Anggota DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) merayakan HUT ke-81 RI di acara Parle in Red, tegaskan pentingnya industri kreatif dan hiburan bagi ekonomi.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar yang juga Ketua MPR RI ke-15 serta Wakil Ketua Umum Koordinator Polhukam KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dalam suasana kebersamaan melalui acara bertajuk “Parle in Red” di Parle Senayan, Jakarta, Sabtu malam (22/8/2026).
Acara tersebut dimeriahkan oleh deretan DJ senior era 90-an seperti DJ Riri, DJ Yasmin, dan DJ Tiara. Tampil mengenakan busana bernuansa merah dan putih sebagai simbol keberanian serta semangat kebangsaan, Bamsoet menilai bahwa momentum perayaan kemerdekaan sepatutnya menjadi sarana bagi masyarakat untuk menikmati hasil perjuangan para pendiri bangsa sekaligus merawat rasa persatuan.
“Kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, merayakannya dengan gembira, berkumpul, tertawa, dan menikmati kebersamaan seperti dalam ‘Parle in Red’ juga merupakan bagian dari rasa syukur kita. Perayaan kemerdekaan tidak hanya sekadar upacara dan seremoni, tetapi harus terasa dalam kehidupan sehari-hari melalui kesempatan berkarya, bekerja, berusaha, dan berkreativitas,” ujar Bamsoet usai menghadiri acara di Parle Senayan, Jakarta.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan bahwa ruang publik dan tempat hiburan seperti Parle Senayan menyediakan wadah interaksi yang cair dan terbuka. Kolaborasi elemen musik, kuliner, komunitas, dan seni mampu menjadi jembatan pemersatu masyarakat dari beragam latar belakang.
Hal ini dinilai sejalan dengan posisi Jakarta yang terus melaju sebagai pusat bisnis, pariwisata, dan industri kreatif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan II-2026 mencapai 5,52 persen secara tahunan (year-on-year), dengan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh pesat sebesar 9,52 persen. Konsumsi rumah tangga pun mendominasi struktur pengeluaran Jakarta dengan kontribusi hingga 63,24 persen.
“Kita perlu melihat tempat-tempat seperti Parle Senayan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Ketika orang datang menikmati musik, makan, bertemu komunitas, dan berinteraksi, di situ terjadi perputaran ekonomi. Ada pekerja, pelaku usaha, musisi, seniman, pekerja kreatif, pemasok makanan, hingga pelaku jasa yang ikut mendapatkan manfaat. Jadi, hiburan yang dikelola dengan baik juga memiliki dampak ekonomi yang nyata,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar serta Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, industri hiburan memicu efek pengganda (multiplier effect) yang luas. Satu pertunjukan musik mampu menggerakkan mata rantai ekonomi mulai dari musisi, pekerja panggung, tata suara, pencahayaan, dokumentasi, transportasi, hingga jasa kuliner dan promosi digital.
Oleh karena itu, Bamsoet mengimbau pemerintah dan sektor swasta untuk terus membuka ruang apresiasi yang lebih luas bagi tumbuh kembangnya sektor kreatif sebagai wadah produktif pemuda.
“Musik, film, kuliner, desain, fesyen, olahraga, otomotif, hingga konten digital adalah industri yang memiliki pasar dan menciptakan lapangan kerja. Anak-anak muda Indonesia punya kreativitas yang luar biasa. Tugas kita adalah menyediakan ekosistem yang memungkinkan kreativitas tersebut berubah menjadi karya, dan karya berubah menjadi nilai ekonomi,” pungkas Bamsoet.
Tajuk Analisis: Sinergi Kebangsaan dan Optimalisasi Multiplier Effect Industri Kreatif dalam Perekonomian Perkotaan
Perayaan kemerdekaan yang dikemas lewat kegiatan ekonomi kreatif dan seni hiburan membuktikan bahwa nilai-nilai kebangsaan dapat disemai secara inklusif sekaligus menggerakkan roda perekonomian riil.
Berikut tiga poin analisis utama:
1. Transformasi Perayaan Kemerdekaan Menjadi Aktivitas Ekonomis Produktif
Penyelenggaraan acara seperti “Parle in Red” memberikan dimensi baru dalam pemaknaan kemerdekaan. Perayaan tidak lagi terbatas pada prosesi formal, melainkan menjelmakan semangat kemerdekaan ke dalam ruang ekspresi kreatif yang membangkitkan konsumsi rumah tangga serta mendorong aktivitas ekonomi di sektor jasa, akomodasi, dan kuliner.
2. Peran Vital Industri Kreatif sebagai Penggerak Multiplier Effect
Efek berantai (multiplier effect) dari industri hiburan dan pertunjukan seni memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi. Integrasi antara pelaku seni, teknisi pertunjukan, rantai pasok makanan, hingga pemasar digital menunjukkan bahwa ekosistem hiburan yang tertata profesional merupakan salah satu pilar penopang pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif.
3. Urgensi Penguatan Ekosistem dan Regulasi Pendukung
Pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum Jakarta yang mencapai 9,52 persen harus diimbangi dengan kebijakan yang kondusif. Pemerintah daerah dan pelaku usaha perlu berkolaborasi menghadirkan kemudahan perizinan, perlindungan hak cipta/kekayaan intelektual, serta ketersediaan ruang publik yang aman dan nyaman agar potensi kreatif generasi muda dapat terus terkonversi menjadi nilai tambah ekonomi nasional. Sumber








