Upaya Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mempercepat swasembada pangan melalui panen raya dan penanaman bawang putih secara serentak di sejumlah daerah mendapat apresiasi dari Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv Singh. Ia menilai, langkah tersebut dapat memperkuat basis produksi bawang putih nasional apabila diikuti dengan pendampingan dan kepastian pasar bagi petani.
A
presiasi itu disampaikan Rajiv setelah jajaran Polri menggelar panen raya sekaligus penanaman bawang putih di Sembalun, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (19/8/2026).
Rajiv menilai kegiatan tersebut menunjukkan respons cepat Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional, termasuk melalui upaya mencapai swasembada bawang putih.
“Saya mengapresiasi Kapolri Jenderal Listyo Sigit beserta seluruh jajaran Polda dan Polres yang bergerak cepat merespons cita-cita Presiden mewujudkan swasembada pangan, khususnya bawang putih,” ujar Rajiv dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Menurut Rajiv, nilai strategis program tersebut tidak hanya terletak pada luas lahan yang ditanami. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memperlihatkan kemampuan Polri menggerakkan kolaborasi dengan pemerintah daerah, kelompok tani, dan ribuan petani secara serentak di berbagai wilayah.
Ia mengatakan, swasembada pangan membutuhkan penguatan basis produksi secara berkelanjutan. Hal itu mencakup perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas petani, kesinambungan musim tanam, hingga dukungan rantai pasok dari sektor hulu sampai hilir.
“Dari Sembalun, kita melihat contoh konkret. Hari ini ada panen dari 105 hektare dengan potensi sekitar 1.050 ton, tetapi pada saat bersamaan juga dipersiapkan siklus produksi berikutnya melalui penanaman baru seluas 120 hektare,” kata Rajiv.
Bukan Sekadar Seremonial
Rajiv mengingatkan, program swasembada pangan tidak semestinya berhenti pada kegiatan panen atau penanaman yang bersifat seremonial. Menurut dia, kesinambungan produksi menjadi faktor penting untuk memastikan program tersebut memberikan dampak jangka panjang.
Berdasarkan informasi Divisi Humas Polri, panen di Sembalun tersebut juga dirangkaikan dengan penanaman bawang putih secara serentak di 14 wilayah Polda. Total luas lahan yang ditanami mencapai 279,53 hektare dengan potensi produksi hampir 2.800 ton bawang putih ketika memasuki masa panen.
Program tersebut melibatkan 2.174 petani yang tergabung dalam 110 kelompok tani.
Rajiv menilai keterlibatan petani menjadi aspek penting dalam pembangunan ketahanan pangan. Menurut dia, keberhasilan swasembada tidak hanya dapat diukur dari volume komoditas yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan memperkuat petani sebagai pelaku utama produksi pangan.
“Angka 2.174 petani yang terlibat dan potensi panen hampir 2.800 ton bawang putih harus kita lihat sebagai sesuatu yang sangat penting. Tujuan besar ketahanan pangan pada akhirnya bukan sekadar menghasilkan komoditas, tetapi juga memperkuat kapasitas petani sebagai pelaku utama produksi pangan nasional,” ujarnya.
Produktivitas dan Kepastian Pasar Jadi Tantangan
Ke depan, Rajiv berharap program tersebut tidak berhenti pada perluasan lahan. Ia mendorong adanya pendampingan budidaya, penggunaan benih berkualitas, peningkatan produktivitas, kepastian pasar setelah panen, pembangunan sarana penyimpanan, serta pengaturan kalender tanam yang menyesuaikan karakteristik masing-masing daerah.
Menurut dia, sejumlah aspek tersebut diperlukan agar peningkatan luas areal tanam benar-benar berujung pada peningkatan produksi secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, penguatan produksi dalam negeri diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengurangan ketergantungan Indonesia pada impor bawang putih.
“Saya berharap langkah yang telah dimulai Kapolri dan jajarannya tidak berhenti pada penanaman. Tantangan berikutnya adalah menjaga produktivitas, memastikan hasil panen terserap dengan baik, menjaga harga yang menguntungkan petani, dan membangun ekosistem bawang putih nasional dari hulu sampai hilir,” kata Rajiv.
Ia menegaskan konsistensi pengawalan program, perluasan keterlibatan petani, serta peningkatan produktivitas akan menjadi faktor penting dalam memperkuat basis produksi bawang putih nasional.
“Kalau konsistensi ini dapat dijaga, kontribusinya terhadap kemandirian pangan Indonesia akan semakin nyata,” tegas legislator dari daerah pemilihan Jawa Barat II itu.


