BerandaPeristiwaKekhawatiran Tarif dan Daya Beli Melemah, Penjualan Ritel AS Turun Dua Bulan...

Kekhawatiran Tarif dan Daya Beli Melemah, Penjualan Ritel AS Turun Dua Bulan Berturut

Published on

spot_img

WASHINGTON DC, PARLE.CO.ID — Penjualan ritel di Amerika Serikat kembali melemah pada Mei 2025, mencatat penurunan dua bulan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak akhir 2023. Data ini mengindikasikan tekanan yang meningkat pada rumah tangga AS di tengah ancaman tarif impor baru dan tingginya biaya hidup.

Departemen Perdagangan AS pada Selasa (17/6/2025) melaporkan nilai pembelian ritel—yang belum disesuaikan dengan inflasi—turun sebesar 0,9 persen pada Mei. Ini merupakan penurunan bulanan terbesar sejak awal tahun dan mengikuti koreksi negatif pada April sebesar 0,1 persen.

Dari 13 kategori dalam laporan tersebut, tujuh mengalami kontraksi. Sektor otomotif, bahan bangunan, dan bahan bakar mencatat penurunan paling dalam. Bahkan, pengeluaran di restoran dan bar—satu-satunya kategori jasa dalam laporan ini—merosot ke level terendah sejak awal 2023.

Konsumen sebelumnya sempat meningkatkan pembelian barang tahan lama seperti mobil dan elektronik untuk mengantisipasi lonjakan tarif yang diumumkan Presiden Donald Trump. Namun, dorongan konsumsi ini kini mulai luntur, seiring tekanan pada daya beli akibat tingginya suku bunga dan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Di sisi lain, penjualan ritel kelompok kontrol—indikator utama dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB)—masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,4 persen. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan belanja di kategori pakaian, furnitur, dan perlengkapan olahraga. Kelompok ini tidak mencakup penjualan mobil, makanan, bahan bangunan, dan bahan bakar.

Sebelum rilis data ini, proyeksi GDPNow dari Federal Reserve Atlanta memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal kedua mencapai 3,8 persen, naik dari kontraksi kuartal sebelumnya yang dipicu lonjakan impor menjelang pemberlakuan tarif.

Sementara itu, Federal Reserve masih menahan diri dalam menentukan arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Ketidakpastian atas rencana dagang Presiden Trump, terutama pasca pidato bertajuk “Hari Pembebasan” pada 2 April yang mengumumkan tarif sepihak secara besar-besaran, menjadi perhatian utama para pengambil kebijakan moneter. ***

Media kami tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Jika Anda merasa analisis kebijakan di artikel ini bermanfaat, bantu kami tetap independen dengan berdonasi mulai dari Rp10.000.

Latest articles

Koalisi Sipil Tolak Aparat Awasi Pajak: Negara Bukan Debt Collector !

Penolakan terhadap kebijakan Direktorat Jenderal Pajak yang melibatkan aparat TNI dan Polri dalam pengawasan...

Gaungkan Pesan Persatuan Indonesia: Dasco Pertemukan Hotman Paris dan Ketua Umum PWI, di Sebuah Rumah Makan

Di tengah mencuatnya polemik hukum yang melibatkan pengacara Hotman Paris Hutapea dan Persatuan Wartawan...

Pengganti Perry Warjiyo Harus Jaga Independensi BI dan Dorong Produktivitas Ekonomi

Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) membuka babak baru dalam...

Perry Warjiyo Mundur sebagai Gubernur BI, Akhiri Kepemimpinan yang Harusnya Berlangsung hingga 2028

Di saat perhatian publik masih tertuju pada arah kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi nasional,...

More like this

Koalisi Sipil Tolak Aparat Awasi Pajak: Negara Bukan Debt Collector !

Penolakan terhadap kebijakan Direktorat Jenderal Pajak yang melibatkan aparat TNI dan Polri dalam pengawasan...

Gaungkan Pesan Persatuan Indonesia: Dasco Pertemukan Hotman Paris dan Ketua Umum PWI, di Sebuah Rumah Makan

Di tengah mencuatnya polemik hukum yang melibatkan pengacara Hotman Paris Hutapea dan Persatuan Wartawan...

Pengganti Perry Warjiyo Harus Jaga Independensi BI dan Dorong Produktivitas Ekonomi

Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) membuka babak baru dalam...