Bamsoet Dukung Film Bung Hatta, Bangkitkan Nasionalisme Lewat Layar Lebar

Bamsoet Dukung Film Bung Hatta, Bangkitkan Nasionalisme Lewat Layar Lebar

Ajak Generasi Muda Mengenal Pahlawan Lewat Sinema, Bamsoet Tegaskan Pentingnya Menghidupkan Kembali Narasi Kebangsaan

Sambut Kehadiran IKPNI, Bamsoet Nyatakan Dukungan untuk Film Sejarah

JAKARTA, PARLE.CO.ID – Ketua MPR  ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, mendukung penuh rencana pembuatan film nasional yang mengangkat sosok Bung Hatta dan Jenderal Soedirman. Dukungan ini disampaikan saat menerima audiensi dari Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) di Jakarta, Minggu (20/7/2025). Bamsoet menilai film sejarah adalah medium strategis dalam memperkuat identitas nasional dan membangkitkan semangat kebangsaan generasi muda.

“Indonesia membutuhkan lebih banyak film sejarah yang mampu menghidupkan kembali memori kolektif bangsa, khususnya di kalangan anak muda yang semakin jauh dari akar identitas nasional,” ujar Bamsoet.

Film Sebagai Alat Edukasi dan Rejuvenasi Nilai Bangsa

Bamsoet menekankan bahwa film tidak sekadar sarana hiburan, tetapi juga medium edukatif yang mampu memperkenalkan kembali nilai-nilai perjuangan dan pemikiran para pahlawan. Dalam konteks ini, Bung Hatta dinilai sebagai figur negarawan visioner yang layak dikisahkan lebih luas.

“Bung Hatta bukan hanya proklamator, tapi juga ekonom kerakyatan, demokrat sejati, dan tokoh moral bangsa. Kehidupan sederhananya meski menjabat sebagai Wakil Presiden pertama, menjadi pelajaran penting di tengah zaman yang penuh glamor kekuasaan,” tegas Bamsoet.

Pemikiran Bung Hatta Relevan untuk Generasi Alfa dan Z

Menurut Bamsoet, pemikiran Bung Hatta tentang demokrasi, keadilan sosial, dan ekonomi berbasis kerakyatan tetap relevan dalam konteks kekinian. Karena itu, penting untuk membawakan kisahnya dalam media populer yang akrab dengan generasi muda, yakni film nasional.

“Nilai-nilai perjuangan Bung Hatta perlu dikontekstualisasikan untuk menjawab tantangan masa kini—dari kesenjangan sosial, korupsi, hingga ketimpangan pendidikan,” ujar Bamsoet.

Kekhawatiran atas Jarak Generasi Muda dengan Sejarah Bangsa

Dalam kesempatan itu, Bamsoet juga mengutip data Litbang Kompas 2023 yang menunjukkan keprihatinan: hanya 34% responden usia 17–25 tahun yang mampu menyebut lima pahlawan nasional beserta kontribusinya secara tepat. Sementara 60% lebih mengaku lebih mengenal tokoh-tokoh populer luar negeri dari media sosial.

“Ini alarm bagi kita semua. Jika generasi muda tidak mengenal para pendiri bangsanya, bagaimana mereka bisa memahami nilai-nilai kebangsaan secara utuh?” tegasnya.

Dihadiri Tokoh Keturunan Pahlawan Nasional

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh keturunan pahlawan nasional, antara lain:

  • Meutia Hatta (Puteri Bung Hatta)

  • Antarini Malik (Puteri Adam Malik)

  • Ganang P. Soedirman (Cucu Jenderal Soedirman)

  • Melani Leimena Suharli (Puteri J. Leimena)

  • Indah HA Soedadi (Cicit Wahidin Sudirohusodo)

  • Roy R. Yamin (Cucu M. Yamin)

  • Margareth E. Lukas (Keponakan Laksda John Lie)

  • Widowati Soedjoko (Cucu GSSJ Ratulangi)

Mereka menyampaikan aspirasi dan harapan agar sejarah perjuangan para pahlawan dapat terus hidup dan memberi inspirasi melalui media sinematik.

Perjuangan Masa Kini: Dari Layar ke Aksi Nyata

Menutup pernyataannya, Bamsoet menegaskan bahwa mengenang pahlawan bukan berarti terjebak masa lalu, melainkan menggali semangat perjuangan untuk dihidupkan dalam bentuk yang kontekstual.

“Melawan ketidakadilan, menolak korupsi, memperjuangkan pendidikan merata, hingga membela hak-hak minoritas adalah bentuk perjuangan kekinian. Dan semuanya berakar dari semangat para pahlawan,” pungkas Bamsoet. (P-01)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *