BerandaOpiniFilsafat Modern dan Sindrom Hiper Intelektualisme

Filsafat Modern dan Sindrom Hiper Intelektualisme

Published on

spot_img

Oleh: Agus Widjajanto*

KEBENARAN yang berbasis Kebijaksanaan, merupakan tujuan dari ilmu filsafat yang telah berlangsung ribuan tahun, lambat laun dalam dunia modern telah bergeser, dimana tengah mengarah kepada kebenaran yang hanya berbasis Ilmu pengetahuan yang didasari atas olah pikir dan daya nalar berdasarkan basis intelektualitas.

Fenomena saat ini yang oleh para ahli disebut Hiper Intelektualitas, adalah suatu penyakit pikiran yang sangat abstrak dan terpisah dari perasaan dan budi kita sebagai manusia yang diciptakan Tuhan, sesuai takdirnya sebagai Khalifah di muka bumi. Proses mental yang sadar dan logis, mengabaikan proses emosi yang instingtual dan spontan. Padahal keseimbangan antara pikiran dan perasaan, antara akal dan budi, sangat baik bagi kesehatan baik secara mental maupun spiritual. Mirisnya, filsafat modern kerap justru mengabaikan perasaan dan lebih fokus kepada Intelektualitas.

Filsafat sendiri, menurut pendapat para ahli dan filsuf berbeda beda, tergantung dari perspektif masing masing tokoh. Immanuel Kant berpendapat filsafat adalah dasar dari seluruh ilmu pengetahuan yang meliputi epistemologi dan menjawab hal hal yang tidak diketahui. Sedang Aristoteles seorang pemikir dan filsuf Yunani kuno berpendapat: Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, logika, fisika, metafisika, dan pengetahuan praktis. Artinya filsafat bukan lah ilmu yang bersifat abstrak semata, akan tetapi meliputi berbagai dimensi keilmuan dimana filsafat adalah ibu dari seluruh ilmu pengetahuan. Termasuk yang bersifat metafisika, yang tidak bisa dijangkau dengan akal.

Sedangkan menurut pemikir dari timur seorang intelektual dunia Islam paming ternama yakni Al Farabi: filsafat adalah ilmu tentang hakekat dari suatu kebenaran dan merupakan ilmu umum yang menggambarkan semesta alam, secara menyeluruh. Demikian juga pendapat dari Plato: Bahwa Filsafat adalah ilmu pengetahuan. Tentang hakekat yang berusaha untuk mengenali kebenaran yang hakiki. Tokoh dunia Islam lainya adalah Ibnu Sina yang berpendapat bahwa: Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakekat yang sebenarnya. Sedangkan tokoh filsafat dari Indonesia yakni W.J.S. Purwadarminta berpendapat: Filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal Budi mengenai sebab sebab, asasi asasi hukum, dan sebagainya.

Sedangkan hubungan antara filsafat dan agama, menurut pemikiran Ibnu Rusyd, beliau meyskinkan bahwa antara filsafat dan agama merupakan hal yang saling berkaitan, filsafat sendiri berusaha untuk mengungkap suatu kebenaran, demikian pula agama yaitu berusaha untuk mengungkapkan suatu kebenaran sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan atau saling berkaitan.

Sedangkan Al Faraby menganggap bahwa baik bagian teoritis maupun praktis dari agama adalah bagian dari khazanah filsafat .seperti halnya bagian teoritis dari agama dapat di demontrasikan pada bagian teoritis dari filsafat, demikian pula bagian praktis dari agama dapat didemintrasikan pada bagian praktis dari filsafat.

Secara umum perbedaan antara filsafat dan agama adalah, filsafat dianggap sesuatu pemikiran yang sangat bebas karena brrpikir tanpa batasan, sedangkan agama lebih mengedepankan pada Wahyu Tuhan dari dzat yang dianggap Penguasa alam semesta, yang mana perspektif agama adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat ditolak.

Filsafat modern yang berbasis kepada akal yang disebut fenomena terkini dengan filsafat hiper Intelektual, yang tidak lagi berbasis kepada perasaan dan akal budi filosof nya, yang hanya terfokus kepada akal dan penalaran, maka akan menemukan sebuah penemuan filsafat yakni sebuah kebenaran yang semu dan kering yang tidak lagi dilandasi akan kebenaran hakekat, yang hanya bermuara kebenaran tanpa ruh, yang bersifat abstrak, hal itu akibat dari pada ketika manusia menemukan dirinya semakin terbenam dengan intelektualitas, maka akan menemukan dirinya semakin terputus dari pada emosi dan perasaan kita.

Padahal seorang filsuf sejati disamping dituntut untuk olah akal, juga harus mampu melakukan olah rasa dan olah karsa, untuk menemukan kebenaran yang hakiki sebagai bagian dari hamba dan alam semesta ini sebagai suatu Sunatullah. Semakin terputusnya akal dengan hati Budi dan perasaan Maka akan semakin jauh diri kita dari pada sifat kebenaran yang merupakan fondamental dari seorang filsuf dan dasar dari pada filsafat itu sendiri dalam menemukan sebuah kebenaran yang sejati.

Dalam Alquranul Kharim sendiri dalam surat Al A’Raf ayat 179, dijelaskan hubungan antara akal dan hati dapat dilihat berdasarkan makna kata yafqahun dan kata qulub, makna kata yafqahun semakna dengan kata akal (ya’ qilun) yang mengandung makna memahami. Sedangkan melalui hati (Qulub) manusia dapat mengetahui hal hal yang tidak dapat dicerna oleh akal seperti hal nya sesuatu yang bersifat metafisis. Dimana pada ayat ini menunjukan bahwa adanya perpaduan antara hati (qalb) dengan akal (‘aql) dalam proses kerjanya dalam tubuh manusia.

Penulis sendiri berpendapat bahwa filsafat adalah sebuah upaya pencarian suatu kebenaran melalui akal, budi, hati dan seluruh pancaindra yang telah dimiliki untuk mendapatkan hakekat sebuah kebenaran. ***

* Penulis adalah
Praktisi hukum, dan pemerhati masalah politik sosial budaya dan sejarah bangsanya.

Media kami tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Jika Anda merasa analisis kebijakan di artikel ini bermanfaat, bantu kami tetap independen dengan berdonasi mulai dari Rp10.000.

Latest articles

DPR Dorong Kampus Jadi Mitra Diplomasi Indonesia, dari Etika AI hingga OECD

Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI mendorong perguruan tinggi terlibat lebih aktif dalam...

Fahri Hamzah: Parliamentary Threshold 5 Persen, Kompromi Politik demi Kekuasaan

Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, menantang partai-partai besar yang...

Soliditas KWP Jadi Pesan Utama Ariawan untuk Kepengurusan 2026-2028

Menjaga soliditas internal dan memperkuat hubungan profesional dengan lembaga MPR, DPR dan DPD RI,...

Habib Aboe Minta Kapolri Suyudi Perkuat Polri Humanis dan Dekat dengan Masyarakat

Penguatan pendekatan humanis dan pelayanan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, menjadi salah satu harapan...

More like this

DPR Dorong Kampus Jadi Mitra Diplomasi Indonesia, dari Etika AI hingga OECD

Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI mendorong perguruan tinggi terlibat lebih aktif dalam...

Fahri Hamzah: Parliamentary Threshold 5 Persen, Kompromi Politik demi Kekuasaan

Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, menantang partai-partai besar yang...

Soliditas KWP Jadi Pesan Utama Ariawan untuk Kepengurusan 2026-2028

Menjaga soliditas internal dan memperkuat hubungan profesional dengan lembaga MPR, DPR dan DPD RI,...