Defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 menjadi sorotan DPR. Kondisi tersebut dinilai harus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera memperkuat daya saing ekspor, mempercepat hilirisasi industri, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan gas (migas) agar kinerja perdagangan nasional kembali mencatatkan surplus secara berkelanjutan.
Anggota Komisi VI DPR RI, Christiany Eugenia Paruntu, mengatakan defisit perdagangan yang terjadi tidak boleh dipandang sebagai pelemahan menyeluruh sektor perdagangan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus sehingga fondasi ekspor nasional dinilai tetap kuat.
“Defisit ini perlu kita lihat secara objektif. Penyebab utamanya berasal dari tingginya defisit sektor migas, sementara sektor nonmigas masih mampu memberikan surplus. Artinya, tantangan terbesar yang harus dijawab adalah bagaimana memperkuat daya saing ekspor sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor energi,” kata Christiany, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu menjadikan kondisi tersebut sebagai momentum evaluasi untuk memperbaiki struktur perdagangan nasional. Salah satu langkah yang dinilai paling mendesak ialah mempercepat program hilirisasi sehingga ekspor Indonesia semakin didominasi produk bernilai tambah tinggi, bukan lagi bergantung pada komoditas mentah.
Christiany juga menilai perluasan pasar ekspor harus terus didorong. Diversifikasi negara tujuan ekspor dinilai penting agar pelaku usaha nasional tidak terlalu bergantung pada pasar-pasar tradisional yang saat ini menghadapi perlambatan ekonomi global.
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya meningkatkan daya saing industri nasional melalui efisiensi biaya logistik, penyederhanaan perizinan, peningkatan produktivitas, serta perluasan akses pembiayaan ekspor. Dukungan tersebut dinilai akan memperkuat daya saing pelaku usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk menembus pasar internasional.
“Langkah yang perlu terus digenjot adalah memperkuat hilirisasi, memperluas akses pasar ekspor, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta memberikan dukungan yang lebih kuat kepada eksportir nasional. Dengan demikian, produk Indonesia akan semakin kompetitif di pasar global dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” ujar Legislator dari Fraksi Partai Golkar itu.
Lebih lanjut, Christiany mengingatkan bahwa menjaga surplus neraca perdagangan tidak hanya bergantung pada peningkatan ekspor, tetapi juga pengelolaan impor yang lebih tepat sasaran. Menurutnya, impor yang bersifat produktif tetap diperlukan untuk mendukung industri, namun harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.
Ia menambahkan, penguatan ketahanan energi, peningkatan investasi pada sektor manufaktur berorientasi ekspor, serta pengembangan industri substitusi impor harus menjadi agenda prioritas pemerintah. Upaya tersebut diyakini mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor migas secara bertahap.
“Momentum ini harus menjadi bahan evaluasi agar Indonesia memiliki struktur perdagangan yang semakin kuat dan tangguh terhadap dinamika ekonomi global. Dengan memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan nilai tambah ekspor, dan mengurangi ketergantungan pada impor migas, saya optimistis neraca perdagangan Indonesia dapat kembali berada pada jalur surplus dan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Christiany.


