Ketidakpastian global picu lonjakan harga minyak, inflasi, dan tekanan nilai tukar rupiah — Bambang Soesatyo dorong strategi nasional dan kepemimpinan Indonesia dalam diplomasi dunia Islam
Harga Minyak Naik Tajam, Rupiah Melemah, Inflasi Meningkat
JAKARTA, PARLE.CO.ID — Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus anggota DPR RI, Bambang Soesatyo, memperingatkan dampak nyata dari konflik antara Israel dan Iran terhadap perekonomian Indonesia. Meskipun secara geografis jauh dari pusat konflik, Indonesia tidak kebal terhadap dampak global yang timbul, terutama dalam sektor energi, nilai tukar, inflasi, dan potensi pelemahan pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam Diskusi bertajuk “Dampak Konflik Israel-Iran Terhadap Indonesia: Tantangan, Peluang, dan Strategi Menghadapi Dinamika Global” yang berlangsung di Parle Senayan Jakarta (10/7/2025), Bamsoet menjelaskan bahwa eskalasi konflik tersebut merupakan bagian dari ketegangan multipolar dunia, yang selama ini hanya dikekang melalui diplomasi parsial dan perang proksi.
“Kalau eskalasi terus berlanjut, harga minyak mentah bisa menembus USD 150 per barel. Ini akan menekan APBN karena kenaikan beban subsidi dan depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya utang luar negeri kita,” ungkap Ketua MPR ke-15 dan mantan Ketua DPR ke-20 ini.
Bamsoet menegaskan bahwa lonjakan harga minyak global secara langsung memengaruhi beban fiskal Indonesia yang masih menjadi negara pengimpor minyak. Efek lanjutannya, menurut Bamsoet, adalah menurunnya daya beli masyarakat, lonjakan inflasi, serta ancaman terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Tekanan Ekonomi: Rupiah Melemah, IHSG Terkoreksi, Inflasi Naik
Lebih lanjut, Bamsoet memaparkan gejala tekanan ekonomi yang kini tengah dihadapi Indonesia. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 16.200 per USD pada akhir Juni 2025. Kondisi ini diperparah oleh arus modal keluar (capital outflow) yang menyebabkan koreksi tajam di Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok ke bawah 6.500, memicu kekhawatiran akan resesi teknikal.
Sementara itu, data BPS menunjukkan inflasi tahunan per Juni 2025 mencapai 4,2%, meningkat dari 3,5% bulan sebelumnya. Kenaikan harga BBM non-subsidi yang terjadi dua kali dalam sebulan terakhir juga turut mendorong lonjakan harga bahan pokok antara 8% hingga 15%.
“Masyarakat kecil jelas paling terdampak. Kenaikan harga pangan dan energi merupakan pukulan langsung terhadap daya beli mereka,” ujar Bamsoet.
Seruan Bamsoet: Perkuat Strategi Nasional, Ambil Peran Diplomasi Global
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Bamsoet mengajak seluruh komponen bangsa untuk tetap optimis dan kompak. Ia menyampaikan keyakinan bahwa Presiden terpilih Prabowo Subianto dan kabinetnya mampu mengelola dampak konflik dengan kebijakan strategis dan langkah mitigasi yang tepat.
Namun, Bamsoet juga menekankan bahwa krisis ini sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk tampil di panggung internasional. Dengan latar belakang sebagai negara demokrasi terbesar dan berpenduduk mayoritas Muslim moderat, Indonesia memiliki modal moral dan politik untuk menjadi penengah dunia Islam.
“Indonesia dapat memimpin diplomasi kemanusiaan, mendorong pembentukan contact group independen, dan memperkuat kerja sama melalui ASEAN, OKI, dan G20,” ucap Bamsoet.
Menurutnya, figur penengah di tataran global saat ini sedang kosong. Amerika Serikat cenderung berpihak pada Israel, sementara Rusia dan Tiongkok sibuk memperkuat aliansi baru bersama Iran. Dalam situasi inilah, Indonesia berpotensi menjadi jangkar moral dan penyeimbang.
Kolaborasi Strategis dan Peran Intelektual Nasional
Diskusi yang digelar oleh Group Diskusi Patiunus 75 dan Teropong Senayan ini turut menghadirkan tokoh-tokoh nasional dari berbagai latar belakang, antara lain Mayjen TNI Fritz G.M. Pasaribu, Laksamana TNI (Purn) Marsetio, Syahganda Nainggolan, Dina Sulaeman, Pahala Mansury, Bachtiar Aly, Didin S. Damanhuri, Hariman Siregar, Bursah Zarnubi, M.S. Kaban, hingga Said Didu. Para Guru Besar dari UI, Unpad, UNHAN, UNJ, dan UIN juga ikut memberi pandangan kritis atas kondisi geopolitik dan implikasinya bagi Indonesia.
Kehadiran berbagai kalangan akademisi, tokoh militer, ekonom, dan intelektual tersebut menjadi sinyal kuat bahwa bangsa ini memiliki kapasitas kolektif untuk membaca ancaman dan menyusun respons nasional secara matang. (P-01)

