Gelombang panas ekstrem yang menyapu Eropa mulai menunjukkan dampak paling mematikannya. Di Prancis, lonjakan suhu yang memecahkan rekor dalam sepekan terakhir diperkirakan telah menyebabkan sekitar 1.000 kematian berlebih, sementara tekanan terhadap sistem kesehatan terus meningkat meski cuaca mulai berangsur mereda.
Data yang dirilis Santé Publique France pada Minggu (28/6/2026) menunjukkan angka kematian harian melonjak hingga lebih dari 1.400 kasus pada Kamis dan Jumat. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding rata-rata 900 hingga 1.000 kematian per hari yang tercatat selama April dan Mei.
Otoritas kesehatan Prancis menegaskan jumlah tersebut masih bersifat sementara karena dihitung berdasarkan sertifikat kematian digital yang baru mencakup sekitar 60 persen dari seluruh laporan kematian nasional. Dengan kata lain, total korban diperkirakan masih dapat bertambah setelah seluruh data masuk.
Sejak Rabu, sekitar 85 persen korban meninggal merupakan warga berusia 65 tahun ke atas. Kelompok lansia menjadi yang paling rentan menghadapi suhu ekstrem, terutama mereka yang memiliki penyakit kronis dan tinggal sendiri tanpa dukungan keluarga.
Gelombang panas yang melanda Eropa Barat selama lebih dari sepekan tidak hanya meningkatkan angka kematian, tetapi juga mengganggu berbagai sektor penting. Layanan kesehatan kewalahan menghadapi lonjakan pasien, sementara transportasi, produksi pangan, hingga sektor energi ikut terdampak akibat cuaca ekstrem.
Menteri Kesehatan Prancis Stéphanie Rist mengatakan dampak kesehatan akibat suhu tinggi tidak berhenti ketika cuaca mulai membaik. Menurutnya, efek paparan panas dapat berlangsung selama beberapa pekan, khususnya bagi penderita penyakit kronis maupun kelompok rentan lainnya.
“Panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir membawa dampak yang muncul belakangan, terutama bagi kelompok rentan, tetapi juga sebagian kalangan muda,” ujar Rist dalam wawancara dengan La Tribune Dimanche.
Sebagai langkah darurat, pemerintah Prancis menggelontorkan dana sebesar 100 juta euro untuk membeli pendingin ruangan, kipas angin, dan berbagai perlengkapan tambahan bagi rumah sakit. Otoritas kesehatan juga melaporkan peningkatan signifikan jumlah warga yang meninggal di rumah, terutama di wilayah Paris, seraya mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan lansia dan warga yang hidup sendirian.
Sementara itu, pusat gelombang panas kini bergeser ke Eropa Tengah dan Selatan. Italia diperkirakan menghadapi puncak cuaca ekstrem pada Minggu, dengan 18 kota, termasuk Roma dan Milan, berada dalam status peringatan merah atau level tertinggi. Pemerintah meminta masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan antara pukul 11.00 hingga 18.00 waktu setempat.
Sejumlah kegiatan publik di Italia juga terpaksa dibatalkan atau dijadwal ulang. Konser penyanyi pop Loredana Bertè dibatalkan, sedangkan Parade Pride Milan diundur hingga sore hari untuk menghindari suhu yang paling tinggi.
Di Jerman, gelombang panas turut mengganggu mobilitas masyarakat. Operator kereta api Deutsche Bahn mengimbau warga menunda perjalanan yang tidak mendesak setelah negara itu mencatat suhu minimum malam hari tertinggi dalam sejarah, yakni mencapai 29,4 derajat Celcius.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa gelombang panas di Eropa bukan lagi sekadar fenomena cuaca musiman, melainkan ancaman kesehatan masyarakat yang semakin nyata. Para ahli memperingatkan perubahan iklim berpotensi membuat kejadian serupa menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih mematikan pada tahun-tahun mendatang.
