unair, kami sudah melaksanakan kegiatan serupa di UI, IPB, UGM, Undip, dan kampus lainnya. Saya percaya masukan dari universitas pasti berbasis pada riset, data, dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Eddy.
Eddy juga menekankan pentingnya peran kampus dalam mengatasi masalah sampah, yang saat ini tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga kesehatan dan sosial. Dari 56 juta ton sampah yang dihasilkan di Indonesia, hanya 40 persen yang terkelola. Sementara itu, anggaran pemerintah daerah untuk penanganan sampah rata-rata masih di bawah 1 persen.
Teknologi Waste to Energy sebagai Solusi
Eddy mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya yang telah menerapkan teknologi waste to energy di PLTSa Benowo. Menurutnya, inovasi semacam ini perlu didukung dan dikembangkan lebih luas.
“Kami di MPR siap berkolaborasi dengan kampus untuk menghasilkan teknologi, temuan, dan inovasi terbaru yang siap diaplikasikan di tengah masyarakat, khususnya dalam hal menyelamatkan lingkungan dan mempercepat transisi energi,” tutup Eddy, yang juga merupakan Anggota Komisi XII DPR RI yang membidangi Investasi, Hilirisasi, ESDM, dan Lingkungan Hidup. (P-01)

