Menperin Agus Gumiwang pastikan impor LPG tak ganggu industri & rumah tangga meski ketergantungan impor capai 83,97%. Simak sumber pasokan terbaru dari AS.
JAKARTA, PARLE.CO.ID – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan jaminan bahwa kebijakan impor gas bumi cair atau Liquefied Petroleum Gas (LPG/elpiji) tidak akan mengganggu stabilitas sektor industri maupun kebutuhan rumah tangga nasional. Jaminan ini muncul di tengah tantangan tarif impor yang masih relatif tinggi serta beban anggaran negara.
Dikutip dari laporan Kompas.com, Kamis (9/4/2026), Menperin mengakui bahwa isu ketersediaan elpiji merupakan hal yang sangat sensitif karena bersentuhan langsung dengan produktivitas industri dan konsumsi harian masyarakat.
“Itu sangat sensitif, baik untuk industri maupun rumah tangga. Insya Allah tidak akan ada masalah,” ujar Agus Gumiwang di Menara Kompas, Jakarta.
Hingga April 2026, data menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap impor elpiji masih sangat tinggi, yakni mencapai 83,97 persen dari total kebutuhan nasional. Dengan rata-rata konsumsi harian sekitar 26.000 ton, produksi dalam negeri saat ini dinilai belum mampu menutup celah kebutuhan tersebut.
Untuk menjaga stabilitas, pemerintah mulai melakukan diversifikasi sumber impor. Menariknya, pasokan LPG Indonesia kini lebih banyak bersumber dari Amerika Serikat dengan porsi mencapai 70 hingga 75 persen. Sementara itu, sekitar 20 persen dipasok dari kawasan Timur Tengah, dan sisanya berasal dari negara lain seperti Australia.
Terkait adanya laporan kelangkaan elpiji 3 kilogram di beberapa daerah, seperti di Desa Tuwiriwetan, Kabupaten Tuban, yang memicu kenaikan harga hingga Rp30.000 per tabung, pemerintah memastikan kondisi tersebut telah tertangani.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan langsung di lapangan.
“Memang kemarin saya baru cek itu di Jatim, di kabupaten kalau tidak salah Tuban, ada 2 atau 3 kabupaten. Tapi sudah clear. Kita lakukan operasi pasar,” tegas Bahlil di Istana Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Analisis Redaksi Parle.co.id: Angka Impor
Pernyataan optimistis Menperin Agus Gumiwang di tengah angka impor yang menembus 83,97 persen menunjukkan bahwa pemerintah sedang bermain di “wilayah sempit” kebijakan energi. Analisis kami melihat ada perubahan geopolitik energi yang signifikan di mana Indonesia kini sangat bergantung pada pasokan dari Amerika Serikat ketimbang Timur Tengah.
Ketergantungan 70-75 persen pada satu negara (AS) memiliki risiko ganda. Di satu sisi, diversifikasi ini menjauhkan risiko gangguan dari konflik di Timur Tengah. Namun di sisi lain, fluktuasi tarif dan biaya logistik dari AS yang jauh secara geografis berpotensi memberikan tekanan pada subsidi energi dan biaya operasional industri manufaktur domestik.
Kelangkaan di Tuban yang memaksa harga naik hingga Rp30.000 juga menjadi alarm bahwa jalur distribusi di tingkat akar rumput masih rentan terhadap spekulasi atau kendala logistik lokal. Jika produksi dalam negeri tidak segera ditingkatkan melalui akselerasi gasifikasi batubara atau pemanfaatan gas alam domestik lainnya, maka kerentanan ekonomi nasional terhadap harga global akan tetap menjadi “bom waktu” bagi industri dan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). ****

